Waktu adalah pelari ulung yang tak pernah lelah. Tanpa kita sadari, rentang waktu 41 tahun telah membentang sejak kita pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas Pertanian UPN Surabaya pada tahun 1985.
Empat dekade lebih telah berlalu, membawa kita bertualang ke berbagai penjuru takdir, menemui peran, profesi, dan nasib kita masing-masing. Namun, sejauh apa pun kaki melangkah, ada satu sudut di masa lalu yang tak pernah benar-benar bisa kita tinggalkan yaitu Jalan Ngaglik.
Mari kita pejamkan mata sejenak dan pulang ke sana. Pulang ke rumah ingatan kita.
Apakah kalian masih ingat aroma tanah dan riuhnya suasana kampus kita di Jalan Ngaglik waktu itu? Ingatan kita pasti akan tertuju pada sebuah aula di pojok bangunan yang terletak di komplek SMA 7 Surabaya. Di sanalah, di ruangan bersahaja itu, kita menghabiskan waktu kuliah yang panjang.
Saya masih ingat tepat di belakang aula tersebut, berdiri kokoh sebatang pohon mangga yang besar dan rindang.
Di bawah bayang-bayang aula tua itulah nyawa persahabatan kita lahir.
Kita masuk sebagai orang asing yang membawa kecanggungan masing-masing. Namun, di bawah atap aula itu, di sela-sela candaan dan obrolan acak, kita mulai mengenal satu sama lain. Ada nama-nama sahabat yang masih saya ingat sampai hari ini, dan beberapa nama tetap menjadi sahabat sampai di hari tua ini. Dulu kita sering mengeluhkan tugas kuliah yang menumpuk, tertawa lepas tanpa beban, hingga saling menguatkan saat duka dan kesulitan datang menyapa.
Pohon mangga itu menjadi saksi bisu bagaimana gersangnya ilmu pertanian berubah menjadi begitu subur oleh tumbuhnya rasa persaudaraan di antara kita. Suka dan duka di Ngaglik telah menempa kita menjadi sebuah keluarga bernama: Faperta ’85. Di aula nggaglik saya mulai mengenal Cak Parman, seorang yang bertugas mengantar kupon sebagai tanda hadir mengikuti jam kuliah, bagaimana kupon-kupon tersebut di tempel di sebuah buku, yang menjadi bukti rajinnya kita hadir mengikuti jam kuliah.
Kini, rambut kita mungkin sudah banyak yang memutih. Gurat usia di wajah tak lagi bisa disembunyikan, dan langkah kaki kita mungkin tak secepat dulu. Namun, reuni bukanlah tentang pamer keberhasilan atau ajang nostalgia kosong. Secara mendalam, reuni adalah cara kita untuk merawat ingatan. Berkumpul kembali dan menertawakan kelucuan masa lalu di yang terbukti secara ilmiah mampu memutar kembali memori jangka panjang kita, menyegarkan fungsi otak, dan menghadirkan kebahagiaan murni.
Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah bersama seorang teman lama setelah sekian lama, dan merasa tidak ada satu pun yang berubah di antara kita. Itulah obat terbaik bagi jiwa.
Kita tidak pernah tahu seberapa berharganya sebuah momen sampai ia sepenuhnya menjadi kenangan yang tak bisa diulang. Selagi raga masih diizinkan bernapas dan waktu masih berpihak, mari kita luangkan waktu untuk melangkah bersama lagi.
pada tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus ini, kita akan membawa seluruh sisa rindu dan kenangan indah dari sudut aula Ngaglik itu menuju kota Jogja. Di bawah langit Jogja yang syahdu dan hangat, mari kita mengais kembali serpihan rindu yang sempat tercecer oleh kesibukan dunia. Kita rajut kembali benang-benang persahabatan kita agar tidak pernah putus oleh waktu.
Sebab pada akhirnya, seberharga apa pun teman baru yang kita temui di luar sana, teman lama dari masa awal perjuangan adalah harta karun yang tak akan pernah ada tandingannya.
Benar kata pepatah, bahwa manisnya reuni dengan kawan lama adalah cuplikan kenikmatan surga di dunia.
Sampai jumpa di Jogja, Sahabat Faperta UPN Surabaya Angkatan '85. Mari kita pulang ke rumah ingatan kita, dan merayakan manisnya kebersamaan ini sekali lagi. Selamat reuni kawan Faperta 85 yang guyup dan bahagia.
Surabaya, 9 Juli 2026
*Seniman dan budayawan yang tinggal di Surabaya

Social Header