Bagi sebagian orang, melukis potret mungkin sekadar menangkap kemiripan wajah seseorang di atas kanvas. Namun, bagi Lucian Freud, kegiatan itu adalah sebuah obsesi yang menyita seluruh waktu dan energinya. Ia tidak pernah benar-benar merasa selesai dengan subjek yang ia lukis. Baginya, wajah dan tubuh manusia adalah labirin yang tak berujung, dan ia merasa bertanggung jawab untuk menelusuri setiap inci dari labirin itu dengan kuasnya.
Cara kerja Freud bisa dibilang cukup ekstrem. Ia tidak mencari pose yang manis atau sudut pandang yang paling menawan. Ia justru menuntut modelnya untuk berpose dalam waktu yang sangat lama, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, hanya untuk satu lukisan. Obsesinya terletak pada keteguhan untuk menunggu sampai sang model merasa lelah, kehilangan topeng sosialnya, dan membiarkan karakter aslinya muncul ke permukaan.
Ia ingin menangkap kejujuran, bukan sekadar tampilan luar yang dipoles.
Hasil dari proses yang melelahkan itu adalah lukisan yang terasa begitu nyata, bahkan terkadang terasa sedikit tidak nyaman untuk dipandang. Freud menggunakan teknik sapuan cat yang tebal dan kasar, yang membuat kulit di dalam lukisannya tampak seperti daging yang hidup, lengkap dengan segala ketidaksempurnaan, guratan, dan kelelahan yang ada di sana. Ia tidak berusaha mempercantik subjeknya, ia justru membedah mereka dengan tatapannya yang tajam.
Pada akhirnya, obsesi Freud bukanlah tentang mencari kesempurnaan teknis, melainkan tentang pencarian kebenaran manusia. Melalui setiap potret yang ia buat, ia seolah ingin menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh dengan lapisan, dan satu-satunya cara untuk benar-benar melihat seseorang adalah dengan cara menatapnya terus-menerus, tanpa henti, sampai semua kepura-puraan itu luruh dan yang tersisa hanyalah manusia itu sendiri.


Social Header