Bagi banyak orang, cangklong pipa hanyalah benda biasa, alat untuk merokok dan menghabiskan waktu. Namun bagi Vincent van Gogh, pipa adalah jauh lebih dari itu. Sepanjang perjalanan hidupnya yang penuh liku, dari masa muda sampai hari terakhirnya, benda ini selalu ada bersamanya: tergenggam di tangan, terselip di saku jas, bahkan sering kali diabadikan dalam sketsa, lukisan, maupun disebutkan berulang kali dalam surat-suratnya kepada Theo. Cangklong pipa menjadi saksi bisu kesepian, perjuangan, pemikiran, dan juga menjadi simbol yang menyimpan banyak makna mendalam di dalam kehidupan dan karya seni sang maestro.
Berdasarkan catatan dari Amsterdam Pipe Museum, Vincent mulai merokok sejak usia 15 tahun, hal yang sangat umum dan biasa di masa itu. Di abad ke-19, merokok sudah menjadi kebiasaan luas, bahkan dipercaya bisa menghilangkan rasa lapar, memberi rasa nyaman, dan menambah semangat. Orang Belanda khususnya dikenal sebagai perokok berat, dan jenis pipa yang paling populer saat itu adalah pipa dari tanah liat buatan Gouda, berwarna putih dengan batang panjang atau pendek. Orang kaya biasanya menggunakan pipa dengan batang paling panjang, sedangkan masyarakat biasa dan pekerja memilih yang batangnya pendek, bahkan sering yang batangnya sudah patah, karena lebih murah dan praktis.
Dari artikel yang sama, berjudul De pijp als remedie atau Pipa sebagai Obat, terungkap bahwa pada masa itu, tembakau bahkan dianggap sebagai obat resmi oleh dunia medis. Dokter sering menganjurkan merokok sebagai cara untuk mengobati berbagai keluhan, mulai dari sakit kepala, gangguan pencernaan, gangguan saraf, sampai rasa cemas dan depresi. Tidak heran jika Vincent sendiri memandang pipa bukan sekadar kebiasaan, tapi benar-benar sebagai obat dan penolong. Ia menyebutnya berkali-kali sebagai penawar segala kesusahan, sesuatu yang bisa meringankan beban pikiran, menghilangkan rasa sakit, dan membuatnya kembali kuat menghadapi hari-hari sulit. Saat ia merasa sakit, lapar, sedih, atau pikirannya kacau, menghisap pipa adalah hal pertama yang ia cari, karena baginya itu adalah obat paling murah, paling mudah didapat, dan paling efektif yang pernah ia kenal.
Menurut tulisan dari Smoking Pipes Blog, Vincent tidak hanya menggunakan satu jenis pipa saja sepanjang hidupnya. Selain pipa tanah liat Gouda yang menjadi andalan utamanya, ia juga memiliki dan menggunakan pipa dari kayu, bahkan pipa dari meerschaum (sejenis batu kapur yang ringan dan mudah dibentuk) yang saat itu dianggap lebih istimewa, meskipun harganya lebih mahal. Namun karena kondisi keuangannya yang sering pas-pasan, pipa tanah liat tetap menjadi pilihan utama karena harganya sangat terjangkau, hanya beberapa sen saja, sehingga bisa ia beli kapan pun ia butuhkan. Bahkan ia pernah menulis bahwa pipa tanah liat itu sangat bagus, karena jika rusak atau patah, ia bisa langsung membeli yang baru tanpa merasa rugi.
Melansir diskusi di forum Pipe Smokers Den, para penggemar dan peneliti pipa mencatat bahwa Vincent ternyata memiliki cukup banyak koleksi pipa, meskipun sebagian besar berjenis sederhana. Ia dikenal tidak terlalu rewel, tapi tetap merawatnya sebaik mungkin, bahkan membawa kotak penyimpanan khusus saat berpindah tempat tinggal. Bagi komunitas pecinta pipa, kebiasaan dan pandangannya terhadap pipa sangat istimewa, karena ia tidak hanya menggunakannya sebagai alat, tapi benar-benar menjadikannya bagian dari identitas diri, sampai-sampai benda ini tidak pernah terpisahkan dari dirinya baik dalam kehidupan nyata maupun dalam karya seninya.
