Bagi siapa pun yang berkunjung ke galeri Tate Britain di London dan berdiri di depan lukisan Beach at Dusk, St Ives Harbour (sekitar tahun 1895), ada rasa damai sekaligus misteri yang mendalam terpancar dari kanvas tersebut. Lukisan itu menangkap momen magis ketika siang perlahan melandai di pelabuhan St Ives. Pantulan lembut cahaya hari yang tersisa di atas air berpadu dengan pendar lampu dermaga yang mulai menyala di kejauhan, mengunci sebuah atmosfer senja yang sunyi namun menenangkan.
Akan tetapi, di balik sapuan kuas impresionistik yang begitu puitis ini, tersimpan kisah nyata tentang perjuangan hidup, cinta, dan akhir hayat yang tragis dari sang pelukisnya. Ia adalah William Evelyn Osborn, atau akrab dipanggil "Will" oleh orang-orang terdekatnya. Lahir di St Pancras, London, pada tahun 1868, Will merupakan putra sulung dari Edward M. Osborn, seorang Inspektur Pabrik untuk pemerintahan Inggris, dan Augusta K. Osborn.
Meskipun lahir di tengah keluarga kelas pekerja kota, panggilan jiwanya sebagai seniman lanskap membawa Will menjelajahi berbagai tempat, hingga akhirnya ia mendarat di kota pelabuhan St Ives di Cornwall pada tahun 1895.
Pada akhir abad ke-19, St Ives memang menjadi magnet bagi para seniman dunia karena kualitas cahaya alami pantainya yang sangat unik. Di sinilah, menetap di sebuah kawasan bernama The Terrace, Will mulai bergabung dengan komunitas St Ives Arts Club dan aktif melukis pemandangan laut.
Hidup dari Barter Makanan hingga Menemukan Cinta
Menjadi seorang seniman lanskap idealis di zaman itu jauh dari kata mewah. Catatan sejarah dari Cornwall Artists Index mengungkapkan sisi humanis sekaligus pilu dari kehidupan Will Osborn, ia dikenal kerap kali harus menukarkan (barter) karya-karya lukisannya yang indah langsung dengan makanan atau biaya tempat tinggal agar bisa terus bertahan hidup.
Namun, di tengah himpitan ekonomi tersebut, St Ives juga memberikan hadiah terindah dalam hidupnya. Melalui komunitas seni setempat, Will bertemu dengan sesama pelukis wanita berbakat bernama Dorothy Worden. Keduanya saling jatuh cinta, berbagi visi artistik yang sama, dan akhirnya resmi menikah di Exeter pada tahun 1896 sebelum akhirnya sempat tinggal dan berkarya di Exmouth serta Ludlow.
Tragedi dalam Senyap
Sayangnya, takdir tidak memberikan waktu yang lama bagi pelukis cahaya ini untuk menikmati kebahagiaannya. Di masa-masa produktifnya, Will mulai didera oleh penderitaan fisik yang luar biasa hebatnya. Ia mengidap facial neuralgia, sebuah kondisi gangguan saraf wajah yang menyebabkan rasa nyeri luar biasa akut dan konstan. Pada masa itu, dunia medis mengira rasa sakit ekstrem tersebut bersumber dari masalah gigi.
Demi menahan dan meredakan rasa sakit yang tak tertahankan di wajahnya sehari-hari, Will terpaksa terus-menerus bergantung pada obat-obatan pereda nyeri. Ketergantungan ini berujung fatal. Pada tahun 1906, di Chelsea, London, Will Osborn mengembuskan napas terakhirnya di usia yang masih sangat muda, yaitu 38 tahun. Ia diduga meninggal dunia akibat kelebihan dosis (overdose) obat penahan rasa sakit yang digunakannya demi melawan penyakit saraf tersebut.
William Evelyn Osborn mungkin pergi terlalu cepat dan dilingkupi tragedi yang sunyi. Namun, apa yang ia goreskan di atas kanvas menolak untuk dilupakan.
Kini, dunia mengakui kepekaan artistiknya yang luar biasa. Dua mahakarya penting miliknya, Beach at Dusk, St Ives Harbour dan Royal Avenue, Chelsea (sekitar tahun 1900), kini tersimpan abadi sebagai koleksi permanen di Tate Gallery London. Sementara dua karya lainnya, St Ives Pier dan Hayle Flats, dipajang di Falmouth Art Gallery.
Lewat lukisan pelabuhan St Ives yang redup dan damai, Will Osborn tidak hanya meninggalkan gambar sebuah tempat, melainkan sebuah warisan jiwakeras, bahwa keindahan dan ketenangan yang abadi sering kali lahir dari sebuah perjuangan hidup yang amat keras.


Social Header