Oemar Ba'ahsan merupakan salah satu tokoh militer Indonesia yang memiliki peran strategis dan jejak sejarah mendalam pada masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan. Berasal dari Tasikmalaya dan berdarah Arab dari marga Ba'ahsan, ia dikenal bukan hanya sebagai komandan pasukan, melainkan bagian dari jaringan pergerakan rahasia yang menanamkan semangat kemerdekaan di dalam tubuh militer pribumi.
Saat Jepang berkuasa, Oemar Ba'ahsan bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer yang dibentuk tahun 1943. Awalnya organisasi ini dirancang untuk kepentingan pertahanan Jepang, namun para pejuang nasional melihatnya sebagai peluang untuk mempersenjatai rakyat demi kemerdekaan. Oemar Ba'ahsan tercatat sebagai anggota aktif kelompok Sapumas (SM), kelompok revolusioner anti-fasis yang berdiri sejak 2 Juni 1940 di Jatinegara. Seiring masuknya banyak anggota Sapumas ke dalam PETA, Oemar Ba'ahsan menjadikan wilayah Rengasdengklok sebagai pusat konsolidasi gerakan ini, menyebarkan semangat nasionalisme di kalangan prajurit.
Menjabat sebagai Shodacho atau komandan kompi, Oemar Ba'ahsan memimpin pasukan PETA di Rengasdengklok dengan sangat hati-hati dan cerdik. Beliau berhasil mengondisikan wilayahnya menjadi basis yang aman dan dipercaya para pemuda pejuang seperti Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh. Pasukannya bersiaga penuh mendukung langkah-langkah strategis pergerakan nasional, semuanya dilakukan tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari pihak tentara Jepang.
Semangat perlawanan yang tumbuh di dalam tubuh PETA akhirnya meledak dalam Pemberontakan Blitar pada 14 Februari 1945. Dipimpin oleh para perwira muda yakni Soeprijadi, Moeradi, dan Soeparjono, pasukan PETA menyerbu pos militer Jepang di malam hari dengan gagah berani. Meski perlawanan ini gagal dan ditumpas secara kejam, banyak perwira dihukum mati dan disiksa hingga tewas, peristiwa ini membuktikan bahwa kesetiaan prajurit PETA sepenuhnya milik tanah air, bukan penjajah. Semangat anti-fasis inilah yang juga hidup dan dipupuk oleh Oemar Ba'ahsan bersama rekan-rekan Sapumas di Rengasdengklok.
Sebagai saksi mata dan pelaku sejarah, Oemar Ba'ahsan mengabadikan pengalamannya dalam buku berjudul "Tjatatan Ringkas Tentang PETA (Pembela Tanah-air) Dan Peristiwa Rengasdengklok" yang terbit tahun 1955. Tulisan ini menjadi sumber sejarah utama yang menjelaskan bagaimana organisasi bentukan Jepang perlahan berubah menjadi alat perjuangan, serta menghubungkan semangat perlawanan di Blitar dengan persiapan menuju proklamasi kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, pengabdiannya berlanjut. Oemar Ba'ahsan dipercaya memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kemudian Tentara Republik Indonesia (TRI) di wilayah Purwakarta, dan sempat mendiami bekas rumah kediaman Bupati zaman Jepang sebagai pusat tugasnya.
Dalam kehidupan pribadinya, ia membangun keluarga yang terhormat. Salah satu putrinya menikah dengan Dr. Rukni Shahab, seorang dokter bedah ortopedi keturunan Arab yang kelak dikenal sebagai pemilik Rumah Sakit Siaga di Jakarta Timur.
Nama Oemar Ba'ahsan kini tercatat abadi dalam sejarah. Dari gerakan bawah tanah Sapumas, semangat perlawanan di Blitar, hingga persiapan kemerdekaan di Rengasdengklok, ia adalah bukti nyata bahwa di dalam barisan PETA, lahir para tentara yang sejatinya adalah pejuang kemerdekaan Indonesia.

Social Header