Tanggal 1 Juni 2026 ini menandai genap seratus tahun kelahiran Norma Jeane Mortenson, wanita yang dikenal dengan nama Marilyn Monroe. Selama ini banyak media arus utama hanya menyoroti sisi kemewahan dan bayangan citra ikonik yang sudah dibangun industri hiburan, namun ada sisi lain dari dirinya yang jarang sekali terungkap ke permukaan. Seperti yang diungkapkan Partai Komunis Inggris, saatnya kita melihat kembali sosok aslinya, seorang wanita cerdas dan rekan seperjuangan yang memiliki kesadaran kelas yang sangat kuat.
Pandangan politik Marilyn tidak lahir begitu saja, melainkan ditempa dari pengalaman hidupnya yang pahit dan nyata. Mulai dari masa kecil yang berat berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain di Los Angeles, hingga masa mudanya bekerja di jalur perakitan pabrik amunisi Radioplane, kesadaran dirinya sebagai bagian dari kelas pekerja terbentuk dari perjuangan bertahan hidup sehari-hari. Dia adalah wanita yang memiliki kecerdasan luar biasa, dengan tingkat kecerdasan yang jauh melampaui banyak orang yang berusaha mengatur hidupnya. Namun sayangnya, sistem studio yang ada saat itu mereduksi dirinya hanya menjadi sebuah komoditas belaka, barang dagangan yang bisa dibeli, dijual, dan dipertukarkan demi keuntungan segelintir orang yang hidup dari keringat orang lain.
Berkas-berkas milik FBI yang ternyata memantau pergerakannya hingga napas terakhirnya membuktikan bahwa pihak berwenang saat itu merasa sangat waspada dan takut. Ternyata di balik wajah cantiknya yang mendunia, ada sosok simbol seks yang diam-diam membaca karya Karl Marx dan sangat mengagungkan Revolusi Tiongkok. Marilyn juga dikenal sebagai pejuang anti-rasisme yang gigih dan tidak kenal takut. Ia berani menggunakan pengaruh besarnya untuk meruntuhkan sekat diskriminasi rasial yang ketat saat itu, salah satunya dengan membuka jalan bagi penyanyi Ella Fitzgerald agar bisa tampil di tempat-tempat yang dulunya tertutup bagi orang kulit hitam. Ia juga berdiri tegak menentang ketakutan yang melanda masa perburuan lawan politik di era McCarthy, terbukti nyata saat ia menikah dengan penulis naskah Arthur Miller yang saat itu masuk daftar hitam dan dilarang berkarya.
Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan yang dialami Marilyn adalah pertemuan antara penindasan kelas dan kekuasaan laki-laki yang menindas. Dia adalah pekerja yang tenaga kerjanya adalah tubuhnya sendiri, yang dieksploitasi secara berlebihan oleh sistem yang menuntutnya selalu tampil cantik mempesona namun harus tetap diam dan patuh. Sepanjang hidupnya yang singkat, ia sebenarnya terus melakukan perlawanan senyap namun tegas, menentang cara sistem kapitalis memandang dan memperlakukan tubuh wanita semata-mata sebagai objek pemuas semata.
Maka di peringatan seratus tahun kelahirannya ini, kita tidak sedang merayakan sosok "wanita seksi" yang sering digembar-gemborkan dunia. Kita justru sedang menghormati sosok wanita sosialis yang berpikiran jernih, yang sangat paham betul bahwa kebebasan kelas pekerja tidak bisa dipisahkan dari kebebasan kaum wanita. Dan perjuangan yang ia mulai dengan keberanian itu masih terus berlanjut hingga hari ini.

Social Header