Breaking News

Mengingat Sanento Yuliman Dengan Gagasan Besar Seorang Penulis Seni Oleh: Hamid Nabhan

   Sanento Yuliman (14 Juli 1941 – 14 Mei 1992) adalah sosok unik dan sangat penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia dikenal luas sebagai penulis seni, kritikus tajam, pemikir, pengajar, budayawan, sekaligus penyair, pelukis, dan kartunis. Meski namanya sering kali tidak sepopuler para pelukis yang karyanya dipajang di ruang pameran, kedudukannya di jagat seni sangat istimewa. Sebagai pelukis, namanya tidak seterkenal  dibandingkan buah tulisannya, namun justru lewat tulisan dan gagasannya ia meletakkan dasar pemahaman, apresiasi, dan arah perkembangan seni rupa Indonesia modern. Pribadinya dikenal sederhana, santun, teguh pendirian, dan jauh dari pamrih atau keinginan populer. Ia bukan tipe orang yang suka berteriak atau mencari perhatian. Orang yang mengenalnya menggambarkan ia seperti "puncak gunung es": hanya tampak sedikit di permukaan, namun menyimpan kekuatan dan kedalaman pemikiran yang kokoh hingga ke dasar samudra. Gaya bicaranya sangat datar, namun tangkas dan tajam saat berdiskusi. Ia sering dianggap orang yang tertutup, padahal di balik itu ia seorang humoris yang punya sentilan pikiran nakal dan tak terduga, kerap menertawakan dirinya sendiri. Ia menjalani hidup dengan cara sederhana, percaya bahwa pengakuan dan kehormatan tidak harus dicari lewat pameran atau sorotan, melainkan lewat karya dan pemikiran yang ditinggalkan.

   Kepergiannya yang mendadak pada Kamis dinihari, 14 Mei 1992, akibat pendarahan otak dan darah tinggi, sangat mengagetkan banyak pihak. Saat itu ia terlihat sehat-sehat saja tanpa rongrongan penyakit. Ia meninggal dalam usia 51 tahun, meninggalkan istri R.A. Dindin Siti Subandiah dan tiga orang anak, serta meninggalkan kekosongan besar di dunia kebudayaan Indonesia. Seperti tertulis dalam majalah EDITOR sesaat setelah kepergiannya: "Dunia kesenian Indonesia kehilangan salah seorang dari sedikit yang lahir, penulis seni yang secara intens mengamati setiap langkah dan gerak seni rupa modern Indonesia."

   Sanento lahir di Jatilawang, Kabupaten Cilacap, wilayah yang secara budaya sering dikaitkan dengan Banyumas atau Majenang, Jawa Tengah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menghargai budaya, di bawah bimbingan ayahnya yang menjabat sebagai Patih atau pejabat setempat yang sangat mendukung minat anaknya di bidang seni dan sastra. Sejak kecil bakatnya sudah tampak jelas. Semasa sekolah menengah, tulisan-tulisannya sudah dimuat di berbagai media seperti majalah Kawanku dan harian Kedaulatan Rakyat. Ia juga aktif mendirikan kelompok pecinta sastra dan teater, di mana "pikiran nakal"nya sudah mulai terlihat. Pendidikan tingginya ia tempuh di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), masuk tahun 1960 dan lulus sarjana pada tahun 1968. Karya tulis akhirnya berjudul Beberapa Masalah dalam Kritik Seni Lukis Indonesia, yang sangat istimewa hingga meraih Anugerah Hamid Bouchoureb, penghargaan bergengsi dari Aljazair, nama Hamid Bouchoureb diambil untuk menghormati tokoh budaya asal Aljazair, diberikan untuk karya orisinal dan mendalam di bidang seni dan budaya; Sanento menjadi salah satu orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Semasa kuliah ia sangat aktif, menjadi kartunis andalan, Pemimpin Redaksi mingguan Mahasiswa Indonesia, dan penulis di Mimbar Demokrasi. Bakat sastranya juga bersinar, puisi Laut dan esai Dalam Bayangan Sang Pahlawan sama-sama meraih penghargaan dari majalah Horison.

   Dalam esai legendaris Dalam Bayangan Sang Pahlawan (1968), Sanento menyampaikan pandangan kritis yang berani. Ia mengkritik konsep kepahlawanan di Indonesia yang dinilainya terlalu teatrikal, penuh gaya, dan jauh dari kenyataan: "Pahlawan kita tangkas, tegap, kekar, bersemangat baja dan pada umumnya bertopi baja... Makam pahlawan berisi serdadu-serdadu dan kuburan orang sipil agaknya tidak berisi pahlawan-pahlawan." Di sana pula ia mewariskan kalimat yang masih relevan: "Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa."

