Sejarah sering kali hanya mencatat nama-nama besar, sementara kisah orang-orang biasa di sudut kota sering kali terlupakan. Salah satunya adalah kisah Fientje de Feniks, seorang gadis blasteran yang hidupnya berakhir dengan tragis di Batavia pada tahun 1912.
Kalau kita mencari tahu tentang Fientje lewat artikel lama, narasi yang muncul hampir selalu miring. Dia sering kali dicap hanya sebagai pelacur papan atas atau sekadar bahan obrolan sensasional koran kolonial. Tapi jika dilihat dengan kacamata yang lebih adil, Fientje adalah potret nyata korban kerasnya kehidupan masa itu.
Lahir di Batavia pada tahun 1893 di tengah masyarakat kolonial yang rasis membuat hidupnya tidak mudah. Di usia belasan tahun, penampilan fisiknya justru menjadi awal dari banyak masalah, hingga akhirnya jeratan ekonomi membawa dirinya ke dunia malam Batavia.
Kronologi tragis yang menimpanya sebenarnya memuncak pada malam tanggal 17 Mei 1912. Di sebuah rumah bordil dekat Stasiun Pasar Senen, terjadi perselisihan hebat antara Fientje dengan Willem Brinkman, seorang pria Belanda kaya anggota Societeit Concordia. Brinkman yang mabuk kekuasaan menuntut kepemilikan mutlak atas diri Fientje, namun Fientje dengan berani menolaknya demi mempertahankan sisa harga dirinya. Penolakan itulah yang membuat Brinkman gelap mata dan menghabisi nyawa Fientje malam itu juga.
Keesokan harinya, 18 Mei 1912, Batavia gempar. Jasad Fientje ditemukan warga di dalam sebuah karung yang tersangkut di pintu air Kali Baru. Media kolonial saat itu langsung mengeksploitasi kematian ini sebagai berita utama yang bombastis.
Proses hukum pun berjalan timpang. Brinkman sempat mencoba menyuap penegak hukum dan menyewa pengacara andal untuk menutupi keterlibatannya, sementara tiga kuli sempat ditangkap karena dibayar untuk membuang jasad tersebut. Namun, dinding kekebalan itu runtuh berkat keberanian Rosna, sahabat Fientje yang menyaksikan perselisihan malam itu, yang dengan lantang bersaksi di pengadilan.
Brinkman akhirnya dijatuhi hukuman mati, meski sebelum dieksekusi, ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri di dalam sel penjara.
Sayangnya, meski kejadian itu sudah lewat lebih dari seratus tahun, cara orang menceritakan kisah Fientje tidak banyak berubah. Banyak media modern yang masih hobi membumbui kisahnya dengan hal-hal yang vulgar demi menarik pembaca, sementara sisi kemanusiaannya sebagai korban justru tenggelam.
Melalui tulisan ini, kita ingin mengingat Fientje dengan cara yang berbeda dan lebih jernih. Bukan untuk mencari sensasi, atau mengungkit latar belakang kehidupan malamnya, melainkan untuk melihatnya sebagai korban kejahatan yang nyata di tengah ketidakadilan zaman. Sudah saatnya kita melepaskan bumbu-bumbu vulgar dari narasi ini, dan menerangkan kebenaran sejarah secara jujur.

Social Header