Breaking News

Sejarah Awal Berdirinya Dewan Kesenian Surabaya Oleh: Hamid Nabhan

   Awal dari sebuah perjalanan yang dimulai pada tahun 1971. Saat itu, sekelompok seniman Surabaya dikirim untuk tampil dalam pergelaran Drama 4 Kota di Jakarta dengan lakon berjudul Suara-suara Mati. Pengalaman ini membuka pandangan mereka, menyadarkan bahwa Surabaya juga membutuhkan wadah sendiri yang dapat menampung segala bentuk ekspresi seni. Melihat bagaimana seniman di ibu kota memiliki ruang berkarya yang terstruktur, tumbuhlah keinginan kuat untuk mewujudkan hal serupa di kota kelahiran mereka.

   Gagasan ini mendapatkan sambutan hangat dari Walikota Kolonel Sukotjo yang menjadi pencetus utama gagasan berdirinya wadah ini. Beliau menyampaikan prinsip yang akan menjadi dasar berdirinya lembaga tersebut, bahwa pemerintah akan menyediakan sarana dan tempat, namun pengelolaan sepenuhnya diserahkan kepada para seniman. Kebebasan berkarya harus terjaga, terlepas dari pengaruh politik maupun kepentingan pribadi.

   Proses pembentukan tidak berjalan tanpa dinamika. Pada tanggal 14 September 1971, diadakan pertemuan terbuka di Balai Kota yang dihadiri oleh seniman dari berbagai bidang, mulai dari teater, lukis, sastra, musik, hingga film. Dalam pertemuan ini hadir tokoh-tokoh yang kemudian menjadi perintis dan pendiri, antara lain Drs Putro Sumantono, Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Amang Rachman, Sanyoto Suwito, Gatut Kusuma, Karyono JS, Agil H Ali, dan Krishna Mustadjab. Dalam diskusi yang berlangsung terbuka dan penuh gagasan ini, muncul berbagai pandangan. Sebagian menekankan pentingnya kebebasan mutlak, sementara yang lain memandang dukungan pemerintah sebagai kesempatan untuk berkembang lebih luas. Melalui musyawarah yang panjang, akhirnya dibentuklah panitia perumus yang beranggotakan Wiwiek Hidayat, Karyono JS, Basuki Rachmat, Gatut Kusuma, dan Agil H Ali untuk menyusun aturan dasar dan struktur organisasi.

   Setelah pembahasan selesai, pada tanggal 30 September 1971 disepakati nama resmi lembaga tersebut, yaitu Dewan Kesenian Surabaya. Sebanyak tiga belas orang dipilih menjadi pengurus pertama yang juga merupakan tokoh pendiri, yaitu Karyono JS sebagai ketua, bersama Gatut Kusuma, Amang Rachman, Agil H Ali, Basuki Rachmat, Farid Dimyati, Wiwiek Hidayat, Krishna Mustadjab, Sunarto Timur, Teguh, Hasjim Amir MA, M Daryono, dan Drs Putro Sumantono. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 14 Februari 1972, dilaksanakan pelantikan secara resmi di Sanggar Aksera Balai Pemuda, tempat yang kemudian menjadi pusat kegiatan selama puluhan tahun. Acara tersebut dihadiri oleh Dr. Umar Kayam yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, yang turut berbagi pengalaman dalam mengelola lembaga seni agar dapat bermanfaat bagi masyarakat.

   Sejak berdiri, Dewan Kesenian Surabaya berperan sebagai jembatan antara seniman, masyarakat, dan pemerintah. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan berganti tangan dipegang oleh tokoh-tokoh dengan latar belakang yang beragam, seperti Hazim Amir, Krishna Mustadjab, Muhammad Ali, dan Gatut Kusumo. Pada periode tertentu, sistem kepemimpinan juga diubah menjadi presidium atau ketua bersama untuk mengutamakan musyawarah. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan keterbatasan, semangat yang ditanamkan para pendiri tetap dijaga, menjadikan lembaga ini sebagai ruang yang melahirkan karya-karya berharga dan mencetak seniman-seniman andal.

   Lebih dari sekadar organisasi, Dewan Kesenian Surabaya menjadi bukti nyata bahwa seni dapat tumbuh subur tanpa kehilangan jati diri. Keberadaannya turut mewarnai identitas kota, menjadikan Surabaya tidak hanya dikenal sebagai pusat industri dan pelabuhan, tetapi juga sebagai kota yang menghargai budaya dan kreativitas warganya.

 

Sumber:

1.Suparto Brata, Surabayastory.com: https://surabayastory.com/cerita-tentang-jejak-dewan-kesenian-surabaya-1971/     2.Kumparan.com: https://kumparan.com/beritajatim-admin/sejarah-dewan-kesenian-surabaya-ketua-dks-sejak-1971-2019-1sJdx0ZhYSx

3.Rakyatjelata.com: https://rakyatjelata.com/news-92365-pengantar-sejarah-dewan-kesenian-surabaya

4.Repository Universitas Airlangga: https://repository.unair.ac.id/14644/

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id