Breaking News

Mei: Bulan Menggambar Nasional, Mengenang Jejak Raden Saleh Dan Makna Seni Bagi Bangsa Oleh: Hamid Nabhan


   Bulan Mei bukan sekadar urutan waktu dalam kalender. Bagi dunia seni rupa Indonesia, bulan ini memiliki makna istimewa, karena ditetapkan sebagai Bulan Menggambar Nasional. Penetapan ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengenang dan menghormati hari kelahiran tokoh paling bersejarah dalam dunia seni lukis tanah air: Raden Saleh Sjarif Bustaman, yang lahir pada tanggal 1 Mei 1811. Nama yang tak lekang oleh waktu, sosok yang dianggap sebagai pelopor, perintis, dan bapak seni lukis modern Indonesia.

   Menjadikan bulan kelahiran Raden Saleh sebagai momen nasional untuk menggambar adalah langkah yang sangat indah dan penuh makna. Sebab, dialah orang pertama yang membawa nama Indonesia ke kancah dunia seni internasional, di saat bangsa ini masih berada di bawah penjajahan dan identitas budayanya belum banyak dikenal orang luar. Raden Saleh adalah bukti nyata bahwa di tengah segala keterbatasan, semangat berkarya dan keindahan rasa seni bangsa Indonesia mampu bersaing dan diakui di Eropa, pusat peradaban seni masa itu.

   Raden Saleh bukan sekadar pelukis yang pandai memegang kuas. Ia adalah seorang pemikir, seorang seniman yang memadukan rasa seni budaya timur dengan teknik dan wawasan seni barat. Karya‑karyanya yang legendaris seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro, Perburuan Banteng, atau Pemandangan Gunung Berapi, bukan hanya lukisan yang indah dipandang mata, tetapi juga dokumen sejarah, cerita tentang alam, dan cerminan jiwa bangsa yang besar. Lewat gambarannya, ia menceritakan siapa kita, apa alam kita, dan apa perasaan kita. Ia membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiasan, tetapi cara kita berbicara, mengenang sejarah, dan menunjukkan jati diri.

   Oleh karena itu, Bulan Menggambar Nasional di bulan Mei ini bukan sekadar ajakan untuk memegang pensil atau kuas saja. Ini adalah momen untuk merenungkan kembali: apa arti menggambar bagi kita?

   Menggambar adalah bahasa yang universal, seperti halnya lagu. Kalau lagu berbicara lewat kata dan nada, maka menggambar berbicara lewat garis, warna, dan bentuk. Keduanya sama‑sama mempunyai kekuatan besar yang ada dalam diri manusia. Seperti yang pernah kita bahas, kata adalah kekuatan yang sering kali diremehkan, demikian juga seni menggambar. Banyak yang menganggap menggambar hanya sekadar gambar, hanya hobi, atau hal yang tidak ada gunanya. Padahal, lewat sejarah Raden Saleh, kita belajar bahwa gambar adalah identitas, gambar adalah kebanggaan, dan gambar adalah cara kita meninggalkan jejak yang tak ternilai harganya bagi anak cucu.

   Di bulan Mei ini, kita diajak untuk kembali mencintai seni, kembali menghargai kemampuan tangan kita untuk menciptakan sesuatu yang indah. Kita diajak meneladani semangat Raden Saleh yang berani melangkah jauh, belajar, berkarya, dan membawa nama bangsa setinggi langit. Tak perlu menjadi pelukis besar seperti Raden Saleh untuk ikut merayakannya. Siapa saja yang menorehkan garis di atas kertas, siapa saja yang berusaha menuangkan apa yang ada di hati dan pikirannya ke dalam bentuk visual, sesungguhnya sedang meneruskan jejak sang pelopor.

   Bulan Mei menjadi pengingat abadi, bahwa seni adalah bagian dari hidup kita, dan Raden Saleh adalah bukti bahwa bangsa ini memiliki bakat, rasa, dan jiwa seni yang luar biasa besarnya. Mari kita jadikan bulan ini momen untuk berkarya, menghargai, dan meyakini bahwa setiap goresan yang kita buat adalah bagian dari kisah panjang seni bangsa Indonesia yang terus hidup dan tumbuh.


Surabaya, 10 Mei 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id