Breaking News

Satu mata melihat dunia, satu mata melihat jiwa dalam lukisan potret Modigliani Oleh: Hamid Nabhan

   ​Penulis asal Amerika, Ralph Waldo Emerson, pernah menulis sebuah kalimat indah: "Mata berbicara dalam semua bahasa." Dalam dunia seni rupa, mata hampir selalu menjadi pusat gravitasi sebuah potret, bagian paling ekspresif yang menumpahkan segala emosi, mulai dari binar kebahagiaan hingga mendungnya kesedihan. Namun, aturan tidak tertulis ini sengaja didobrak oleh seorang maestro modernis asal Italia, Amedeo Modigliani.

   ​Jika Anda memandangi deretan lukisan potret karya Modigliani, ada satu ciri khas yang seketika akan membuat Anda terpaku yaitu wajah-wajah yang memanjang mirip topeng tradisional Afrika, leher yang jenjang puitis, dan sepasang mata berbentuk almond yang kosong. Tanpa pupil, tanpa iris. Sering kali hanya berupa sapuan warna biru pekat atau hitam pekat yang kelam.

   ​Mengapa ia membiarkan mata subjeknya kosong? Misteri visual ini dijawab lewat filosofinya yang sangat terkenal: "Ketika aku mengetahui jiwamu, aku akan melukis matamu."

​Bagi Modigliani, melukis mata bukan sekadar perkara menyalin anatomi fisik wajah. Mata adalah ambang batas langsung menuju inti terdalam seorang manusia. Ketiadaan iris atau pupil pada lukisannya menandakan bahwa ia merasa belum sepenuhnya mengenal atau menggenggam esensi sejati dari sang model. Ia menolak berpura-pura tahu. Fakta unik mengenai kebiasaan tak biasa sang seniman ini bahkan terus menjadi kajian mendalam para kurator seni dunia, salah satunya seperti yang dibedah dalam ulasan Understanding Modigliani's Eyes oleh Art Explora Academy.

   ​Misteri ini menjadi kian filosofis lewat sudut pandang Modigliani yang lain. Ia pernah berujar: "Saya melihat dunia dengan satu mata, dan melihat ke dalam dirimu dengan mata yang satunya."

​Dualitas inilah yang menjelaskan mengapa subjek-subjek lukisannya hampir tidak pernah menatap langsung ke arah penonton. Dengan mengosongkan pandangan mereka, Modigliani sebenarnya sedang menggambarkan manusia yang sedang melakukan introspeksi, mereka tidak sedang melihat kita, melainkan sedang sibuk menjaga rahasia emosional dan menatap dunia spiritual di dalam pikiran mereka sendiri. 

   Rahasia psikologis di balik tatapan batin ini melahirkan daya tarik magis tersendiri yang membedakan karyanya dari seniman potret lain di zamannya, sebuah teka-teki visual yang dikupas secara mendalam dalam artikel Modigliani: Secret of the Eyes in His Portraits.

​Namun, dinding misteri itu runtuh ketika Modigliani melukis Jeanne Hébuterne, kekasih sejati sekaligus sumber inspirasi utamanya. Dalam beberapa potret Jeanne yang ia lukis menjelang akhir hayatnya, Modigliani akhirnya melukis sepasang mata yang utuh dengan pupil yang hidup. Lewat goresan itu, Modigliani seolah berbisik kepada dunia bahwa ia telah selesai mencari, ia telah benar-benar menemukan dan memiliki jiwa Jeanne.

   ​Pada akhirnya, mata kosong dalam karya Modigliani tidak pernah benar-benar kosong. Lewat ketiadaan detail fisik tersebut, ia justru berhasil menghadirkan sebuah ruang melankolis yang abadi. Ia membuktikan bahwa terkadang, jiwa manusia baru bisa terlihat jelas justru ketika kita berhenti melihatnya hanya dengan mata telanjang.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id