Sebuah lembar foto tua dari awal tahun 1950-an menyimpan sebuah momen yang penuh makna. Tampak Bung Karno tengah melintasi Jalan K.H. Mas Mansur di kawasan Ampel, Surabaya. Di sepanjang kiri dan kanan jalan, masyarakat peranakan Arab tumpah ruah bersama masyarakat etnis lainnya menyambut kehadiran Sang Proklamator dengan antusiasme yang luar biasa.
Namun, kehadiran Bung Karno di koridor jalan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ia hadir untuk menelusuri kembali jejak-jejak sejarah dan memberikan penghormatan mendalam kepada sebuah basis perjuangan yang ia tahu persis nilai sejarahnya.
Jauh sebelum riuh sambutan di awal tahun 50-an itu, jalanan yang di zaman kolonial bernama Kampement Prins Hendrik straat ini pernah menjadi saksi bisu berkecamuknya perang kemerdekaan.
Pada bulan November 1945, sebelum pertempuran besar memuncak di Jembatan Merah, bentrokan fisik sudah meletus di kawasan ini. Di jalan ini pula berdiri rumah seorang tokoh yang dihormati, seorang filantropis yang bernama Ibrahim Baswedan. Saat situasi genting kala itu, Anak-anaknya merelakan rumahnya beralih fungsi menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta pusat markas pergerakan para pemuda peranakan Arab. Rumah yang kini kita kenal sebagai Rumah Sakit Al-Irsyad tersebut menjadi saksi bisu bagaimana para pemuda keturunan Arab bahu-membahu bersama arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan.
Bung Karno sangat memahami andil besar masyarakat di kawasan ini. Itulah mengapa nama jalan tersebut kemudian diabadikan menjadi Jalan K.H. Mas Mansur. Nama ini merujuk pada sosok ulama besar sekaligus Pahlawan Nasional asal daerah tersebut, yang dalam nadinya mengalir darah Arab dari marga Basyaiban. Pengabadian nama ini seolah menjadi penanda abadi tentang menyatunya napas perjuangan peranakan Arab dengan napas kebangsaan Indonesia.
Melalui foto tua tersebut, kita bisa melihat bentuk nyata dari rasa hormat dan kecintaan Bung Karno yang luar biasa terhadap sumbangsih peranakan Arab. Bagi Bung Karno, perjuangan mereka dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah bagian sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Foto dari awal tahun 50-an di Jalan K.H. Mas Mansur ini akhirnya menjadi sebuah pengingat berharga: bahwa di bawah langit Ampel, sekat-sekat asal-usul lebur menjadi satu atas nama cinta kepada tanah air.

Social Header