Alhamdulillah, tiada kata yang lebih indah selain memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Betapa besar nikmat yang dikaruniakan-Nya, hingga kaki ini sanggup melangkah menziarahi tempat peristirahatan terakhir salah satu sahabat mulia Rasulullah. Suatu hari di Istanbul, saya bersama seorang sahabat berada di kawasan Sultanahmed yang bersejarah dekat Masjid Hagia Sophia. Di tengah kekaguman memandang kemegahan peninggalan zaman dahulu, hati tergerak untuk menuju tempat yang lebih suci dan penuh berkah. Kami pun memanggil sebuah taksi untuk melaju ke kawasan Eyüp, lokasi makam sahabat Nabi, Sayyidina Abu Ayyub Al-Ansari. Perjalanan menempuh jarak yang agak jauh, dan pada saat itu kami membayar ongkos perjalanan sebesar 125 Lira Turki.
Sebelum masuk ke bagian makam, terdapat ruang khusus yang berdekatan, di mana disimpan berbagai benda bersejarah. Semua barang itu ditempatkan di dalam lemari kaca agar tetap terjaga keaslian dan keutuhannya. Di antara koleksi yang ada, banyak di antaranya merupakan peninggalan milik Sayyidina Abu Ayyub Al-Ansari sendiri, barang-barang yang pernah ia miliki dan gunakan sepanjang hidupnya. Melihat benda-benda tersebut membuat hati terasa terhubung dengan masa lalu, seolah turut merasakan ketulusan dan pengorbanan yang pernah ia curahkan demi agama dan Rasulullah.
Setelah melewati ruang itu, tibalah kami di area sekitar makam, dan kedamaian luar biasa segera menyelimuti segenap jiwa. Rasa syukur semakin memuncak menyadari bahwa diri ini berkesempatan berdiri di hadapan makam orang yang diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Tempat ini bukan sekadar tanah pemakaman biasa, melainkan saksi bisu kesetiaan dan pengorbanan yang tak ternilai harganya bagi perjalanan agama Islam.
Di lingkungan sekitar makam ini juga terlihat beberapa ekor kucing yang berkeliaran dengan tenang. Saya menyaksikan bagaimana orang-orang Turki yang berkunjung dengan senang hati memberikan makanan kepada hewan-hewan tersebut. Memang sudah menjadi kebiasaan dan sifat dasar masyarakat di sini untuk menyayangi dan memelihara kucing. Bagi mereka, memberi makan dan berbuat baik kepada makhluk ciptaan Allah adalah perbuatan yang terpuji, sehingga di mana pun kita berada di negeri ini, selalu terlihat perhatian dan kasih sayang yang mereka curahkan kepada hewan, terutama kucing.
Kembali ke Abu Ayub sahabat nabi yang nama aslinya ialah Khalid bin Zaid bin Kulayb, berasal dari kabilah Khazraj di Madinah, dan termasuk dalam golongan Anshar yang rela mengorbankan harta maupun jiwa demi menolong Rasulullah beserta para pengikutnya sesudah peristiwa hijrah. Ketika Nabi tiba di Madinah, seluruh penduduk berlumba-lumba mengundang agar Baginda singgah di kediaman masing-masing. Namun Rasulullah bersabda agar membiarkan unta tunggangannya berjalan sendiri, sebab hewan itu mendapat perintah Ilahi. Unta itu melangkah tenang hingga berhenti tepat di sebidang tanah milik dua anak yatim, berdekatan dengan rumah Abu Ayyub. Saat itulah air mata bahagia mengalir deras, menyadari bahwa keluarganya dipilih langsung oleh Allah menjadi tempat persinggahan utusan-Nya. Ia merasa dirinya dan keluarganya adalah golongan yang paling beruntung di sisi Tuhan.
Keluarga ini memuliakan tamu agung itu dengan sepenuh hati. Awalnya Rasulullah menempati ruang bawah sedangkan penghuni rumah tinggal di lantai atas. Namun timbul rasa tidak nyaman, khawatir langkah kaki di lantai atas akan mengganggu ketenangan Nabi. Maka dipindahkanlah tempat tinggal Rasulullah ke ruang atas sebagai wujud penghormatan yang tulus. Ikatan batin yang terjalin membuatnya tak pernah terpisahkan dari perjuangan menegakkan kalimat Allah. Ia turut serta dalam hampir seluruh peperangan besar, mulai dari Perang Badar, Uhud, Khandak hingga Penaklukan Kota Mekkah. Selalu berada di barisan paling depan, tak pernah gentar menghadapi bahaya demi membela kebenaran.
Kesetiaan itu terus berlanjut setelah Rasulullah wafat. Ia tetap teguh mendukung kepemimpinan para pemimpin umat sesudahnya, dari Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib. Kecintaan yang mendalam terhadap ajaran Islam tampak jelas ketika ia menempuh perjalanan jauh semata-mata untuk mendengar satu buah ucapan langsung dari mulut sahabat Nabi yang lain. Baginya, mendengar sabda Rasulullah dari sumber asli adalah nikmat yang tak ada tara nilainya.
Puncak pengabdian yang menggetarkan hati terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan. Ketika pasukan Islam melancarkan pengepungan pertama ke kota Konstantinopel, ia ikut serta dalam barisan pejuang meski usianya sudah menginjak lebih dari 80 tahun. Tubuhnya mungkin sudah lemah dimakan usia, namun semangat berjuangnya tetap membara tak terpadamkan. Di tengah kerasnya medan pertempuran, ia jatuh sakit parah. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ditinggalkannya pesan yang penuh makna: “Apabila aku meninggal dunia, kuburkanlah jenazahku sedekat mungkin ke kaki tembok kota musuh. Aku ingin berbaring di tanah yang dijanjikan kemuliaannya oleh Rasulullah.” Pesan itu dipenuhi, dan ia terbaring kekal di tanah yang kini kita kenal sebagai Istanbul.
Berabad-abad lamanya lokasi pemakaman ini tersembunyi dari pengetahuan umum. Namun ketika Sultan Muhammad Al-Fatih berjuang menaklukkan kota ini pada tahun 1453, keberadaan makamnya ditemukan kembali melalui petunjuk Ilahiah. Penemuan itu membangkitkan semangat juang seluruh pasukan, seolah kehadiran sosok mulia ini menjadi pertanda bahwa janji kemenangan yang disampaikan oleh Rasulullah akan segera terwujud. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa surga itu rindu kepada empat orang, salah satunya adalah Abu Ayyub Al-Ansari.
Berdiri di hadapan makamnya, hati terasa terharu dan semakin bersyukur. Nikmat yang Allah berikan ini takkan mampu dibalas dengan apapun. Dapat menginjak tanah suci tempat peristirahatan sahabat kekasih Allah adalah karunia yang patut disyukuri seumur hidup. Kisah hidupnya mengajarkan makna kesetiaan, kerendahan hati dan pengabdian yang tak mengenal lelah. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan keridhaan yang sempurna kepadanya, serta menjadikan kita golongan yang mencintai jejak perjuangannya dan mampu meneladani akhlak mulianya.

Social Header