Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, atau lebih dikenal sebagai Henk Sneevliet, lahir di Rotterdam Belanda, pada 13 Mei 1883. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai pembuat cerutu dan kemudian menjadi sipir penjara. Berkat bantuan keluarga serta beasiswa, ia bisa menempuh pendidikan hingga tingkat menengah. Sejak usia 17 tahun, Sneevliet sudah bekerja di perusahaan kereta api dan mulai terjun ke dunia politik dengan bergabung dalam Partai Buruh Sosial Demokrat serta serikat pekerja. Namun karena pandangannya yang radikal dan sikapnya yang tegas dalam mendukung pemogokan buruh, ia sering berselisih dengan pimpinan partainya. Kekecewaan ini mendorong untuk berlayar ke Hindia-Belanda pada 1913, untuk mencari medan perjuangan baru.
Setibanya di Hindia-Belanda, Sneevliet bekerja sebagai staf redaksi surat kabar dan sekretaris di sebuah lembaga perdagangan di Semarang. Namun semangat revolusionernya tak bisa dibendung. Ia belajar bahasa Melayu dan Jawa agar bisa berkomunikasi langsung dengan rakyat, serta menulis tentang penderitaan kaum buruh dan rakyat kecil yang dieksploitasi. Titik balik sejarah terjadi pada tanggal 9 Mei 1914, ketika ia bersama rekan-rekannya mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia-Belanda di Surabaya. Organisasi ini merupakan cikal bakal Partai Komunis Indonesia dan menjadi organisasi berhaluan Marxis pertama di Asia.
Sneevliet bukan sekadar pendiri, melainkan juga otak di balik strategi pergerakan. Ia berhasil mengubah serikat buruh kereta api menjadi organisasi yang radikal dan menghapus sekat-sekat rasial, menyatukan pekerja Eropa dan pribumi. Ia juga menjalin hubungan erat dengan organisasi besar saat itu, Sarekat Islam, melalui tokoh muda yang cerdas bernama Semaun. Di bawah pengaruhnya ISDV tumbuh semakin kuat dan radikal. Ia menerbitkan surat kabar untuk menyebarkan pemikiran sosialisme. Bahkan, gerakannya mendapat simpati dari kalangan agama, salah satunya Haji Fachrodin, murid Kyai Ahmad Dahlan, yang mengagumi ketulusan Sneevliet dalam membela kaum tertindas.
Kiprahnya yang kian mengguncang membuat pemerintah kolonial Belanda mulai gelisah, terutama setelah terjadinya Revolusi Rusia 1917, Sneevliet dan pengikutnya semakin terinspirasi untuk melakukan perubahan besar. Mereka membentuk kelompok yang disebut " Pengawal merah" dan berhasil menggerakkan massa hingga mencapai ribuan orang, aktivitas ini dianggap sangat berbahaya bagi stabilitas pemerintah Hindia-Belanda. Akibatnya, pada tahun 1918 Sneevliet dipaksa keluar dari tanah air dan dideportasi kembali ke negaranya. Kepergiannya menuai kritik pedas dari tokoh pers nasional, Mas Marco Kartodikromo, yang menulis bahwa rakyat Indonesia seharusnya malu, karena orang Belanda inilah yang berani berkorban dan diusir demi membela hak-hak mereka, sementara banyak pemimpin pribumi belum tentu berani melakukan hal serupa.
Setelah kembali ke Belanda, perjuangan Sneevliet tidak berhenti. Ia mewakili gerakan Hindia-Belanda dalam Kongres komintern di Moskwa. Kecerdasannya begitu mengesankan Vladimir Lenin, pemimpin Uni Soviet saat itu, hingga ia ditugaskan ke Tiongkok dengan nama samaran "Maring". Di sana, Sneevliet berperan besar dalam mendirikan dan memperkuat Partai Komunis Tiongkok. Namun seiring waktu, ia memiliki perbedaan pandangan dengan aliran yang mendominasi komintern, sehingga akhirnya memutuskan hubungan dan mendirikan partainya sendiri di Belanda. Ia bahkan sempat terpilih menjadi anggota parlemen Belanda dan terus berjuang melawan ketidakadilan serta bahaya fasisme yang mulai bangkit.
Akhir hidupnya berlangsung sangat tragis, saat Perang Dunia II meletus dan Belanda diduduki oleh Nazi Jerman, Sneevliet tidak mau tunduk. Ia membubarkan partainya dan membentuk kelompok perlawanan bawah tanah. Sayangnya, pada April 1942, ia dan kawan-kawannya berhasil ditangkap oleh tentara Nazi. Kisah hidup Henk Sneevliet berakhir ketika ia dihukum mati dengan ditembak. Menurut catatan sejarah, saat menghadapi eksekusi tersebut, ia dan rekan-rekannya dikabarkan menyanyikan lagu The Internationale* dengan lantang. Ia meninggal dunia sebagai sosok yang setia pada prinsip dan keyakinannya hingga nafas terakhirnya. Meskipun paham yang dianutnya dilarang di tanah air berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
*Adalah lagu kebangsaan gerakan sosialis, komunis, dan buruh di seluruh dunia.
(Red)

Social Header