   Setelah lulus, tepatnya 1969, Sanento langsung diangkat menjadi pengajar tetap di almamaternya, ITB, dan mengabdi di sana hingga akhir hayatnya. Selama enam tahun (1976–1981), ia melanjutkan studi ke Prancis dan meraih gelar Doktor dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris, di bawah bimbingan sejarawan kenamaan Denys Lombard. Disertasinya berjudul Asal Mula Seni Lukis Kontemporer Indonesia: Peran S. Sudjojono, yang meneliti akar seni Indonesia dan peran sentral tokoh pelukis legendaris itu. Sepulang ke Indonesia, hari-harinya disibukkan dengan mengajar dan menulis. Namanya makin dikenal lewat buku rujukan utamanya, Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar. Ia menjadi anggota redaksi majalah Horison, penulis di Aktuil, dan kolumnis tetap di majalah Tempo. Pada 1984, sumbangsihnya diakui negara lewat Anugerah Adam Malik sebagai Kritikus Seni Rupa Terbaik. Bersama rekan-rekan seperti G. Sidharta, Jim Supangkat, dan Mochtar Apin, ia mendirikan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YASRI) untuk memajukan seni, meski gagasan besar ini sayangnya tidak berjalan lama. Ia juga menjadi motivator utama Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GRSBI), tonggak pembaruan seni tanah air, serta pendukung kuat ajang pengadilan puisi di Bandung tahun 1970-an.

   Meskipun namanya lebih dikenal lewat tulisan, Sanento sebenarnya adalah seniman yang bekerja dengan berbagai media. Ia melukis, membuat sketsa, hingga kartun dan ilustrasi yang sangat kritis, sarkas, dan bernuansa sosial-politik. Karya-karya visualnya ini menjadi saksi sejarah zamannya, terutama di awal masa Orde Baru. Contohnya, ilustrasi berjudul "Anakku, Rambut Gondrong Itu Tidak Sopan" (1966–1970) yang dimuat di media massa, mengkritik aturan sosial saat itu dengan cara yang lucu namun tajam. Pengamat menilai karyanya: "Mengkritik tentang politik dengan cantik." Lukisan-lukisannya seperti "Sangiang Sri" (1971) yang menampilkan sosok perempuan dalam gundah, atau "Tiga Anak" (1974) yang memvisualisasikan ekspresi wajah dengan warna berbeda-beda, menunjukkan kedalaman pemikiran visualnya. Sayangnya, karya seninya tidak sebanyak tulisannya, dan ia sendiri tidak terlalu menekankan aspek ini sebagai jalan mencari nama.

   Pameran besar bertajuk "Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941–1992)" yang digelar Dewan Kesenian Jakarta di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (Desember 2019 – Januari 2020), akhirnya mempertemukan kembali publik dengan jejak lengkapnya. Kurator Hendro Wiyanto dan Danuh Tyas Pradipta (putra Sanento) menyajikan arsip lengkap: linimasa hidup, sketsa, lukisan, surat-menyurat, kliping tulisan, hingga mesin tik tua yang menjadi "senjata" menulisnya, yang huruf T dan Z-nya sudah hilang. Di pameran itu juga diluncurkan buku kumpulan tulisannya berjudul Estetika yang Merabunkan, bagian dari seri wacana seni rupa yang sangat penting.

   Bagi Sanento, kritik seni bukan sekadar memberi nilai atau pujian, melainkan upaya intelektual untuk "mewicarakan yang tampak dari yang terberi" menelusuri makna dari apa yang terlihat, meneliti proses, hingga mengungkap pesan tersembunyi. Goenawan Mohamad mengenangnya sebagai penulis dengan pemikiran filosofis, yang percaya seni tak harus terbelenggu batasan seni tinggi atau seni terapan, melainkan soal keterampilan dan penyajian karya. Sementara Danton Sihombing menegaskan pandangan kuncinya: "Seni membutuhkan sesuatu di luar dirinya sebagai zona refleksi, konfirmasi, dan koneksi dengan dunia yang lebih luas." Ia memperkenalkan konsep-konsep khas yang memperkaya kosakata seni Indonesia, seperti Imba yang berarti nilai atau kesan mendalam, Wanda yang berkaitan dengan ragam ekspresi, pembahasan tentang Seni Rupa Atas dan Seni Rupa Bawah, serta istilah lain seperti Kagunan, Lirisisme, Anti-elitisme, dan Pemingitan.

