Seringkali, undangan reuni datang dengan beban pikiran. Apakah saya sudah cukup sukses? Apakah baju saya cukup layak? Apakah saya akan terlihat menyedihkan di depan mereka? Kita sering terjebak dalam prasangka bahwa reuni adalah panggung sandiwara untuk pamer pencapaian. Padahal, jika kita menanggalkan ego dan membuang jauh-jauh rasa ingin berkompetisi, reuni sebenarnya adalah vitamin dosis tinggi bagi otak dan kesehatan mental kita.
Secara biologis, otak manusia merespons secara unik ketika bertemu orang-orang dari masa lalu. Saat kita berbincang dengan teman lama, terjadi proses yang disebut dengan sejarah bersama.
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa interaksi dengan orang yang sudah mengenal kita sejak lama, jauh sebelum kita memiliki titel atau tanggung jawab pekerjaan yang berat, dapat menurunkan kadar hormon kortisol secara signifikan. Di depan mereka, kita tidak perlu mengenakan topeng profesional.
Otak kita merasa aman, dan rasa aman adalah pemicu utama bagi sistem saraf untuk beristirahat dari mode siaga yang biasanya kita pakai sehari-hari.
Selain itu, reuni adalah latihan kognitif yang intens. Saat kita mencoba mengingat nama guru, kegilaan waktu kuliah, atau insiden lucu di kantin, otak kita sedang melakukan perjalanan melintasi neuron-neuron lama. Proses memanggil kembali memori episodik ini, seperti saat kita tertawa terbahak-bahak mengenang lelucon lama, merangsang neuroplastisitas otak. Ini adalah bentuk olahraga otak yang menyenangkan, yang secara tidak langsung membantu menjaga ketajaman ingatan dan fungsi kognitif kita.
Ada kebenaran filosofis yang sering kita lupakan, bahwa kita tidak bisa melihat diri sendiri dengan jelas tanpa cermin. Teman lama adalah cermin tersebut. Mereka adalah saksi hidup dari evolusi karakter kita. Bertemu mereka bukan tentang kembali menjadi sosok yang sama dengan sepuluh atau dua puluh tahun lalu, melainkan tentang melihat betapa jauh kita telah melangkah.
Sadar akan pertumbuhan diri adalah salah satu bentuk kesehatan mental yang paling tinggi karena memberikan rasa harga diri yang tervalidasi.
Sebagaimana pernah dikatakan bahwa reuni bukan tentang siapa yang paling sukses, tapi tentang siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri di hadapan mereka yang pernah mengenalnya saat ia masih menjadi sosok yang belum terbentuk.
Teman lama pun menjadi pengingat bahwa meskipun waktu mengubah segalanya, ada benang merah cerita yang tak pernah putus.
Jadi, lain kali saat Anda menerima undangan reuni, jangan membayangkan beban pikiran yang akan muncul. Bayangkan ini sebagai sesi pemulihan psikologis.
Datanglah bukan untuk pamer, tapi untuk menertawakan versi lama diri Anda, mendengarkan perjuangan hidup orang lain, dan mengakui bahwa kita semua, dengan segala perubahan dan kerutan di wajah, telah berhasil sampai sejauh ini. Itulah vitamin sesungguhnya, yaitu rasa koneksi yang manusiawi di tengah dunia yang makin asing. Selamat reuni teman-temanku terkasih di Faperta UPN 85, slalu sehat semuanya.
Surabaya, 13 Juli 2026

Social Header