Breaking News

Etienne Dinet: Pelukis Prancis yang Menemukan Jalan Hidup di Aljazair Oleh: Hamid Nabhan

Alphonse-Etienne Dinet, yang kemudian dikenal dengan nama Nasreddine Dinet atau Hajj Nasreddine Dinet, lahir di Paris, Prancis, pada 28 Maret 1861. Ia berasal dari keluarga borjuis terpandang asal Loiret, putra seorang hakim ternama bernama Philippe Léon Dinet. Ia dikenal luas sebagai pelukis beraliran orientalis yang sangat sukses, salah satu pendiri Perhimpunan Pelukis Orientalis Prancis, serta tokoh seni yang sangat dicintai masyarakat Aljazair, bahkan diakui sebagai "Maestro Seni Lukis Aljazair" sejak tahun 1970-an. Karya-karyanya tersimpan di museum-museum besar dunia seperti Museum d’Orsay, Museum Seni Rupa Lyon, dan Museum Seni Rupa Reims. Berbeda dari seniman Barat lain yang hanya memandang Timur sebagai hal eksotis semata, ia jatuh cinta mendalam pada tanah, budaya, dan nilai-nilai hidup masyarakat setempat, hingga mengubah seluruh jalan hidupnya dan menjadikan Aljazair sebagai tanah air keduanya. Karya-karyanya menjadi gambaran nyata kehidupan Aljazair, yang hingga kini masih dikaji sebagai makna orientalisme yang lebih dalam, manusiawi, dan menjadi bukti hubungan unik antara Prancis dan Aljazair di awal abad ke-20.

   Ia menempuh pendidikan di Lycee Henry IV, lalu melanjutkan ke Ecole des Beaux-Arts dan Academie Julian, belajar langsung dari pelukis besar seperti William Bouguereau dan Tony Robert-Fleury. Ia sangat mengagumi gaya seni seniman seperti Millet, Cezanne, dan Gauguin, namun jalannya seni akhirnya memilih arah yang berbeda. Bakatnya sudah terlihat sejak muda; pada tahun 1884 ia mendapat medali dan beasiswa di Salon des Arts Plastiques, dan karyanya sudah dipamerkan di Salon Paris saat ia berusia 21 tahun. Tahun 1889, dalam Pameran Dunia, ia memamerkan lukisan hasil karyanya dari Bou Saada dan berhasil meraih medali perak. Mulai tahun 1895, ia memutuskan hanya akan melukis pemandangan, suasana, dan kehidupan masyarakat Aljazair saja. Salah satu karyanya berupa gambar pensil dan cat putih, berjudul "Potret Laki-laki", bertanda tangan dalam tulisan Arab "Hajj Nasr ad Dine", menjadi bukti sejarah perjalanan hidup dan seninya yang berharga.

   Titik balik hidupnya bermula saat pertama kali berkunjung ke Aljazair pada tahun 1883. Ia menempuh perjalanan jauh ke kota Ouargla dan Laghouat, dan keindahan alam serta ketenangan hidup masyarakat setempat sangat menyentuh hatinya. Selama sepuluh tahun ia datang dan pergi, hingga akhirnya pada tahun 1904–1905 ia menetap secara permanen di Bou Saada, kota oase di tenggara Aljazair yang ia anggap sebagai tanah air keduanya. Ia belajar bahasa Arab hingga sangat fasih — dibantu temannya sang orientalis Paul Leroy, dan mendalami budaya setempat. Sejak 1889 ia berteman akrab dengan ulama terkemuka Syekh Sliman bin Ibrahim; mereka tinggal bersama, berkelana ke padang pasir, berkenalan dengan suku Badui dan tradisi Berber, serta semakin memahami nilai-nilai kehidupan dan ajaran Islam. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai "pelukis etnologis", dengan tujuan melukis kehidupan nyata masyarakat setempat persis seperti apa yang ia lihat dan jalani, sebelum semuanya berubah karena perkembangan zaman. Keakuratan detail lukisannya, mulai dari perhiasan, tato wajah, hingga pakaian — sangat mengagumkan dan menjadi ciri khasnya.

