Breaking News

Kisah Ali Al-Sadili Dan Penemuan Kopi Di Tanah Yaman Oleh: Hamid Nabhan

 Sejarah kopi memang sarat dengan kisah dan legenda yang menarik, di mana berbagai versi cerita saling melengkapi untuk menggambarkan perjalanan minuman yang kini digemari orang di seluruh dunia ini.  Jika ditelusuri, asal mula tanaman kopi sesungguhnya berasal dari wilayah Etiopia, di mana penduduk setempat sejak lama memanfaatkan buahnya sebagai bahan makanan penambah tenaga dengan cara dicampur lemak hewan.  Tanaman ini kemudian dibawa masuk ke Yaman oleh para pedagang maupun peziarah yang melewati rute perdagangan dan rute perjalanan ibadah.  Namun, bentuk kopi sebagai minuman yang kita kenal saat ini justru lahir dan berkembang di tanah Yaman, dan di sanalah sosok Ali bin Umar al-Sadili memainkan peran yang sangat penting. 

   Ali bin Umar al-Sadili dikenal sebagai seorang ahli agama, tabib, dan cendekiawan yang hidup di Yaman.  Ia memiliki kepandaian dalam mengobati berbagai penyakit, namun keahliannya itu justru menimbulkan rasa iri dan kecurigaan di kalangan sebagian masyarakat.  Akibat fitnah yang dijatuhkan kepadanya, ia diusir dari kota kelahirannya, Tarim, dan terpaksa hidup mengasingkan diri di daerah pegunungan yang terpencil. 

   Di tengah kesulitan hidupnya dalam masa pengasingan, ia suatu hari menemukan sejenis tanaman yang memiliki bunga putih dan buah berwarna merah cerah.  Ia memperhatikan bahwa hewan-hewan yang memakan buah dari tanaman tersebut menjadi lebih lincah, bersemangat, dan tidak mudah lelah.  Setelah mengamatinya dalam waktu yang cukup lama dan meyakini bahwa buah itu tidak menimbulkan bahaya, ia mulai melakukan berbagai percobaan untuk mengolahnya.  Awalnya ia hanya memakan  buahnya secara langsung, namun rasanya terasa pahit dan tidak enak.  Ia pun mencoba cara lain, yaitu memanggang bijinya, menggilingnya, lalu menyeduhnya dengan air panas.  Hasilnya, terciptalah minuman yang memiliki rasa khas dan memberikan efek membuat tubuh menjadi segar, pikiran terjaga, serta rasa lelah hilang seketika. 

   Ketika terjadi wabah penyakit yang melanda kota Mekah, Ali bin Umar al-Sadili turut berangkat ke sana sambil membawa serta biji tanaman yang telah ditemukannya itu.  Ia memanfaatkan seduhan biji tersebut bersama dengan ramuan tanaman lainnya untuk mengobati orang-orang yang sakit.  Berkat jasanya yang besar dalam membantu kesembuhan banyak orang, nama baiknya pun dipulihkan kembali, dan ia diizinkan pulang ke kampung halamannya. 

   Sejak saat itu, minuman yang ditemukannya mulai dikenal luas di seluruh wilayah Yaman.  Terutama di kota pesisir yang bernama Mocha.  Kota ini menjadi pusat utama perdagangan dan penyebaran biji kopi, sehingga minuman itu dikenal dengan sebutan kopi Mocha, sebutan yang masih kita kenal hingga sekarang.  Bahkan, semua kopi yang keluar  dari pelabuhan ini dinamakan demikian, tidak peduli dari mana asalnya, mirip dengan penyebutan kopi Mandheling di Indonesia.  Lama-kelamaan, sebutan ini juga berubah bunyi menjadi moka, dan kini istilah itu bahkan sering digunakan untuk menyebut campuran minuman kopi dengan cokelat. 

