Breaking News

Paul Sesan dan Saint Victory: Obsesi Menangkap Esensi Gunung Oleh: Hamid Nabhan

   ​Bagi Paul Cezanne, pelukis maestro asal Prancis, rahasia terdalam dari alam tidak disembunyikan dalam laboratorium, melainkan berdiri kokoh di luar jendela studionya di Aix-en-Provence. Rahasia itu berwujud dalam bentuk sebuah gunung batu kapur yang megah yaitu Mont Sainte-Victoire. Uniknya, kisah obsesi ini tidak dimulai dari sebuah perenungan sunyi di puncak bukit, melainkan dari balik jendela sebuah kereta api yang sedang melaju. 

   Pada April 1878, tak lama setelah jalur kereta api Aix-Marseille dibuka, Cezanne menulis surat kepada sahabat masa kecilnya, sastrawan Emile Zola. Dalam surat itu, ia memuji keindahan Gunung Sainte-Victoire yang ia pandang dari jendela kereta saat melintasi jembatan Sungai Arc sebagai sebuah “beau motif” sebuah subjek yang luar biasa indah. Siapa sangka, pandangan sekilas dari jendela kereta yang bergerak itu kelak berubah menjadi pencarian artistik seumur hidup.

   ​Bagi seniman biasa, melukis sebuah pemandangan yang sama satu atau dua kali mungkin sudah cukup untuk menuntaskan hasrat seni. Namun bagi Cézanne, Gunung Sainte-Victoire bukan sekadar lanskap indah. Gunung itu adalah sebuah obsesi total, sebuah teka-teki visual, dan laboratorium pribadi yang tidak pernah selesai ia pecahkan.

   Tercatat hingga embusan napas terakhirnya pada tahun 1906, Cezanne telah melukis gunung ini lebih dari 80 kali, baik dalam goresan cat minyak yang tebal maupun kelembutan sapuan cat air.

   ​Apa yang sebenarnya dicari Cezanne dari sebuah gunung batu yang diam membeku?

​Secara fisik, Gunung Sainte-Victoire mungkin tidak terlalu unik atau spektakuler jika dibandingkan dengan pegunungan lain di dunia. 

   Namun, Cezanne menemukan sesuatu yang sangat menggetarkan di sana. Baginya, gunung itu memiliki signifikansi "kosmik" sebuah simbol dari stabilitas, kekuatan, dan keabadian. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat dan gejolak emosi seniman yang naik turun, puncak Sainte-Victoire berdiri sebagai jangkar yang konstan dan menenangkan.

   ​Cezanne melukisnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa alam tidak pernah benar-benar statis. Cahaya pagi yang terik, mendung sore yang muram, hingga perubahan musim terus mengubah warna dan karakter gunung tersebut. Di sinilah Cezanne melakukan pencarian atas apa yang disebut sebagai "kebenaran artistik". Ia percaya bahwa realitas tidak bisa ditiru secara objektif belaka. Tugas seorang seniman adalah menemukan keteraturan di dalam sensasi dan persepsi personalnya sendiri terhadap alam.

   ​Saat gerakan Impresionisme pada masa itu sibuk menangkap kesan cahaya yang cepat runtuh dan sesaat, Cezanne justru merasa tidak puas. Ia menganggap gerakan tersebut terlalu rapuh. Lewat Gunung Sainte-Victoire, ia ingin mencari struktur terdalam yang kokoh dan abadi. Dalam salah satu suratnya yang paling legendaris, Cezanne pernah menulis sebuah prinsip penting, “Perlakukan alam lewat bentuk silinder, bola, dan kerucut.”

​Evolusi cara pandang Cézanne ini bisa kita lihat dengan sangat benderang jika kita mengunjungi Metropolitan Museum di New York, tempat dua lukisan Gunung Sainte-Victoire miliknya menggantung. Kedua lukisan itu menangkap gunung yang sama, namun dipisahkan oleh rentang waktu dua dekade perjalanan spiritual Cezanne.

   ​Pada awal tahun 1880-an, Cezanne melukis gunung tersebut dari dekat properti keluarganya di timur Aix. Di lukisan awal ini, sebuah pohon pinus besar membingkai pemandangan dengan anggun, sementara jembatan viaduk kereta api, jalur yang dulu menginspirasinya, menjadi jangkar di jarak menengah.

