Breaking News

Mengenal Silvio Gazzaniga dan Filosofi di Balik Keindahan Trofi Piala Dunia Oleh: Hamid Nabhan

 


   ​Sejarah mencatat transisi besar dari Trofi Jules Rimet ke trofi Piala Dunia yang sekarang kita kenal, atau FIFA World Cup Trophy. Titik baliknya terjadi pada tahun 1970, ketika Brasil memenangkan Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Berdasarkan aturan saat itu, negara yang berhasil menang tiga kali berhak menyimpan Trofi Jules Rimet secara permanen.

   Karena trofi lama tersebut sudah resmi menjadi milik Brasil, FIFA pun harus membuat piala baru untuk turnamen berikutnya di tahun 1974. Tragisnya, Trofi Jules Rimet yang disimpan di Brasil tersebut kemudian dicuri pada tahun 1983 dan tidak pernah ditemukan lagi.

   ​Pada awal tahun 1970-an, FIFA membuka kompetisi internasional untuk mendesain trofi baru tersebut. Ada 53 desain yang masuk dari para seniman di seluruh dunia, namun pemenangnya adalah seorang pemahat asal Milano, Italia bernama Silvio Gazzaniga. Gazzaniga mendesain trofi ini pada tahun 1971, dan versi jadinya pertama kali diperkenalkan pada ajang Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.

   ​Gazzaniga sendiri menggambarkan filosofi di balik bentuk trofi ini dengan sangat puitis. Ia menyebutkan bahwa garis-garisnya keluar dari dasar, naik dalam bentuk spiral, lalu membentang untuk menerima dunia. Dari ketegangan dinamis yang luar biasa dari badan patung tersebut, muncul figur dua atlet yang sedang merayakan momen kemenangan yang luar biasa. Secara visual, trofi ini menggambarkan dua orang manusia yang mengangkat kedua tangan mereka untuk menyangga bola dunia di bagian atasnya, yang menyimbolkan kegembiraan, sportivitas, dan skala global dari sepak bola.

   ​Untuk detail teknisnya, trofi ini terbuat dari emas murni 18 karat atau sekitar 75% emas. Bagian dasarnya memiliki dua lapisan cincin yang terbuat dari batu mulia berwarna hijau bernama malasit. Tingginya mencapai 36,5 sentimeter dengan berat sekitar 6,175 kilogram. Karena bagian dalamnya padat dan bukan kopong, trofi ini terasa cukup mantap dan berat saat diangkat tinggi-tinggi.

   ​Belajar dari kasus Jules Rimet yang akhirnya menjadi milik permanen suatu negara, FIFA mengubah total aturan mereka sejak tahun 1974. Negara mana pun yang menang, bahkan jika menang tiga kali atau lebih, tidak boleh menyimpan trofi asli ini selamanya. Tim pemenang hanya membawa pulang trofi asli saat selebrasi di lapangan, lalu harus segera dikembalikan ke FIFA. Sebagai gantinya, negara pemenang akan diberikan replika perunggu yang dilapisi emas. Selain itu, di bagian bawah trofi asli terdapat ukiran nama-nama negara pemenang beserta tahun kemenangannya sejak 1974. 

   Ruang ini diperkirakan akan penuh pada Piala Dunia tahun 2038, sehingga setelah tahun tersebut FIFA kemungkinan harus memperbarui area dasar trofi atau membuat penyesuaian baru.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id