   Pemikirannya berkembang dari pendekatan sejarah seni di awal karier, menjadi semakin kaya dengan sosiologi, pendidikan seni, dan linguistik setelah pulang dari Eropa. Namun, ada satu pandangan Sanento yang sangat terkenal dan menjadi peringatan hingga kini, yaitu kritiknya terhadap apa yang disebutnya sebagai "Boom Seni Lukis". Ia pernah berkata dengan tegas: "Boom seni lukis telah membuat juga pemiskinan seni lukis Indonesia." Saat pasar seni meledak dan harga lukisan meroket, Sanento justru melihat sisi gelapnya. Baginya, fenomena itu mematikan keragaman. Seni rupa seolah disempitkan hanya menjadi kanvas dan cat minyak, sementara lukisan cat air, kolase, dan eksplorasi materi lain dianggap tidak bernilai komersial. Akibatnya, inovasi menjadi kerdil dan kreativitas terkurung. Ia juga mengkritik perilaku kolektor yang memingit karya di ruang tertutup sehingga masyarakat tak bisa menikmati. "Karena itu boom seperti ini getarannya tak akan lama," prediksinya, dan hal itu terbukti benar.

   Selain itu, Sanento juga berjuang agar seni rupa Indonesia memiliki standarisasi kualitas dan komersial yang jelas. Ia menyayangkan bahwa seniman dan pasar sering kali berjalan tanpa patokan, sehingga masyarakat mudah menjadi korban penipuan atau pemalsuan nilai. Ia ingin membangun ukuran sendiri, berakar pada keindonesiaan, bukan sekadar meniru ukuran Barat. Dalam tulisannya Mencari Indonesia dalam Seni Lukis Indonesia, ia mengajak melihat akar sejarah seni masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan, dan mengkritik kecenderungan menyeragamkan segala sesuatu ke dalam satu bingkai pemahaman saja.

   Sanento Yuliman pergi meninggalkan gagasan besar. Ia adalah sosok yang berusaha meluruskan cara masyarakat memahami seni, sekaligus berani mengingatkan ketika ruang kreativitas mulai disempitkan oleh pasar, kekuasaan, atau kebiasaan. Ia bebas melangkah di dua ujung kepentingan, tidak memihak, dan berpijak pada penilaian yang jernih. Kini, meski sosoknya telah tiada, pemikirannya kembali dicari dan dikaji. Ia mengajarkan bahwa seni rupa bukan hanya soal keindahan mata, melainkan cermin zaman, jejak sejarah, dan tempat berdialog dengan kenyataan. Jejaknya yang tersimpan rapi di arsip, buku, dan ingatan mereka yang mengenalnya, membuktikan bahwa Sanento Yuliman adalah salah satu dari sedikit pemikir yang benar-benar meletakkan batu pertama bagi pemahaman seni rupa Indonesia modern.

Surabaya, 24 Mei 2026

 

 Referensi:

1. Sunardi, Didi. (1992). "Kritikus Tanpa Pretensi: Ia Pergi Meninggalkan Gagasan Besar". Majalah EDITOR, No. 36 / Thn. V, 23 Mei 1992.

2. Tim Penyusun. (2019). Katalog Pameran: Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941–1992). Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

3. Wiyanto, Hendro & Pradipta, Danuh Tyas. (Peny.). (2019). Estetika yang Merabunkan: Kumpulan Tulisan Sanento Yuliman. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

4. Institut Teknologi Bandung. (2019). Pemikiran Seni Rupa Sanento Yuliman. Bandung: Perpustakaan Digital ITB.

5. Lombard, Denys. (1984). "Sanento Yuliman dan Akar Seni Indonesia". Jurnal Sejarah & Budaya, Jakarta.

6. Historia.id. (2020). "Sanento Yuliman: Pemikir di Balik Gagasan Seni Indonesia". Artikel Dokumentasi Sejarah.

7. Kalam Sastra. (2021). "Mewicarakan yang Tampak: Sanento Yuliman tentang Kritik Seni".

8. Tempo.co Arsip. Berbagai edisi kolom seni rupa (1984–1992).

9. Balairung Press. (2020). "Mengenang Sanento Yuliman Melalui Pameran Arsip".

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id