Breaking News

The Battle of Santiago: Ketika Sepak Bola Berubah Jadi Medan Perang

Oleh: Hamid Nabhan

   Pernah mendengar dalam sebuah pertandingan sepak bola dimana pemain saling meludahi, melepaskan pukulan hook kiri ala petinju, menendang kepala lawan bak atlet karate, hingga polisi bersenjata harus turun tangan berkali-kali ke tengah lapangan?  Bukan, ini bukan pertandingan tingkat kampung.  Ini adalah Piala Dunia 1962, dunia mengenalnya dengan julukan yang mengerikan: The Battle of Santiago.  Laga babak grup antara tuan rumah Chili melawan Italia yang digelar pada 2 Juni 1962 ini telah disepakati oleh seluruh sejarawan sebagai pertandingan paling brutal, menjijikkan, dan memalukan dalam sejarah sepak bola.  Di hadapan 66.057 penonton, di Estadio Nacional, apa yang terjadi bukan lagi olahraga, melainkan perang terbuka. 

   Anehnya, segalanya bermula dari tulisan dua orang jurnalis Italia, Antonio Ghiredelli dan Corado Pizzinelli.  Beberapa minggu sebelum turnamen, mereka menulis artikel yang sangat pedas dan menghina, menyebut Santiago "kotor, penuh kemiskinan, dan sarang prostitusi".  Padahal saat itu Chili sedang berjuang bangkit dari keterpurukan.  Baru dua tahun sebelumnya, negeri ini diguncang gempa Valdivia 1960 berkekuatan 9,5 skala Richter, gempa terbesar dalam sejarah manusia yang menghancurkan banyak infrastruktur.  Namun mereka berhasil bangkit berkat semangat juang yang luar biasa.  Artikel hinaan itu diterjemahkan dan dimuat di koran lokal Chili, bahkan diedit agar terdengar lebih pedas dengan judul "perang Dunia".  Seluruh rakyat Chili murka, luapan soal sepak bola, mereka menginginkan dendam.  Orang Italia dilarang masuk bar, bahkan seorang jurnalis Argentina sampai digebuki massa karena dikira orang Italia.  Menyadari situasi panas, para pemain Italia mencoba untuk merendahkan tensi dengan membawa buket bunga untuk wanita Chili di tribun sebelum kick-off dilakukan, namun bunga-bunga itu dilempar balik dengan penuh jijik.  Tidak ada ampun di hari itu. 

   Ketika wasit asal Inggris, Ken Aston, meniup peluit tanda pertandingan dimulai, pemain Chili langsung menerjang.  Hanya butuh waktu 12 detik dan terjadilah pelanggaran pertama!  Suasana makin panas, pemain saling meludahi, menyenggol, dan memprovokasi.  Namun ajaibnya, setiap kali Italia membalas, justru mereka yang dihukum.  Di menit ke-12, Giorgio Ferrini diusir karena melanggar keras, tapi ia menolak keluar lapangan.  Butuh waktu 8 menit dan pasukan polisi bersenjata untuk menyeretnya keluar lapangan dengan paksa tapi Ferrini masih sempat mengumpat.  Memasuki akhir babak pertama, Leonel Sanchez, pemain Chili yang merupakan anak seorang petinju profesional, dilanggar oleh Mario David.  Sanchez berdiri dan melepaskan hook kiri telak yang mematahkan hidung David, komentator BBC sampai berkomentar bahwa itu adalah pukulan tinju paling rapi yang pernah dilihatnya, namun anehnya wasit tutup mata dan Sanchez lolos dari hukuman.  Tak Terima diperlakukan demikian, beberapa menit kemudian David membalas dengan melakukan tendangan terbang tepat ke kepala Sanchez, kali ini wasit melihatnya dan mengusir David, membuat Italia harus bermain dengan hanya sembilan orang. 

   Di babak kedua, kekacauan makin menjadi-jadi.  Sanchez kembali melepaskan pukulan ke wajah pemain Italia yang lain, yaitu Humberto Maschio.  Pertandingan benar-benar berubah menjadi tawuran jalanan, polisi harus bolak-balik masuk lapangan  untuk melerai perkelahian.  Wasit Ken Aston sampai merasa putus asa dan bergumam, "Saya tidak sedang mewasiti pertandingan sepak bola, saya sedang mewasiti manuver militer! "  Meski bermain dengan sembilan orang, Italia bertahan gigih, namun akhirnya mereka kebobolan di menit ke-73 oleh sundulan Jaime Ramirez, dan ditutup dengan tendangan jarak jauh Jorge Toro di menit ke-87, skor 2-0 untuk Chili.  Begitu peluit akhir berbunyi, para pemain Italia langsung lari terbirit-birit masuk ruang ganti karena takut dihakimi massa yang murka. 

   Esoknya, komentator legendaris BBC, David Coleman, membuka siarannya dengan kalimat yang sangat ikonik dan pedas, "pertandingan yang akan anda saksikan ini adalah pertunjukan sepak bola paling bodoh, paling mengerikan, menjijikan, dan memalukan dalam sejarah permainan ini.  Moto nasional Chili adalah 'dengan akal atau kekuatan'.  Hari ini, mereka tidak mau pakai akal, dan Italia cuma pakai kekuatan."  Namun di balik kekacauan dan aib tersebut, pertandingan ini ternyata menyusahkan warisan penting bagi dunia sepak bola.  Frustasi wasit Ken Aston saat menghadapi pemain yang tidak mengerti bahasa dan menolak keluar lapangan, membuatnya terinspirasi menciptakan sistem komunikasi universal.  Ia mengambil ide dari lampu lalu lintas, kuning untuk peringatan dan merah untuk mengusir.  Sistem kartu ini pertama kali dipakai secara resmi di Piala Dunia 1970 dan sampai sekarang digunakan di seluruh dunia.  

   Sunggu ironis sepak bola yang katanya bahasa persatuan dunia, hari itu justru berubah menjadi ajang balas dendam antar-negara hanya karena tulisan dua orang wartawan, namun dari kekacauan itulah lahir aturan baru yang membuat permainan sepak bola menjadi jauh lebih teratur hingga hari ini.


© Copyright 2022 - metroglobalnews.id