Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, perjuangan belumlah selesai. Berbagai tantangan masih menghadang, salah satunya adalah pelucutan senjata serta pengambilalihan aset militer dari pasukan Jepang yang masih tersebar di berbagai wilayah. Saat itu, pasukan Jepang berada dalam posisi serba sulit, di satu sisi sudah kalah perang, namun di sisi lain mulai mendapat tekanan dari pasukan Sekutu dan Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia. Kondisi inilah yang membuat situasi menjadi sangat tidak menentu dan berbahaya. Salah satu peristiwa berdarah dan bersejarah yang menjadi bagian dari rangkaian perjuangan itu adalah Palagan Lengkong, terjadi tepat pada tanggal 25 Januari 1946 di Desa Lengkong, yang kini masuk wilayah Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Misi ini dipimpin langsung oleh Mayor Daan Mogot, seorang perwira muda berdarah Minahasa yang menjadi Komandan Akademi Militer Tangerang. Ia berangkat bersama 33 taruna serta beberapa perwira dengan tujuan mulia dan damai, yaitu melakukan negosiasi pelucutan senjata sesuai kesepakatan yang sudah disetujui. Karena misi ini bersifat diplomatis dan damai, rombongan hanya membawa senjata dalam jumlah sangat terbatas, bahkan nyaris tidak bersenjata, sebagai tanda niat baik dan kepercayaan.
Awalnya suasana berjalan lancar, pihak Jepang sepakat untuk menyerahkan sebagian persenjataan. Namun secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, terdengar rentetan letusan senapan dan mitraliur dari arah barak mereka. Serangan ini dilakukan secara khianat, pasukan Jepang tidak hanya mengingkari janji penyerahan senjata, bahkan merebut kembali senjata yang sudah diserahkan, lalu menyerang secara membabi buta. Posisi rombongan kita sudah terjebak, tidak siap, dan jumlah serta persenjataan jauh kalah kuat, sehingga tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti.
Akibat peristiwa tragis itu, sebanyak 37 pejuang gugur syahid, terdiri atas 3 perwira yaitu Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo, serta 34 taruna muda yang usianya baru berkisar 16–18 tahun, masih dalam masa pendidikan namun sudah rela mengabdikan jiwa raga untuk negara. Jenazah para pahlawan ini kemudian dikebumikan dengan hormat pada 29 Januari 1946 di kompleks markas Resimen IV, yang kini dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Taruna, Tangerang Selatan. Sebagai bentuk penghormatan abadi, setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.
Dalam berbagai catatan sejarah dan pemberitaan, selalu ditekankan agar masyarakat Banten khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya, tidak pernah melupakan peristiwa ini. Palagan Lengkong bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti nyata betapa mahalnya harga kemerdekaan yang kita nikmati sekarang. Nilai keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air yang ditunjukkan para pejuang muda itu harus terus dilestarikan, diajarkan, dan dijadikan teladan oleh seluruh generasi, agar semangat persatuan dan pengorbanan tidak pernah luntur tertelan zaman.
Di antara nama-nama yang terukir abadi di Monumen Palagan Lengkong, yang berlokasi di Bukit Golf Utara No.2, Lengkong Wetan, terdapat sosok yang patut kita kenang dan jadikan teladan, yaitu Muhammad Al Hadad. Bersama Agus Rafli, beliau adalah taruna asal Jakarta. Usianya masih sangat muda saat itu, namun sudah memiliki tekad dan semangat yang membara untuk membela tanah air yang baru saja merdeka. Ia meninggalkan kenyamanan rumah dan masa remajanya untuk menuntut ilmu kemiliteran, dengan harapan bisa menjadi bagian dari garda terdepan yang menjaga kedaulatan bangsa.
Ketika peristiwa berdarah itu terjadi, Muhammad Al Hadad tidak berpikir untuk lari menyelamatkan diri. Bersama teman-temannya, ia tetap menjalankan tugas dan berusaha bertahan, hingga akhirnya gugur syahid di tempat itu. Namanya terukir berdampingan dengan para pejuang lainnya, menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan Indonesia diraih oleh anak bangsa dari berbagai daerah, dari berbagai latar belakang, yang sama-sama berkorban tanpa menghitung apa-apa.
Pengorbanan para pahlawan di Palagan Lengkong, khususnya Muhammad Al Hadad, menjadi pengingat abadi: kemerdekaan tidak diraih dengan cuma-cuma, melainkan dibayar dengan tetesan darah dan air mata para pejuang. Mereka telah memberikan contoh nyata, bahwa usia muda bukanlah halangan untuk berbakti, dan cinta tanah air adalah nilai luhur yang harus senantiasa dijaga sepanjang masa. Jasanya akan selalu hidup dalam sanubari bangsa, dan namanya akan selalu dikenang sebagai pahlawan sejati yang telah mengabdikan jiwa dan raganya untuk negara dan rakyat.
Daftar Pustaka
1. Wikipedia. Monumen Palagan Lengkong. Diakses tanggal 8 Mei 2026.
2. RRI. Mengenang 80 Tahun Peristiwa Lengkong. 24 Januari 2026.
3. Kabar Banten. Monumen Palagan Lengkong Tangerang Selatan, Cagar Budaya Jadi Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Bangsa. 27 September 2024.
4. Indriastuty, H. R. Daan Mogot Dalam Pertempuran Lengkong Sebagai Suplemen Materi Perjuangan dan Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan. Jurnal Sejarah.

Social Header