Breaking News

Raja Saleh Dari Klan Al‑Idrus: Sejarah Sultan Abdul Rahman II Oleh: Hamid Nabhan


 

   Dalam lembaran sejarah kepulauan Melayu, di antara deretan nama‑nama besar penguasa yang dikenal gagah berani di medan perang, terdapat satu sosok yang berbeda. Namanya Sultan Abdul Rahman II, penguasa terakhir Kesultanan Riau‑Lingga. Ia tidak dikenang karena kemenangan senjata, melainkan karena kelembutan hatinya, kesalehannya, dan akhlak mulia yang melekat erat sebagai warisan darah dari nenek moyangnya. Berdasarkan catatan‑catatan tua yang tersimpan di istana Lingga, naskah‑naskah pusaka di Pulau Penyengat, serta penelitian mendalam sejarawan seperti Profesor Abdul Hadi WM, dikukuhkan kebenaran asal‑usul beliau: Sultan Abdul Rahman II adalah keturunan murni bangsawan Arab dari klan besar dan sangat terhormat, Al‑Idrus, yang akar silsilahnya bersambung jauh ke tanah Hadramaut, Yaman*.

   Keluarga Al‑Idrus di seluruh Nusantara dikenal bukan hanya sebagai golongan bangsawan, melainkan sebagai keluarga ulama yang pembawa kedamaian. Ciri khas mereka adalah orang yang saleh, berilmu, zuhud, dan berhati lemah lembut, sifat‑sifat luhur yang terlihat begitu jelas dan utuh pada diri Sultan Abdul Rahman II sendiri. Silsilahnya  mengalir langsung dari Sayyid Ahmad bin Husain Al‑Idrus, tokoh besar yang datang ke wilayah ini pada abad ke‑18, yang kemudian menikah dengan putri raja Melayu dan meletakkan dasar wangsa yang memerintah dengan kebijaksanaan. Jalur keturunan itu turun temurun hingga kepada ayahnya, Raja Muhammad Yusuf bin Raja Abdullah, dan akhirnya kepada dirinya, menjadikan darah dan jiwa Al‑Idrus itu hidup sepenuhnya dalam diri Sultan Abdul Rahman II**.

   Sifat damai dan menjauhi kekerasan itu menjadi ciri utama masa pemerintahannya. Ia lebih senang menghabiskan waktunya untuk urusan agama, mendalami ilmu, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat, dibandingkan sibuk dengan urusan politik atau perluasan kekuasaan. Bahkan ia dikenal sangat peduli pada pendidikan, hingga mendirikan lembaga pendidikan Madrasah Rusydiah, sebagai bukti kecintaannya menyebarkan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat.

   Fakta sejarah yang paling unik dan menyentuh hati, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Abdul Hadi WM, adalah bagaimana akhir riwayat kekuasaannya. Dituliskan demikian: “Tidak ada peperangan berarti antara penjajah Belanda dengan Riau Lingga. Belanda hanya mencaplok wilayah kesultanan Riau Lingga tanpa persetujuan sultan dan penduduk Melayu.”***

   Saat kekuasaan kolonial Belanda datang, mendesak, dan perlahan mengambil alih wilayah kekuasaan kesultanan, Sultan Abdul Rahman II tidak mengangkat senjata, tidak mengerahkan pasukan, dan tidak membiarkan darah rakyatnya tertumpah demi sebuah tahta. Semangat kedamaian dan ajaran luhur dari klan Al‑Idrus yang diwarisi nenek moyang melarangnya menciptakan pertikaian.

   Pada tanggal 10 Februari 1911, ketika Belanda secara resmi membubarkan kesultanan dan menguasai wilayah itu sepenuhnya, Sultan Abdul Rahman II menerima takdir itu dengan dada yang lapang dan ketabahan jiwa. Ia turun takhta dengan tenang, meninggalkan istana Lingga, dan memilih pindah ke Singapura untuk menjalani sisa hidupnya dengan sederhana. Di sana, ia mengabdikan sisa umurnya hanya untuk mengajarkan ilmu agama dan mendidik anak cucu, tanpa pernah menyimpan dendam atau berniat melawan keadaan.

   Kisah Sultan Abdul Rahman II adalah pelajaran sejarah yang indah. Bahwa seorang raja tidak harus selalu berperang untuk menjadi besar. Kekuatan sejati justru ada pada ketenangan hati, kesalehan, dan kemampuan melepaskan kekuasaan demi menjaga kedamaian sesama manusia. Ia akan terus dikenang sebagai raja saleh dari klan Al‑Idrus, sosok yang membawa cahaya damai di tengah riwayat sejarah yang penuh gejolak. Namanya abadi, bukan karena pedang, melainkan karena akhlak yang mulia.

 

 Daftar Pustaka

*Abdul Hadi WM. (2004). Riau‑Lingga: Sejarah dan Budaya. Halaman 21‑25. Menegaskan asal usul keturunan Arab Hadramaut klan Al‑Idrus dan watak pemimpinnya yang saleh dan damai. Juga merujuk pada Naskah Tarikh Kerajaan Riau‑Lingga (Arsip Istana Lingga, salinan 1908): "Raja‑raja ini berketurunan Sayyid Al‑Idrus, orang Arab yang saleh, berhati lemah lembut, tidak suka kekerasan."

 

**Ahmad Jelani Halimi. (1998). Sejarah Kesultanan Riau‑Lingga. Halaman 42‑45. Memuat silsilah lengkap wangsa Yang Dipertuan Muda hingga Sultan Abdul Rahman II, menelusuri garis keturunan langsung Sayyid Ahmad bin Husain Al‑Idrus. Juga dikukuhkan dalam dokumen Royal Ark: Genealogi Kerajaan Dunia (Arsip Sejarah Dunia).

***Abdul Hadi WM. (2012). Masyarakat Melayu Riau dan Perubahan Zaman. Halaman 78‑79. Menguraikan proses pengambilalihan kekuasaan Belanda tahun 1911 tanpa pertempuran, serta sikap Sultan yang menerima keadaan dengan lapang dada demi menghindari pertumpahan darah.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id