Breaking News

Kisah Tammam Al-Akhal dan Kanvas Perlawanan Palestina

   ​Tammam Al-Akhal yang lahir pada 16 Maret 1935 adalah salah satu seniman perempuan pertama sekaligus pionir paling fundamental dalam gerakan seni rupa modern Palestina. Ia mendedikasikan seluruh karya dan hidupnya untuk merekam memori kolektif serta menjaga identitas bangsanya dari kepunahan sejarah. Lahir di kota pelabuhan Jaffa, masa kecil Tammam dihabiskan di tengah suburnya perkebunan jeruk, yang kelak menjadi motif sentral yang terus hidup dalam lukisannya.

   ​Namun, pada usia 13 tahun saat terjadi peristiwa Nakba pada 1948, ia dan keluarganya diusir secara paksa dari tanah air mereka dan harus bertahan hidup di kamp pengungsian di Lebanon. Trauma pengusiran dan kerinduan akan tanah kelahiran ini menjadi bahan bakar utama kreativitasnya di masa depan.

   ​Bakat luar biasa Tammam awalnya terasah di Islamic Maqassed Girls School di Beirut di bawah bimbingan seniman legendaris Lebanon, Mustapha Farroukh. Atas dorongan para mentornya, ia beralih dari cat air ke cat minyak dan berhasil meraih beasiswa untuk menempuh studi profesional di Egyptian School of Fine Arts di Kairo dari tahun 1953 hingga 1959. Di sana, ia dibimbing langsung oleh maestro seni rupa Mesir seperti Ragheb Ayad dan Hussein Bicar.

   ​Di Kairo pula ia bertemu dengan sesama pelukis Palestina yang kelak menjadi suami sekaligus rekan kolaborasi abadinya, Ismail Shammout, yang dinikahinya pada tahun 1959.

   ​Para kritikus seni rupa internasional membagi perjalanan estetika Tammam ke dalam beberapa fase penting. Pada fase realis yang membentang dari era 1950-an hingga 1970-an, ia berfokus pada dokumentasi penderitaan kamp pengungsian, kelas pekerja, dan trauma sejarah. Salah satu mahakaryanya yang paling terkenal pada era ini adalah The Massacre of Khan Younis, sebuah lukisan bernuansa malam dengan dominasi warna biru tua yang menangkap kepedihan mendalam.

   ​Memasuki era 1980-an, gayanya berevolusi ke fase abstrak dan kubisme, di mana Tammam mulai mengeksplorasi bentuk geometris yang terinspirasi langsung dari pola rumit sulaman kain tradisional pakaian adat perempuan Palestina atau thobe.

   ​Selanjutnya pada fase warisan Arab-Islam yang berlangsung antara era 1990-an hingga 2000-an, ia mengangkat simbolisme kontemporer seperti bunga, kota suci, dan kuda Arab murni. Pada fase inilah ia bersama suaminya melahirkan karya monumental bertajuk Palestine: The Exodus and the Odyssey yang digarap dari tahun 1997 hingga 2000. Karya tersebut merupakan sebuah rangkaian lukisan 19 panel yang menarasikan sejarah panjang perjalanan dan perjuangan bangsa Palestina.

   ​Secara teknis, Tammam dikenal luas karena memiliki bahasa visual yang sangat khas, salah satunya adalah teknik Mawal. Teknik ini menggunakan dominasi warna putih pada latar belakang kanvas yang mengalir tanpa sekat, berfungsi menyatukan seluruh objek lukisan seperti sebuah melodi vokal tradisional Arab tanpa iringan musik.

   ​Selain itu, ia juga kerap memunculkan figur kuda Arab murni sebagai simbol ketangguhan, kehormatan, gerakan, dan martabat perjuangan yang tidak pernah padam.

   ​Rekam jejak diplomasi budaya Tammam sudah diakui dunia sejak pameran bersejarahnya pada tahun 1954 yang dibuka langsung oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Nama Tammam pun melambung di kancah global hingga ia kemudian diangkat oleh Yasser Arafat sebagai Direktur Bagian Kebudayaan dalam Departemen Media PLO (atau Palestine Liberation Organization). Dalam peran tersebut, ia bertugas menyelamatkan warisan budaya dan memimpin pameran keliling ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat, Eropa, hingga China.

   ​Kini, karya-karyanya menjadi bagian penting dari koleksi lembaga seni bergengsi dunia seperti Mathaf: Arab Museum of Modern Art di Doha, Qatar, dan rutin dipamerkan dalam eksibisi kuratorial internasional oleh Barjeel Art Foundation.

   ​Pascawafatnya sang suami pada tahun 2006, Tammam yang kini menetap di Amman, Yordania, tetap aktif mengabadikan perjalanan hidup mereka melalui buku otobiografi berjudul The Hand Paints What the Heart Sees yang terbit pada tahun 2016.

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id