Melansir penelitian yang dimuat di The Art Newspaper, hal yang paling menarik dan jarang diketahui adalah: Vincent sendiri meyakini bahwa merokok pipa secara langsung membantu dirinya dalam berkarya. Baginya, asap dan sensasi merokok bukan sekadar hiburan, melainkan cara untuk merangsang pikiran, menenangkan saraf, dan membuka jalan bagi ide-ide kreatif. Ia pernah menjelaskan dalam surat-suratnya, bahwa saat ia sedang buntu, lelah, atau sulit menemukan inspirasi, menghisap pipa adalah cara tercepat dan paling efektif untuk memulihkan kondisi mentalnya. Ia percaya bahwa tembakau membantu membuat pikirannya lebih jernih, mengurangi ketegangan, dan membuatnya lebih peka mengamati warna, bentuk, serta keindahan alam di sekitarnya — hal-hal yang menjadi inti dari karya-karyanya. Bahkan ia menyamakan peran pipa dengan kopi atau alkohol, tapi baginya pipa jauh lebih baik karena efeknya lebih lembut dan bertahan lebih lama, tidak membuatnya mabuk tapi justru membuatnya lebih fokus.
Menariknya, kebiasaan merokok ini juga ia warisi dari ayahnya, yang juga seorang perokok setia. Meskipun hubungan Vincent dengan ayahnya sering kali tidak harmonis, ia pernah menggambarkan kebiasaan ayahnya dalam surat tertanggal Januari 1882: saat ayahnya tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya akan berkata "Kamu membuatku sedih", sambil duduk tenang membaca koran dan menghisap pipanya. Bahkan pada tahun 1885, Vincent membuat lukisan benda mati yang secara khusus menggambarkan pipa milik ayahnya, lengkap dengan kantong tembakau, dan ia sempat menawarkan karya itu kepada Theo. Pipa ayahnya itu terbuat dari kayu, berbentuk bulat memanjang, model yang sangat populer di tahun 1880-an.
Vincent sendiri sudah menyatakan betapa pentingnya pipa baginya sejak usia muda. Dalam surat pertamanya yang masih tersimpan, tertulis tahun 1872 saat ia baru berusia 19 tahun dan tinggal di Den Haag, ia bahkan menyarankan Theo untuk ikut merokok dengan kalimat: "Theo, aku sarankan kamu juga merokok pipa, ini sangat baik jika kamu sedang merasa sedih atau tertekan". Hal ini membuktikan bahwa sejak awal, pipa sudah menjadi penghibur dan teman di saat sulit baginya.
Selain pipa itu sendiri, ia juga sering menggambar peralatan pendukungnya. Pada November 1884 saat tinggal di Nuenen, ia membuat lukisan benda mati yang menampilkan tempat penyimpanan pipa dari kayu, yang berfungsi melindungi pipa tanah liat agar tidak mudah patah. Benda ini sudah dianggap kuno di masa itu, tapi masih sering dipakai oleh petani hemat di daerah Brabant. Bahkan pada tahun 1883, ia menggambar seorang nelayan yang sedang merokok sambil menggunakan tungku kecil dari tanah liat untuk mengambil bara api dan menyalakan pipanya, alat yang juga sudah jarang dipakai tapi masih ia abadikan karena menggambarkan kehidupan masyarakat biasa.
Selain muncul dalam potret diri, pipa juga sering ia gambarkan pada wajah-wajah orang biasa yang menjadi model lukisannya, salah satu contohnya adalah karya Head of a Man with a Pipe yang dibuat antara November 1884 hingga Mei 1885, saat ia tinggal di Nuenen, dan kini tersimpan di Museum Kröller-Müller. Karya ini adalah bagian dari rangkaian latihan melukis figur manusia yang ia lakukan bersama temannya Anthon van Rappard. Saat itu mereka berkeliling desa dari rumah ke rumah mencari model, dan Vincent memutuskan membuat serangkaian studi potret sepanjang musim dingin, demi menyempurnakan tekniknya. Dalam lukisan ini, terlihat jelas bahwa Vincent masih dalam proses belajar, karena masih terdapat banyak kekurangan teknis: posisi mata tidak sejajar, perspektif simpul saputangan yang kaku, bahkan sudut pipa yang dibuat sedemikian rupa sehingga seolah tembakaunya akan langsung tumpah. Namun meskipun begitu, pipa tetap menjadi elemen penting yang tidak ia lupakan untuk dimasukkan. Di sini, pipa bukan lagi cerminan dirinya sendiri, melainkan menjadi identitas orang-orang pedesaan, simbol kehidupan sederhana dan keras yang ingin ia abadikan.
Vincent mulai terbiasa merokok pipa sejak masa ia bekerja sebagai pedagang seni di London dan Paris. Di lingkungan pekerja dan seniman kala itu, merokok pipa adalah hal yang umum, bahkan dianggap sebagai kebiasaan para pemikir dan seniman. Namun baginya, hal ini berkembang menjadi kebutuhan dan kenyamanan pribadi. Dalam surat-suratnya, ia sering menulis betapa pentingnya pipa dan tembakau baginya, terutama saat ia sedang kesulitan keuangan, lapar, atau sedang merasa sedih dan tertekan. Ia pernah berkata, bahwa tembakau adalah penghibur termurah yang bisa ia dapatkan, dan saat ia menghisap pipa, rasanya pikirannya jadi lebih tenang, ide-ide mulai muncul, dan kesepiannya sedikit berkurang. Bahkan ada masa di mana uangnya cuma cukup untuk membeli roti dan tembakau, ia lebih memilih membeli kedua hal itu daripada hal lain, karena baginya itu adalah kebutuhan dasar: roti untuk tubuh, tembakau untuk jiwa.
