Breaking News

PVMBG Lakukan Kajian Komprehensif Gerakan Tanah di Ladolima Timur, Data Awal Segera Dianalisis di Bandung



NAGEKEO — mgn.id. Badan Geologi melalui PVMBG melakukan kajian ilmiah terhadap fenomena gerakan tanah yang terjadi di wilayah Boamuri, Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, pada Rabu (1/4/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Balai Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Geologi Wilayah Nusa Tenggara (NTT–NTB) sebagai respons atas permohonan resmi pemerintah daerah terkait munculnya rekahan tanah yang berpotensi membahayakan masyarakat.

Tim kajian dipimpin langsung oleh Kepala Balai Nusa Tenggara, Arios Ghele Radja, bersama tim ahli gerakan tanah. Mereka melakukan serangkaian kegiatan teknis di lapangan, meliputi pengecekan lokasi terdampak, pengambilan data geologi, serta pengamatan kondisi fisik lingkungan sekitar yang berkaitan dengan potensi pergerakan tanah.

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Kegiatan kajian ini turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya anggota DPRD Provinsi NTT Paulinus Yohannes Nuwa Veto, anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari Partai Hanura Georgia Maria Imakulata Embula, serta tim dari BPBD Kabupaten Nagekeo

Kehadiran unsur legislatif dan tim kebencanaan daerah ini menjadi bagian dari upaya koordinatif lintas sektor dalam merespons potensi bencana geologi yang terjadi di wilayah tersebut.

Data Awal dan Proses Analisis Lanjutan

Dalam pelaksanaan di lapangan, tim fokus pada pengumpulan data awal yang mencakup kondisi rekahan tanah, karakteristik material, serta indikasi pergerakan lereng. Data tersebut selanjutnya akan dirangkum dalam laporan pendahuluan.

Laporan awal ini akan dikirim ke kantor pusat PVMBG di Bandung untuk dilakukan analisis lebih mendalam. Hasil analisis tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi teknis yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

Edukasi Mitigasi: Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Selain melakukan kajian teknis, tim juga memberikan edukasi langsung kepada masyarakat setempat sebagai langkah awal mitigasi berbasis komunitas.

Masyarakat dihimbau untuk tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemantauan sederhana terhadap pergerakan tanah. Salah satu metode yang disarankan adalah pemasangan tali penghubung antara pohon yang berada di area stabil dan pohon di area yang diduga mengalami pergerakan. Jika dalam beberapa hari tali tersebut mengalami putus, hal ini dapat menjadi indikasi adanya pergeseran tanah.

Di samping itu, masyarakat juga diminta untuk memperhatikan perubahan kondisi mata air. Air yang menjadi keruh atau bahkan menghilang secara tiba-tiba dapat menjadi tanda adanya perubahan struktur tanah di bawah permukaan.

Penanganan Sederhana yang Krusial

Tim PVMBG juga menekankan pentingnya langkah-langkah sederhana namun krusial yang dapat dilakukan masyarakat secara mandiri. Salah satunya adalah menutup rekahan tanah untuk mencegah masuknya air ke dalam celah tersebut.

Air yang masuk ke dalam rekahan dapat meningkatkan beban massa tanah dan mempercepat terjadinya pergerakan, sehingga memperbesar risiko longsor atau pergeseran lanjutan.

Mitigasi Jangka Panjang Berbasis Lingkungan

Untuk upaya jangka panjang, masyarakat dianjurkan melakukan langkah-langkah konservasi lingkungan guna menjaga stabilitas lereng. Di antaranya dengan menanam pohon berakar kuat di bagian kaki lereng sebagai pengikat tanah alami.

Selain itu, pengelolaan air juga menjadi perhatian penting. Air dari mata air diimbau tidak dibiarkan mengalir bebas ke lereng, melainkan diarahkan melalui sistem penyaluran (penurapan) agar tidak memperlemah struktur tanah.

Pentingnya Peningkatan Kapasitas Masyarakat

PVMBG menegaskan bahwa peningkatan kapasitas masyarakat melalui kegiatan sosialisasi mitigasi bencana geologi merupakan langkah strategis dalam mengurangi risiko bencana.

Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah serta mengambil langkah antisipatif secara mandiri sebelum dampak yang lebih besar terjadi.

Penulis : James Bisara

MGN : Nagekeo

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id