Breaking News

Wim Oepts: Pelukis Cahaya dari Belanda Oleh: Hamid Nabhan

   Willem Anthonie Oepts, atau yang dikenal sebagai Wim Oepts (1904–1988), lahir di Amsterdam sebagai anak sulung dalam keluarga pencinta seni, ia tumbuh di tengah hiruk-pikuk kehidupan pelabuhan kota yang membentuk ketelitiannya sejak dini. Wim Oepts lulusan dari sekolah kejuruan juru gambar mesin yang bekerja di pabrik Schippers Werktuigen, ia sebenarnya murni seorang otodidak dalam seni lukis, ketertarikannya bermula dari seni grafis, menciptakan ukiran kayu dan cetakan linocut pada awal tahun 1920-an sebelum mengenal pendidikan seni formal. Titik balik penting terjadi pada tahun 1924 saat ia bertemu Charley Toorop yang melihat bakat besarnya, membawanya masuk ke lingkaran seniman ternama seperti John Radecker, Gerrit Rietveld, dan Kurt Schwitters, serta mendorongnya beralih dari seni grafis ke lukisan cat minyak.

   Karya awal Oepts hingga pertengahan 1930-an masih bernada gelap dan sarat realisme sosial, menggambarkan jalanan Amsterdam dan kehidupan pekerja dalam palet warna yang redup. Namun, kunjungannya ke Paris pada tahun 1930-an, terutama saat menyaksikan cahaya menyala di Collioure tahun 1937, mengubah segalanya, cahaya selatan itu membebaskan gaya pewarnaannya menjadi jauh lebih hidup. Pada tahun 1939 ia menetap permanen di ibu kota Prancis bersama istrinya, Marthe Caudal, mempelajari teknik permainan warna langsung dari Othon Friesz serta menyerap pengaruh kuat karya Pierre Bonnard, André Derain, dan Henri Matisse yang membentuk gaya barunya.

   Kehidupan seninya terputus oleh Perang Dunia II, ia mengungsi ke London, bertugas sebagai seniman perang untuk pemerintah Belanda di pengasingan, terluka saat pendaratan di Normandia 1944, dan turut membuat ilustrasi untuk publikasi rahasia seperti Vrij Nederland. Menariknya, meski sangat membenci ikan haring, ia melukis ikan itu secara simbolis di masa perang sebagai lambang ketabahan di tengah kelangkaan pangan. Setelah perang usai pada 1946, ia memilih hidup menyendiri di Prancis, menghabiskan musim panas membuat sketsa pemandangan di sekitar Saint-Tropez dan desa Cotignac tempat ia memiliki studio, lalu menyempurnakannya menjadi lukisan besar di studio Paris saat musim dingin, bahkan harus memotong kayu sendiri untuk menghangatkan ruangan di masa kemiskinannya.

   Pasca-perang, saat dunia seni Belanda didominasi seni abstrak murni, gaya lukisan figuratif Oepts yang penuh warna sempat terpinggirkan, namun ia tidak pernah terikat pada satu aliran pun. Memasuki tahun 1960-an, ia rutin mengunjungi kolektor setia secara langsung tanpa perantara galeri, menjaga kemandiriannya hingga akhirnya pengakuan luas datang menghampiri. Pada tahun 1958 ia menerima penghargaan bergengsi Prijs van de Stichting Kunstenaarsverzet 1942-1945 atas jasa-jasanya di masa perang.

   Gaya khas Oepts pasca-1945 benar-benar unik dan berani, membangun komposisi dari bidang-bidang warna tebal yang abstrak namun objeknya tetap dikenali, melukis desa, pelabuhan, dan hamparan alam selatan dengan kebebasan luar biasa. Langit bisa saja berwarna hijau, bayangan berwarna ungu pekat, dan warna hitam digunakan sebagai aksen kuat yang menegaskan bentuknya. Karya-karya legendaris seperti Landschap (1947), Huis (1965), hingga eksperimen masa tua Purple Street (1984) menunjukkan evolusi gaya dari realisme kasar menuju mimpi warna yang liris dan harmonis.

   Hubungan mendalamnya dengan Cotignac terungkap kembali belakangan ini saat La Galerie Cotignac berhasil memperoleh koleksi sketsa dan gambar persiapan yang ditinggalkan seniman di studio dekat desa itu setelah ia dan istrinya tiada. Kisah ajaib pun terjadi, saat pemilik galeri bercerita tentang temuan itu kepada teman asal Belanda yang baru membeli rumah di desa tersebut, terungkap bahwa kenalan teman itu ternyata memiliki lukisan Oepts asli yang sangat indah. Melalui bantuan katalog resmi karya Oepts, mereka menemukan bahwa sketsa yang ada di galeri Cotignac adalah asal mula dari lukisan yang tersimpan di koleksi pribadi tersebut, akhirnya menyatukan kembali proses awal dan hasil akhir karya maestro itu yang kini tersimpan berdampingan.

   Wim Oepts wafat di Paris pada tanggal 22 Maret 1988, meninggalkan warisan yang kini tersimpan di koleksi permanen Stedelijk Museum Amsterdam, Kunstmuseum Den Haag, Centraal Museum Utrecht, serta banyak koleksi pribadi berharga. Pameran retrospektif besar di Kunsthal Rotterdam tahun 2011 semakin menegaskan kedudukannya sebagai penafsir cahaya matahari yang agung. Ia membuktikan bahwa seorang seniman otodidak yang lahir di negeri berawan mampu menciptakan nyanyian warna kehangatan selatan yang abadi, menjadi inspirasi bagi banyak pelukis pasca-perang dan membuktikan bahwa warna memegang kedudukan tertinggi dalam sejarah seni Belanda abad ke-20.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id