        Perkembangan kopi di Yaman berjalan sangat pesat.  Sejak abad ke-15, kopi tidak hanya diolah menjadi minuman tetapi juga mulai dibudidayakan secara sistematis, menjadikan Yaman sebagai negara pertama yang memproduksi dan memperdagangkannya dalam skala luas, bahkan lebih awal dibanding negara lain.  Meskipun hanya sekitar tiga persen wilayah Yaman yang cocok untuk  pertanian.  Umumnya berupa daerah dataran tinggi yang diolah  dengan sistem terasering, kualitas kopinya tetap terjaga dengan baik dan dikenal memiliki cita rasa yang khas,  kompleks, serta bernilai tinggi. 

   Dari Yaman, kopi mulai menyebar ke berbagai wilayah, terutama dibawa dan dikembangkan oleh kalangan ahli tasawuf.  Mereka meminumnya agar tetap terjaga dan berkonsentrasi saat melakukan ibadah berzikir yang berlangsung sepanjang malam.  Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini menyebar ke kota-kota besar seperti Mekah, Madinah, Kairo, Damaskus, dan Konstantinopel (sekarang Istanbul).  Di tempat-tempat ini bermunculan tempat berkumpul yang kemudian dikenal sebagai kedai kopi (cafe), yang menjadi pusat pertemuan untuk membahas berbagai hal mulai dari urusan agama, sosial, hingga politik. 

   Dalam penyebarannya, minuman ini dikenal dengan sebutan 'qahwa' dalam bahasa Arab. Kata ini berarti "sesuatu yang membuat seseorang tidak membutuhkan sesuatu", yang dalam konteks ini dimaksudkan sebagai minuman yang membuat orang tidak mudah mengantuk.  Seiring perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain, penyebutan kata itu pun mengalami perubahan bunyi, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan kafe atau kopi seperti yang kita gunakan saat ini. 

   Selama berabad-abad lamanya, Yaman memegang kendali penuh atas perdagangan dan penyebaran kopi.  Untuk menjaga perdagangannya, biji kopi yang diperdagangkan biasanya direbus atau dipanggang terlebih dahulu agar tidak dapat tumbuh jika ditanam di tempat lain.  Kendali ini baru terputus pada abad ke-17, ketika benih kopi berhasil dibawa keluar secara sembunyi-sembunyi, terutama oleh pedagang dari Belanda, yang kemudian membudidayakannya di daerah jajahan mereka seperti pulau Jawa di Indonesia dan di Suriname di Amerika Selatan.  Jenis kopi yang pertama kali ditanam adalah kopi Arabika, tepatnya varietas Typica (Coffea arabica var.typica) yang dikenal memiliki kualitas rasa yang sangat baik. 

  Popularitas kopi terus meningkat dan tidak dapat dibendung.  Ia kemudian dibawa masuk ke Eropa, di mana kedai kopi menjadi tempat pertukaran gagasan dan pengetahuan, lalu dibudidayakan di berbagai wilayah tropis, hingga akhirnya menjadi salah satu komoditas perdagangan terbesar dan minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. 

   Hingga saat ini, warisan kopi Yaman tetap dihargai tinggi.  Ia dianggap sebagai salah satu asal mula kopi dunia, dan cita rasanya yang unik masih dicari oleh para penikmat kopi di mana pun.  Demikianlah jejak panjang yang bermula dari penemuan sederhana oleh Ali bin Umar al-Sadili di tanah Yaman, yang kemudian berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya masyarakat di berbagai negara. 


Daftar Pustaka

- Al-Jaziri, Abd al-Qadir. Umdat al-safwa fi hill al-qahwa. Abu Dhabi; Hay'at Abu Zaby lil-thaaqafa wa-al-turath, 2007.

- Pendergrast, Mark. Uncommon Grounds: the History of Coffee and How It Transformed Our World New York: Basic Books, 1999.

- Hoffmann, James. The World Atlas of Coffee. London; Mitchell Beazley, edisi ke-2, 2018.

- Al-Hadramy, H Abdurahman bin Muhammad Al-Husainy. I'naasush Shofwa bi Anfaasil Qohwah. 

- Indarto, Prawoto. The Road to Java Coffee. Bandung: Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 2014.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id