Breaking News

Di Bawah Lambang Bendera, Antara Solidaritas Dan Standar Ganda Oleh: Hamid Nabhan

   Lamine Yamal, pemuda kebanggaan FC Barcelona, berani mengibarkan bendera Palestina di momen kemenangan besarnya.  Sebuah gestur sederhana namun penuh makna: tanda simpati bagi mereka yang sedang menderita.  Namun, keberanian itu segera dihadang gelombang tekanan dan konsekuensi pahit yang sudah menjadi pola bagi siapa saja yang memihak Palestina.

   Pertama, bisikan halus yang mematikan.  Yamal akan diingatkan: "fokuslah pada sepak bola, jangan bawa isu sensitif".  Aneh rasanya, sebab saat pemain lain bersuara untuk Ukrainia atau isu lain, mereka justru dipuji.  Tapi untuk Palestina, tiba-tiba olahraga harus bersih dari politik.  Di sini standar ganda terlihat nyata: kekuasaan dan sponsor menentukan mana yang boleh dan mana yang harus Dibungkam. 

   Ke-dua, narasi yang diplintir.  Media dan kelompok tertentu tak akan bicara soal korban jiwa atau warga yang kehilangan tempat tinggal.  Mereka langsung mengubah makna: aksi kemanusiaan dilabeli dukungan kekerasan atau ekstremisme.  Sejarah mencatat hal ini berulang.  Seperti uraian Prof. Nadine Rossol, bendera bukan sekadar kain, melainkan wadah emosi dan kuasa.  Maknanya bisa dibolak-balik, dari simbol damai jadi simbol ancaman, tergantung siapa yang menguasai narasi.  Persis yang menimpa bendera Palestina hari ini. 

   Ke-tiga kampanye teror dan kebencian.  Hujatan, ancaman, desakan minta maaf, hingga laporan massal akan berdatangan.  Sasaran utamanya bukan hanya Yamal, tapi pesan peringatan untuk semua pemain dunia; "lihat apa yang kami lakukan pada dia, kalau kamu berani ikut campur".  Ini cara membungkam suara nurani. 

   Ke-empat, tekanan halus yang mengasingkan, lewat lingkaran terdekat, manajemen, atau suasana yang dibuat tak nyaman, ia akan didorong merasa sendirian.  Bukan ancaman langsung, tapi permainan perasaan yang berat dan nyata adanya. 

   Namun ketidakadilan ini tak bisa ditutupi.  Sejarah sepak bola mencatat, bendera dan identitas sudah lama menjadi bagian dari lapangan hijau.  Lihat Piala Dunia 2006, saat pemain Ghana, John Pantsil, mengibarkan bendera Israel di tengah pertandingan.  Bendera negara yang sedang berkonflik panjang.  Apa reaksi dunia? Diam saja.  Tak ada protes, tak ada tuduhan mempolitisasi olahraga, tak ada hukuman.  Semua berjalan biasa. 

   Dua peristiwa sama, yaitu sama-sama mengibarkan bendera berkontlik, sama-sama membawa identitas ke lapangan.  Tapi perlakuan dunia sangat beda.  Satu dianggap wajar, satu lagi dosa besar.  Mengapa? Jelas bukan soal aturan, bukan soal politik.  Tapi semata karena bendera itu adalah bendera Palestina. 

   Keberanian Yamal adalah tamparan bagi mereka yang ingin Palestina dilupakan.  Mereka yang marah, sebenarnya bukan marah pada politik di olahraga, tapi marah karena pemuda belasan tahun itu berani berkata: "Palestina ada, hidup, dan harus dibela."

   Kita tunggu kelanjutannya.  Apakah solidaritas akan dihukum?  Atau keberaniannya jadi awal kesadaran baru, bahwa di bawah setiap bendera, ada nyawa manusia yang berhak diperhatikan? 

   Sejarah sedang mencatat namanya, bukan sebagai pemain hebat, tapi pemuda yang berani benar di tengah dunia yang penuh dengan kepura-puraan. 


Surabaya, 16 Mei 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id