Di antara karya agung Vincent van Gogh, lukisan berjudul "Kursi Van Gogh" yang selesai dibuat November 1888 ini terlihat sederhana, namun menyimpan makna yang sangat dalam dan menjadi cermin sejati hidup pelukisnya. Lukisan ini kini tersimpan di Galeri Nasional, London, Inggris, kanvas berukuran 91,8 × 73 cm tersebut menampilkan sebuah kursi kayu pinus biasa, keras, dan berpenampilan apa adanya, dudukannya dari anyaman jerami tua. Di atasnya tergeletak pipa dan kantong tembakau, barang sehari‑hari kesayangan sang pelukis, dan di sudut ruangan tampak kotak kayu bertanda tangan sederhana “Vincent”, berisi tunas bawang yang tumbuh.

   Bagi Van Gogh, ini bukan sekadar lukisan benda mati. Kursi itu adalah potret dirinya sendiri. Sederhana, polos, dan jauh dari kemewahan, persis jalan hidupnya yang penuh perjuangan dan kesusahan. Ia melukisnya dengan sapuan kuas tebal bertekstur,  teknik impasto, dan warna kuning‑ungu yang kontras; warna yang melambangkan kehangatan dan kejujuran, namun juga kegelisahan dan kesendirian. Garis‑garis lantai yang agak miring dan tidak beraturan seolah menjadi isyarat halus tentang jiwanya yang memang sedang tidak seimbang dan bergolak.

   Lukisan ini lahir saat masa paling bahagia sekaligus paling menentukan hidupnya di Rumah Kuning, Arles. Saat itu, sahabatnya Paul Gauguin baru saja datang, dan Van Gogh sangat berharap mereka bisa membina komunitas seniman bernama "Studio Selatan". Ia sangat mengagumi Gauguin, menganggapnya pemimpin dan guru, sementara dirinya menempatkan diri sebagai murid yang belajar.

   Sebagai simbol hubungan itu, ia membuat dua lukisan kursi yang saling berpasangan namun sangat berbeda wataknya. Di sisi lain ada "Kursi Gauguin": kursi berlengan kayu kenari yang mewah, berlapis beludru, diterangi cahaya lilin, dan dikelilingi buku, gambaran sosok yang berpendidikan, berwibawa, penuh pemikiran, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

   Sebaliknya, kursi miliknya sendiri tetaplah polos, terang oleh cahaya siang hari, namun kosong melompong. Dua lukisan ini adalah gambaran nyata: meski berbeda kedudukan dan karakter, mereka bisa berdampingan, saling melengkapi, dan sama‑sama mengabdi pada seni. Kursi kosong itu pun bermakna mendalam: kehadiran seseorang yang dicintai bisa terasa nyata meski raganya tidak terlihat di sana.

   Namun mimpi indah itu hanya bertahan sembilan minggu. Ketegangan batin, perbedaan pandangan, dan penyakit jiwa yang diderita Van Gogh memuncak, berakhir dengan kejadian memilukan saat ia melukai dirinya sendiri. Gauguin pun pergi dan tak pernah kembali. Sejak saat itu, kursi itu benar‑benar menjadi simbol kehilangan, duka cita, dan kesepian yang mendalam. Kini kedua lukisan itu terpisah jauh: satu di London, satu di Amsterdam, selamanya terpisah namun terikat oleh satu kisah persahabatan yang tragis.

   Menatap lukisan ini, kita tidak sedang melihat kayu dan jerami. Kita sedang melihat jiwa Van Gogh yang sebenarnya: rendah hati, tulus, penuh harapan, namun ditakdirkan berjalan sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa seni bukan soal melukis hal megah, melainkan kemampuan menemukan jiwa, cerita, dan takdir di dalam hal yang paling sederhana. Sebuah kursi kosong pun bisa berbicara abadi tentang hidup, cinta, kehilangan, dan kesetiaan hati.