   Semakin lama ia tinggal dan bergaul, semakin ia merasa damai dan menemukan kebenaran yang dicarinya. Pada tahun 1908, ia mengumumkan perubahan jalan hidupnya lewat surat pribadi, lalu secara resmi memeluk agama Islam pada tahun 1913. Ia pun mengganti namanya menjadi Nasreddine, yang berarti "Kemenangan Agama", tanda bahwa ia telah menemukan tujuan hidup yang sejati. Setelah menunaikan perjalanan suci Haji ke Mekkah pada awal tahun 1929, namanya kemudian disematkan gelar Hajj Nasreddine Dinet.

   Perubahan besar ini sangat terlihat jelas dalam karya seninya. Awalnya ia banyak melukis pemandangan, suasana padang pasir, dan kehidupan sehari-hari. Namun setelah mengenal ajaran Islam, banyak lukisannya bertema ibadah, nilai kemanusiaan, dan kehidupan rohani, seperti panggilan shalat, suasana bulan Ramadan, dan masyarakat mengamati bulan sabit. Gaya lukisannya sangat akurat, jujur, dan penuh penghormatan, jauh dari gambaran buatan atau imajinasi semata yang sering dibuat orang Eropa saat itu. Salah satu karyanya yang paling terkenal dan paling banyak diperbanyak adalah "Hamba Cinta dan Cahaya Mata", sebuah kisah legenda Arab yang hingga kini tersimpan di Museum d’Orsay. Uniknya, ia sering menandatangani lukisannya dengan tulisan Arab di sudut kanan atas. Ia juga menulis dan mengilustrasikan buku "Kehidupan Nabi Muhammad" yang diterbitkan tahun 1918, serta membuat ilustrasi untuk karya sastra besar Arab lainnya seperti "Kisah Antar".

   Setelah Perang Dunia Pertama, gaya warnanya menjadi lebih berani dan cerah, memadukan warna merah muda, biru pirus, ungu, dan biru, meski saat itu di Prancis karyanya kurang dihargai dan dianggap terlalu tradisional, namun masyarakat Prancis yang tinggal di Aljazair tetap sangat mengagumi karyanya. Selain melukis, ia juga aktif berjuang untuk kemanusiaan dan kemajemukan: ia mengkampanyekan pembangunan Masjid Agung Paris yang diresmikan tahun 1926, memperjuangkan pemakaman khusus bagi tentara Muslim yang gugur dalam perang, dan mendorong pemerintahan sipil di wilayah Bou Saâda. Ia juga menerjemahkan karya sastra Arab ke bahasa Prancis agar budaya dan pemikiran masyarakat Timur lebih dikenal dan dipahami masyarakat Barat. Ia aktif berpartisipasi dalam Pameran Kolonial tahun 1906 dan 1922, serta pameran seni di Aljazair, dan menjadi anggota penting Perhimpunan Pelukis Orientalis.

   Ia meninggal dunia di Paris pada 24 Desember 1929, tak lama setelah pulang dari perjalanan sucinya. Upacara pemakamannya dilaksanakan dengan khidmat di Masjid Paris, sebelum jenazahnya dibawa kembali ke Bou Saâda dan dimakamkan di makam khusus yang telah ia bangun sendiri. Ribuan warga setempat datang melayat, membuktikan bahwa ia sudah dianggap sebagai putra daerah sendiri, bukan lagi orang asing dari Eropa.

 


   Kini nama Nasreddine Dinet diingat sebagai jembatan indah antara dua budaya, Eropa dan Islam. Museum Nasreddine Dinet yang didirikan di bekas rumahnya di Bou Saâda menyimpan dan memamerkan karya-karyanya, dan namanya kini menjadi salah satu pelukis orientalis yang paling dicari, dihargai, dan dikagumi di dunia seni. Ia menjadi bukti nyata bahwa seni dan ketulusan hati bisa menyatukan perbedaan, serta kebenaran dan kedamaian bisa ditemukan di mana saja dan oleh siapa saja.


Daftar Pustaka

1. Wikipedia. Etienne Dinet. 2023. Halaman 1–4.

2. Galerie Ary Jan. Biography of Etienne Dinet (1861–1929). 2024. Halaman 2–7.

3. Google Arts & Culture. Étienne Dinet: Artist Overview and Works. 2023. Halaman 1–3.

4. Dune Magazine. Etienne Dinet: Depictions of Algeria and Orientalism. 2024. Halaman 4–9.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id