sepak bola telah lama menjadi olahraga paling populer di dunia. di lapangan hijau, kita disuguhkan dengan seni strategi, ketangkasan fisik, dan drama emosional yang memikat jutaan pasang mata. namun, belakangan ini, wajah sepak bola sering kali tercoreng oleh fanatisme buta yang melampaui batas kewajaran, berubah dari sebuah perayaan persahabatan menjadi ajang permusuhan yang berujung pada kekerasan.
sudah saatnya kita melakukan refleksi, apakah sepak bola masih menjadi hiburan yang menyatukan, ataukah kita telah terjebak dalam obsesi yang merugikan diri sendiri.
fanatisme memang bumbu dalam mendukung sebuah tim, namun ketika dukungan tersebut berubah menjadi kebencian kepada pendukung tim lain, saat itulah sepak bola kehilangan maknanya.
permusuhan antar suporter, perusakan fasilitas umum, retaknya persahabatan, hingga hilangnya nyawa akibat gesekan di tribun, hingga renggang nya persahabatan, adalah bukti nyata bahwa fanatisme telah membutakan akal sehat. kita perlu menyadari bahwa di balik seragam tim yang berbeda, kita semua adalah sesama manusia. tidak ada trofi atau kemenangan klub mana pun yang sebanding dengan persahabatan, harga nyawa atau perdamaian sosial di masyarakat.
Penting bagi kita untuk melihat sepak bola secara lebih dewasa dan objektif. di level profesional dan internasional, sepak bola telah bertransformasi menjadi industri raksasa. ada kepentingan bisnis, hak siar, hingga pengaruh besar dari para bandar yang sering kali menjadi pengatur di balik layar. tidak jarang, hasil pertandingan diduga kuat telah diatur demi kepentingan tertentu. ketika kita memahami bahwa sepak bola di level elit sering kali penuh dengan kalkulasi bisnis dan manipulasi, akan terasa sangat konyol jika kita harus bertaruh nyawa atau memutuskan tali silaturahmi persahan atan hanya karena hasil pertandingan yang bahkan mungkin sudah ditentukan oleh pihak lain di luar lapangan.
sepak bola seharusnya berfungsi sebagai pemersatu, bukan pemecah belah. semangat fair play yang diajarkan dalam setiap pertandingan adalah nilai yang seharusnya kita bawa ke kehidupan sehari-hari. mari kita kembalikan sepak bola ke habitat aslinya, yaitu sebagai hiburan.
menonton pertandingan adalah sarana untuk melepas penat, diskusi tentang sepak bola adalah ajang mempererat pertemanan, dan perbedaan klub kesayangan seharusnya menjadi ruang untuk saling menghargai.
pada akhirnya, sepak bola akan berakhir dalam 90 menit. pemain akan berganti klub, pelatih akan datang dan pergi, dan tren kemenangan pun akan terus berputar. namun, persaudaraan dan hubungan antarmanusia adalah hal yang abadi. jangan biarkan sebuah permainan merusak apa yang jauh lebih berharga daripada sekadar skor di papan pengumuman. jadilah suporter yang cerdas, dukunglah timmu dengan bangga, namun tetaplah menempatkan persahabatan dan kemanusiaan di atas segalanya, karena pada titik itulah kita bisa benar-benar menikmati sepak bola sebagai olahraga yang sesungguhnya.
Surabaya, Jum'at 27 Juni 2026
*Budayawan yang tinggal di Surabaya.

Social Header