Pada tahun 1890, di masa-masa terakhir hidupnya, Vincent van Gogh menciptakan serangkaian lukisan bertema rumah dan taman milik pelukis kenamaan Charles‑François Daubigny, sosok aliran seni Barbizon yang sangat ia kagumi. Sesampainya di Auvers‑sur‑Oise, ia segera mengunjungi tempat tersebut, yang saat itu masih didiami oleh janda Daubigny, dan terinspirasi untuk mengabadikan keindahannya di kanvas.
Keinginan ini sudah tertuang jelas dalam suratnya kepada saudara sekaligus pendukungnya, Theo, tertanggal 17 Juni 1890: “Aku punya ide untuk membuat karya yang lebih besar lagi, menggambarkan rumah dan taman milik Daubigny; untuk ini aku sudah membuat sketsa kecilnya terlebih dahulu.” Saat itu ia bahkan menggambar sketsanya di atas alas piring teh, karena masih menunggu kiriman kanvas dari Paris.
Dalam rentang Mei hingga Juli 1890, ia menghasilkan tiga versi karya berbeda. Versi pertama berukuran persegi, kini tersimpan di Van Gogh Museum Amsterdam. Uniknya, karya ini dibuat di atas handuk teh bergaris merah‑putih yang sebelumnya dilapisi dasar warna merah muda, dan seiring berjalannya waktu, warna tersebut memudar sehingga kini tampak keabu‑abuan. Versi kedua berukuran lebih besar, berjudul Daubigny’s Garden with Black Cat, di mana tampak jelas seekor kucing hitam sedang melintas di jalur taman. Karya ini berukuran 56 × 101,5 cm, berteknik cat minyak di atas kanvas, dan kini menjadi koleksi Kunstmuseum Basel, Swiss. Sedangkan versi ketiga, yang juga berukuran besar, tersimpan di Museum Seni Hiroshima, Jepang. Pada versi aslinya juga terdapat gambar kucing, namun setelah Van Gogh meninggal, sosok tersebut ditutup dengan cat dan hilang, hingga kini alasan pastinya belum diketahui.
Pada 10 Juli 1890, ia kembali menulis surat kepada Theo: “Kanvas ketiga ini adalah taman milik Daubigny, lukisan yang sudah lama aku pikirkan dan rencanakan sejak pertama kali tiba di sini.” Bahkan hanya beberapa minggu sebelum wafat, tepatnya 23 Juli 1890, ia menegaskan bahwa karya ini sangat istimewa baginya: “Ini adalah salah satu kanvas yang paling aku kerjakan dengan penuh pertimbangan dan pemikiran matang.” Ia juga menjelaskan detail warna dan komposisinya: “Bagian depan penuh dengan rerumputan berwarna hijau dan merah muda, di tengahnya ada hamparan bunga mawar. Ke arah kanan terlihat pagar, tembok, dan pohon limau dengan batang berwarna kuning keemasan, sedangkan rumahnya berdiri di latar belakang, berwarna merah muda dengan atap biru keabu‑abuan.”
Keberadaan kucing hitam itu menjadi daya tarik tersendiri. Digambar dengan gaya sederhana, seolah coretan tangan anak kecil, ia bukan sekadar pelengkap semata, melainkan simbol kehidupan yang membuat suasana taman yang tenang itu terasa hidup dan bernapas. Van Gogh menyusun komposisinya secara bebas dan ekspresif, bahkan bangunan seperti Gereja Auvers yang sebenarnya tidak terlihat dari sudut pandangnya, tetap ia gambarkan agar keindahan taman menjadi pusat perhatian utama.
Sayangnya, janda Daubigny meninggal dunia pada 22 Desember 1890, tak lama setelah kepergian Van Gogh, sehingga ia tak pernah sempat menerima karya yang memang dibuat khusus untuknya itu. Lukisan ini pun berpindah tangan ke berbagai kolektor dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Namun maknanya tak pernah pudar, seolah menggambarkan ungkapan yang terkenal: “Kucing itu mati, tapi konon punya tujuh nyawa. Sedangkan Van Gogh dan karyanya, akan hidup selamanya.”
Kini taman aslinya sudah dipugar dan dijadikan Maison‑Atelier de Daubigny, yang berdiri tegak sebagai saksi sejarah. Ia membuktikan bahwa bahkan seekor kucing yang sekilas melintas, mampu menjadi bagian yang tak terpisahkan dan abadi dalam sejarah seni dunia.

Social Header