Breaking News

Pohon dan Garis: Bahasa Ekspresi Vincent van Gogh Oleh: Hamid Nabhan


   Ketika kita mengenal Vincent van Gogh, kita lebih sering membicarakan lukisannya yang penuh warna dan goresan dinamis. Namun, di balik itu semua, seni menggambar atau drawing menjadi pondasi utama seluruh karyanya, bahkan ia pernah menegaskan dalam suratnya tertanggal 3 Juni 1883: “Drawing is at the root of everything” Drawing adalah akar dari segalanya. Pernyataan ini juga menjadi inti pembahasan dalam publikasi The Metropolitan Museum of Art, yang menekankan bahwa karya gambarannya bukan sekadar latihan persiapan, melainkan bentuk ekspresi seni yang berdiri sendiri dan sama berharganya dengan karya cat minyaknya.

   Sebagaimana diuraikan dalam artikel Vincent van Gogh Tree Drawings dari Drawing Academy, pohon menjadi salah satu tema yang paling konsisten dan disukainya sepanjang kariernya, mulai dari tahun 1875 hingga masa akhir hidupnya di Auvers‑sur‑Oise. Baginya, pohon bukan sekadar objek alam semata, melainkan cerminan kehidupan, simbol perjuangan, dan sumber inspirasi yang tak pernah habis. Seperti ditulis Anna Suh dalam artikel tersebut: “Kemampuannya menemukan ketenangan dan inspirasi dalam lanskap dan alam menjadi hal yang paling menonjol… meskipun pada akhirnya ia tidak lagi terikat pada doktrin, aturan, maupun struktur kelembagaan gereja, kecintaannya pada alam sebagai cerminan makna hidup dan kebesaran Sang Pencipta justru menjadi keyakinan baru yang bertahan selamanya.”

   Semangatnya dalam berkarya tergambar jelas dalam suratnya tertanggal 24 September 1880 yang tercatat di Van Gogh Gallery: “In spite of everything I shall rise again: I will take up my pencil, which I have forsaken in my great discouragement, and I will go on with my drawing.”   (“Apapun yang terjadi, aku akan bangkit kembali: aku akan mengambil kembali pensilku yang sempat kutinggalkan saat aku dilanda keputusasaan, dan aku akan terus menggambar.”) Dalam kurun waktu sepuluh tahun berkarya, ia menciptakan lebih dari 1.000 karya gambar, dan sebagian besar di antaranya mengambil tema alam, khususnya beragam jenis pohon. Perkembangan gayanya terlihat jelas dari goresan sederhana di masa awal, menjadi semakin ekspresif dan penuh karakter di masa‑masa terakhirnya.

   Yang membuat gambar pohonnya begitu istimewa adalah cara ia menggunakan garis sebagai bahasa ekspresi. Ia menggambar pohon willow yang lentur dengan goresan berkelok‑kelok seolah tertiup angin, pohon birch yang anggun dengan garis ramping dan halus, hingga pohon cemara yang menjulang tegak dengan goresan tegas dan kuat seolah menjangkau langit. Setiap jenis pohon diberi “karakter” tersendiri, sehingga kita seolah bisa merasakan energi dan jiwa yang terkandung di dalamnya. Ia bahkan sering menggambar hingga larut malam, sebagaimana ia tulis sendiri: “Aku sering menggambar sampai larut malam, untuk merekam kenangan dan memperkuat pemikiran yang muncul begitu saja ketika aku melihat segala sesuatu di sekitarku.”

   Keahliannya ini juga terlihat jelas ketika ia menggambar pohon‑pohon di taman milik Daubigny, yang menjadi bagian dari sketsa sebelum ia membuat lukisan terkenal Daubigny’s Garden with Black Cat. Hanya dengan tinta atau pensil, ia mampu membedakan tekstur kulit batang, kerapatan dedaunan, serta bentuk tajuk pohon, semuanya hanya lewat permainan ketebalan, arah, dan ritme garis. Seperti kata kritikus seni John Berger: “Setiap goresan yang dibuatnya mengikuti arus energi yang terlihat hanya ketika ia menggambar; energi pertumbuhan pohon, hembusan angin, atau keheningan alam, semuanya tertuang dalam garis seolah sidik jari yang tak tertiru.”

   Bagi Van Gogh, menggambar pohon adalah cara memahami makna kehidupan itu sendiri. Ia pernah berkata: “Dalam segala hal yang ada di alam, aku melihat ekspresi dan jiwa.” Inilah yang membuat gambar‑gambar pohonnya tak lekang oleh waktu, ia tidak sekadar menggambar bentuk, melainkan menangkap esensi dan kehidupan dari setiap pohon yang ia abadikan di atas kertas.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id