Breaking News

Adolf Hitler: Sang Pelukis dari Austria Oleh: Hamid Nabhan

   Adolf Hitler, sosok yang dikenal dunia sebagai pemimpin politik paling berpengaruh dan kontroversial pada abad ke‑20, pada dasarnya memulai masa mudanya dengan cita‑cita yang jauh berbeda dari apa yang dikenal sejarah. Sebelum terjun ke dunia politik dan kekuasaan, ia adalah seorang pemuda asal Austria yang bercita‑cita tinggi menjadi seorang seniman profesional. Selama bertahun‑tahun, ia hidup, belajar, dan berjuang sebagai pelukis, berharap bisa meniti jalan hidupnya lewat karya seni. Sisi kehidupan inilah yang sering terlupakan, namun menjadi bab penting dalam memahami perjalanan hidup manusia yang bernama Adolf Hitler.

   Lahir di Braunau am Inn, Austria, pada 20 April 1889, ia sejak kecil sudah menunjukkan ketertarikan besar pada seni. Berbeda dengan keinginan ayahnya yang menginginkan ia menjadi pegawai negeri sipil, Adolf muda memiliki hasrat kuat untuk menjadi pelukis. Di sekolah, ia dikenal memiliki bakat menggambar yang cukup baik, meski nilai pelajaran lainnya sering kali tidak memuaskan. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia pun bertekad mengejar mimpinya itu. Pada tahun 1907, di usia 18 tahun, ia pergi ke Wina, ibu kota kerajaan yang kala itu menjadi pusat budaya dan seni terbesar di Eropa, dengan tujuan mendaftar ke Akademi Seni Rupa Wina.

   Di kota Wina inilah perjalanan seninya dimulai sekaligus menemui hambatan besar. Ia mengikuti ujian masuk Akademi Seni Rupa pada tahun 1907 dan kembali lagi pada tahun 1908. Namun, kedua kali ia ditolak. Dewan penguji kala itu menilai bahwa karya‑karyanya memang memiliki keahlian dalam menggambar bangunan dan arsitektur, namun kurang memiliki bakat dalam melukis manusia, karakter, maupun komposisi yang hidup dan ekspresif. Salah satu penguji kala itu dikabarkan menyarankan agar ia mendalami arsitektur, karena gambar‑gambar bangunan dan pemandangannya dinilai jauh lebih baik dibandingkan karya lukis tokoh atau manusia. Penolakan ini menjadi titik balik yang berat baginya, namun tidak langsung membuatnya berhenti melukis.

   Selama tinggal di Wina antara tahun 1908 hingga 1913, dan kemudian saat pindah ke Munchen, Jerman, hingga tahun 1914, ia hidup sehari‑harinya dengan cara melukis. Ia menjadi pelukis lepas yang membuat gambar‑gambar pemandangan kota, bangunan bersejarah, monumen, jalanan, dan lanskap alam, lalu menjual karyanya kepada turis, pedagang seni, atau penduduk setempat sebagai sarana bertahan hidup. Gaya lukisannya sangat mudah dikenali: realis, rinci, rapi, dan sangat presisi terutama dalam menggambar garis‑garis bangunan, jembatan, gereja, dan tata kota. Warna‑warnanya cenderung tenang, tidak mencolok, dan nuansanya sering kali terasa statis, kaku, namun sangat teratur dan rapi. Ia sangat jarang melukis orang, dan jika ada gambar manusia di dalam karyanya, biasanya ukurannya kecil, detailnya sederhana, dan berfungsi hanya sebagai pelengkap pemandangan saja.

   Secara teknis, ia menguasai teknik perspektif, komposisi ruang, dan penggambaran bentuk benda mati atau bangunan dengan cukup baik. Banyak karya lukis dan gambar arangnya yang menunjukkan ketelitian yang tinggi dan rasa keteraturan yang kuat. Bagi pemuda Hitler, melukis bukan sekadar hobi, melainkan cara berpikir dan cara memandang dunia. Ia sangat mengagumi seni klasik, arsitektur megah zaman dahulu, dan karya‑karya realis, sementara ia sangat tidak menyukai aliran seni modern, abstrak, atau impresionis yang berkembang pesat di masanya, yang dianggapnya tidak beraturan, kabur, dan menjauh dari keindahan bentuk yang jelas.

   Saat Perang Dunia Pertama meletus pada tahun 1914, karier melukisnya terhenti karena ia ikut serta menjadi tentara. Namun, semasa di medan perang pun ia masih sering membuat sketsa, gambar posisi pertahanan, atau pemandangan lingkungan sekitarnya. Bahkan setelah perang usai, saat ia mulai perlahan masuk ke dunia politik, ia masih sempat melukis beberapa karya, meski frekuensinya makin berkurang seiring bertambahnya aktivitas politiknya.

   Hingga akhir hidupnya, ia sendiri selalu merasa bahwa dirinya pada hakikatnya tetaplah seorang seniman. Ia pernah berkata bahwa ia gagal menjadi pelukis, namun berhasil menjadi seorang politisi, dan dalam politik pun ia selalu membawa pandangan seninya: kecintaannya pada keteraturan, simetri, kemegahan bentuk, dan penolakan terhadap apa yang dianggapnya tidak rapi atau tidak indah. Di kemudian hari, saat ia memegang kekuasaan, pandangan seninya yang kaku dan murni ini juga terlihat dari kebijakan‑kebijakan budayanya: ia sangat mendukung seni realis, klasik, dan arsitektur megah bergaya kerajaan kuno, sementara melarang dan menganggap "seni yang rusak" bagi karya‑karya modern, abstrak, atau ekspresionis yang tidak sesuai selera seninya.

 


   Sebagai seorang pelukis, Adolf Hitler menghasilkan sekitar 2.000 hingga 3.000 karya selama hidupnya, berupa lukisan cat minyak, cat air, gambar arang, dan sketsa pensil. Karya‑karyanya kini dilihat sejarah bukan sebagai karya seni kelas dunia, melainkan sebagai bukti sejarah perjalanan hidup seseorang. Secara seni, karya‑karyanya dinilai cukup teknis namun kurang memiliki jiwa, kurang ekspresi, dan terlalu kaku, namun sangat mencerminkan karakter dan cara pandang pembuatnya yang sangat mementingkan ketertiban, struktur, dan kejelasan bentuk.

   Melihat Adolf Hitler hanya dari sisi seniman pelukisnya, kita melihat seorang pemuda Austria yang penuh cita‑cita, tekun, teliti, namun juga keras kepala dan memiliki selera seni yang sangat kaku dan teratur. Ia adalah manusia biasa yang pernah bermimpi hidup lewat seni, namun takdir hidupnya membawanya berjalan ke jalan yang jauh berbeda, meninggalkan jejak yang jauh lebih besar dan rumit bagi dunia, sementara karya‑karya lukisnya hanya tinggal menjadi sisa‑sisa perjalanan awal hidupnya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Art and History: The Paintings of Adolf Hitler. (2018). London: Imperial War Museum Publishing.

2. Waite, Robert G. L. (1993). The Psychopathic God: Adolf Hitler. New York: Da Capo Press.

3. Historia.id. (2022). Hitler Sang Pelukis: Cita‑cita Seni yang Terhalang Takdir. Jakarta: PT Historia Media Indonesia.

*https://en.wikipedia.org/wiki/Paintings_by_Adolf_Hitler

*https://www.wikiart.org/en/adolf-hitler

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id