Ketika kita mendengar nama Vincent van Gogh, yang terlintas di pikiran biasanya adalah bintang-bintang berputar, ladang gandum yang luas, atau potret dirinya yang ikonik. Namun di antara ratusan karyanya, terdapat beberapa lukisan yang sederhana namun menyimpan makna yang sangat dalam: lukisan sepatu. Pada masanya, sepatu adalah objek yang tidak biasa dilukis. Kebanyakan seniman saat itu lebih memilih melukis benda-benda mewah, indah, dan melambangkan kekayaan sebagai tema benda mati. Namun Van Gogh justru tertarik pada benda-benda yang menanggung jejak dan luka kehidupan, yang ia sebut sebagai objek yang “bore the scars of life” (Mengandung bekas luka pengalaman hidup).
Menurut penjelasan resmi Museum Van Gogh, alasan awal ia mulai melukis sepatu justru bermula dari kebutuhan latihan seni. Pada musim panas 1886, ia banyak melukis bunga sebagai sarana berlatih memainkan komposisi dan paduan warna. Namun saat memasuki musim gugur dan musim dingin, bunga segar sulit didapatkan, sehingga ia pun beralih mencari objek lain. Sepatu tua yang usang langsung menarik perhatiannya, karena baginya benda ini memiliki “nyawa” dan karakter tersendiri. Selain itu, sepatu juga menjadi model yang sangat baik: tidak bergerak, selalu siap, dan bisa diam dalam waktu lama, persis seperti yang ia sebut sebagai “patient models” atau model yang sabar. Bahkan saat ia tinggal di Saint-Rémy, ia kembali melukis tema serupa, salah satunya adalah sepasang sepatu kulit.
Sepanjang karirnya ia menciptakan beberapa versi karya ini, di antaranya yang terkenal: A Pair of Shoes (1887) koleksi Baltimore Museum of Art; Three Pairs of Shoes (1886–1887) koleksi Harvard Art Museums/Fogg Museum, hibah dari koleksi Maurice Wertheim; Shoes (1886 dan 1887) koleksi Museum Van Gogh Amsterdam; A Pair of Leather Clogs (1889) juga di koleksi yang sama; serta A Pair of Shoes (1887) milik koleksi pribadi. Karya Three Pairs of Shoes merupakan bagian dari rangkaian lima lukisan sepatu yang ia buat, disusun membentuk garis diagonal sehingga tercipta keseimbangan sekaligus gerakan ritmis. Diletakkan di atas kain putih, sepatu-sepatu tersebut adalah alas kaki milik buruh dan pekerja keras di Paris, sehingga karya ini seolah berubah menjadi potret kehidupan rakyat biasa. Van Gogh mengaplikasikan cat dengan teknik impasto, yaitu lapisan cat yang tebal dan timbul, sehingga tekstur kulit yang aus, bekas paku di bagian tumit, dan lekukan akibat pemakaian terasa nyata dan hidup. Sama seperti karya lainnya, lukisan ini pun dibuat di atas kanvas bekas yang sebelumnya sudah berisi gambar buket bunga, membuktikan kebiasaan hematnya sekaligus makna bahwa satu permukaan bisa menyimpan banyak cerita.
Dua versi lainnya yang paling dikenal adalah karya tahun 1886 dari masa tinggalnya di Paris, dan versi 1888 yang dibuat di Arles, kini menjadi koleksi The Metropolitan Museum of Art, New York. Lukisan tahun 1886 berukuran 38,1 × 45,3 cm, menampilkan sepasang sepatu kerja yang sudah usang, kulit terkelupas, bentuk tidak beraturan, tali tergantung lemas, serta sol penuh bekas paku. Goresan kuasnya tegas dan kasar, dengan paduan warna coklat kemerahan serta oranye yang mencolok berpadu kontras dengan latar biru tua dan abu-abu. Sedangkan versi 1888 berukuran 45,7 × 55,2 cm, diletakkan di atas lantai ubin merah khas Rumah Kuning tempat tinggalnya. Diduga sepatu ini milik petani lokal Patience Escalier yang pernah ia lukis, meski ada juga pendapat bahwa ini adalah sepatu miliknya sendiri.
Ada cerita unik di balik terciptanya karya ini: Van Gogh membeli sepatu bekas di pasar loak, namun merasa belum cukup berkarakter. Ia pun memakainya berjalan jauh menerobos jalan berlumpur dan berdebu hingga benar-benar kotor dan usang, baru setelah itu ia merasa objek tersebut layak untuk dilukis. Ia juga kerap menggunakan kembali kanvas bekas karena kondisi ekonominya sulit, seperti pada lukisan 1886 yang menutupi gambar pemandangan apartemen saudaranya, Theo. Hal ini semakin memperkuat makna karya: sama seperti sepatu, kanvas pun menyimpan jejak perjalanan dan kehidupan.
Bagi Van Gogh, sepatu melambangkan identitas, perjuangan, dan ketulusan. Ia sendiri pernah menjalani hidup sulit, berpindah-pindah, mengalami kemiskinan dan kesepian, sehingga objek ini seolah menjadi cerminan dirinya: usang namun tetap kokoh dan berjiwa. Ia ingin membuktikan bahwa keindahan seni tidak hanya ada pada benda mewah atau baru, melainkan bisa ditemukan pada hal paling sederhana asalkan dilihat dengan hati.
Karya ini bahkan menjadi bahan kajian dan perdebatan dunia. Filsuf Martin Heidegger dalam esainya Asal Usul Karya Seni menggunakan lukisan ini sebagai contoh utama, menyatakan bahwa lewat lukisan ini kita tidak hanya melihat benda fisik, namun merasakan kehidupan pemiliknya: lelah bekerja, harapan, kekhawatiran, serta hubungan erat antara manusia, tanah, dan pekerjaannya. Namun kritikus seni Meyer Schapiro berpendapat sebaliknya, bahwa sepatu itu milik Van Gogh sendiri karena modelnya sesuai alas kaki warga kota saat itu. Apapun pendapatnya, perdebatan ini justru membuktikan betapa kaya makna yang terkandung di dalamnya.
Lebih dari seratus tahun berlalu, sepasang sepatu yang dilukis itu masih terus “berjalan” melewati waktu, menjadi pengingat bahwa nilai sesuatu tidak terletak pada fisiknya, melainkan pada cerita, pengalaman, dan jiwa yang terkandung di dalamnya. Sepatu Van Gogh bukan hanya lukisan, melainkan jejak langkah peradaban, penghormatan kepada pekerja keras, dan bukti abadi bahwa seni adalah cerminan dari kehidupan itu sendiri.

Social Header