Dari catatan tambahan juga diketahui, saat tinggal di Arles, ia lebih menyukai tembakau jenis hitam yang kuat, dan sering membelinya dalam jumlah banyak, karena ia tidak bisa beraktivitas tanpa itu. Bahkan ketika Theo mengirim uang bulanan, sebagian besarnya selalu dialokasikan untuk membeli bahan lukis, makanan, dan tentu saja tembakau.
Tidak hanya menjadi teman dalam kehidupan nyata, cangklong pipa juga sering ia abadikan dalam karya-karyanya, menjadikannya objek yang bermakna, bukan sekadar pelengkap komposisi saja. Kita bisa melihatnya muncul dalam berbagai periode karyanya, mulai dari masa Nuenen, Paris, Arles, sampai masa di rumah sakit jiwa Saint-Rémy.
Salah satu contoh paling terkenal adalah pada lukisan potret dirinya, seperti Self-Portrait with Pipe buatan tahun 1886 saat tinggal di Paris, data lengkapnya tercatat di Web Gallery of Art. Lukisan berukuran 46 × 38 cm ini kini tersimpan di Van Gogh Museum, dan menjadi salah satu potret diri paling ikonik. Hampir separuh dari potret diri yang ia buat, ia menggambarkan dirinya sedang menghisap atau memegang pipa. Goresan pipa yang tegas, asap yang melayang ringan, semuanya menggambarkan ekspresi dirinya yang sedang dalam keadaan tenang, sedang merenung, atau sedang mempersiapkan diri untuk berkarya. Ada juga lukisan Still Life with Pipe dan Pipe and Onions, di mana pipa diletakkan bersama benda-benda sederhana lainnya, seolah menegaskan bahwa ini adalah bagian dari kesehariannya yang tidak terpisahkan.
Yang paling menarik, saat ia melukis pipa, sering kali ada makna tersirat yang bisa dibaca. Misalnya pada masa ia tinggal bersama Gauguin di Yellow House, pipa juga sempat muncul dalam beberapa karya, seolah menjadi simbol persahabatan mereka kala itu, karena Gauguin juga seorang perokok pipa. Bahkan setelah hubungan mereka retak dan Gauguin pergi, keberadaan pipa dalam lukisannya berubah nuansanya: terlihat lebih sepi, atau diletakkan sendirian, mencerminkan perasaannya yang kembali kesepian dan ditinggalkan.
Selain itu, ada juga hubungan unik antara pipa dengan kondisi kesehatannya. Saat ia mengalami gangguan mental dan dirawat di Saint-Rémy, dokter pernah melarangnya merokok karena khawatir akan memengaruhi kondisinya. Namun bagi Vincent, larangan itu terasa sangat berat, karena baginya pipa adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap menjadi dirinya sendiri, bahkan saat ia sedang kehilangan kendali atas pikirannya. Dalam surat kepada Theo, ia memohon agar dikirimi tembakau, karena katanya itu membantu dia menenangkan diri saat serangan datang.
Menariknya lagi, ada juga mitos dan fakta unik terkait pipanya. Konon, saat ia meninggal dunia, ditemukan sebuah cangklong pipa di samping tubuhnya, masih ada sisa tembakau di dalamnya, seolah ia baru saja menghisapnya sesaat sebelum kejadian tragis itu. Benda ini kemudian menjadi salah satu peninggalan paling berharga, yang kini tersimpan dengan baik sebagai bukti nyata kehidupan sehari-harinya.
Bagi Vincent, pipa juga memiliki makna filosofis. Ia melihat asap yang keluar dari pipa sebagai sesuatu yang indah, ringan, dan terus berubah bentuk, sama seperti seni, sama seperti pikiran, dan sama seperti kehidupan itu sendiri: muncul, berubah, lalu lenyap, tapi meninggalkan kesan dan makna. Ia pernah menulis, bahwa merokok pipa itu seperti berdoa dalam diam, atau seperti melukis dengan napas sendiri.
Jadi, setiap kali kita melihat goresan cangklong pipa di lukisan Van Gogh, kita tidak sedang melihat sekadar benda. Kita sedang melihat teman setia yang menemaninya melewati hari-hari yang sulit, hari-hari penuh kesepian, hari-hari sakit, dan hari-hari di mana ia menciptakan karya-karya agung dunia. Sebuah benda sederhana, tapi memegang peran besar dalam perjalanan hidup dan seni sang maestro.

Social Header