   Mata kita bisa membaca lanskap tersebut dalam pita horizontal yang penuh percaya diri dengan latar depan, lembah, gunung, lalu langit. Semuanya terasa klasik, terbaca dengan jelas, dan megah.

​Namun, kehidupan kemudian menemui titik balik yang emosional.

   Setelah ibunya wafat pada tahun 1897 dan rumah masa kecilnya harus dijual, Cezanne yang berduka memutuskan membangun studio baru di perbukitan utara, Les Lauves, pada tahun 1902. Di sinilah, pada dekade terakhir hidupnya, Crzanne memasuki apa yang oleh para sejarawan seni disebut sebagai fase sintetis. Alih-alih menganalisis alam ke dalam bagian-bagian komponennya seperti dulu, ia mulai meleburkan warna, bentuk, dan ruang menjadi satu peristiwa visual yang utuh.

​Dari studio Les Lauves inilah ia kembali menghadap ke gunung yang sama. Hasilnya sungguh jauh berbeda dari lukisan aslinya dua puluh tahun lalu. Pohon pinus dan jembatan viaduk telah lenyap. 

   Gunung Sainte-Victoire kini melarut ke dalam faset-faset warna biru, hijau, oker, dan violet yang bergetar. Kain kanvas yang polos bahkan dibiarkan terlihat menerawang di beberapa bagian, sesuatu yang sangat tabu dan tidak terpikirkan pada lukisan awalnya. Kedalaman ruang tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dekat dengan cara mata kita yang sebenarnya saat melihat dunia, di mana subjek utamanya seolah menyatu dengan sapuan kuas yang abstrak.

   ​Cara Cezanne memecah ruang dan melihat objek dari berbagai sudut pandang yang berbeda secara bersamaan inilah yang kelak memicu lahirnya seni modern abad ke-20.

   Eksperimen radikalnya di lereng Sainte-Victoire menjadi inspirasi langsung bagi Henri Matisse dalam hal keharmonisan warna, serta Pablo Picasso dan Georges Braque saat mereka melahirkan aliran Kubisme. Tidak heran jika di kemudian hari, Picasso dengan penuh rasa hormat menjuluki Cezanne sebagai “bapak dari kita semua.”

​Dedikasi Cezanne pada gunung ini begitu total, bahkan hingga akhir hayatnya yang tragic sekaligus puitis. 

   Pada pertengahan Oktober 1906, saat usianya sudah senja, Cezanne nekat pergi ke luar rumah untuk melukis di tengah badai yang mengamuk demi menangkap suasana cahaya terbaru dari gunung kesayangannya. Di sana, ia pingsan akibat terserang pneumonia berat dan meninggal dunia beberapa hari kemudian.

​Paul Cezanne meninggal demi lukisannya, namun jiwanya tetap abadi bersama sapuan kuas terakhirnya di kaki Gunung Sainte-Victoire. Jejak langkahnya melekat begitu dalam di tanah kelahirannya, hingga bertahun-tahun kemudian, ketika novelis Andre Malraux menjabat sebagai Menteri Kebudayaan Prancis, jalan raya yang membentang menuju gunung tersebut secara resmi dinamai “Route Cezanne”. Jalan itu diabadikan sebagai cagar alam artistik, sebuah penghormatan bagi seorang manusia yang telah mengerahkan seluruh hidupnya untuk berdialog dengan alam.

   ​Hubungan erat antara sang maestro dan tanah kelahirannya bahkan melintasi batas waktu hingga ke era modern saat ini. Demi menjaga kemurnian warisannya dari komersialisasi liar, pemerintah kota Aix-en-Provence belum lama ini mengambil langkah hukum yang tidak biasa dengan mendaftarkan nama “Cezanne” secara resmi sebagai merek dagang yang dilindungi. Langkah ini memastikan bahwa nama besar sang pelukis akan selalu diasosiasikan secara terhormat dengan kebudayaan, sejarah, dan lanskap asli Provence yang ia cintai.

​Lewat ketekunan yang keras kepala, Cezanne membuktikan sebuah kebenaran abadi dalam dunia seni, bahwa sebuah mahakarya tidak selalu lahir dari pencarian objek-objek baru yang eksotis ke berbagai belahan dunia, melainkan dari kedalaman dan konsistensi cara kita memandang satu objek yang sama secara berulang-ulang, hingga kita berhasil menangkap esensi keabadian di dalamnya.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id