Breaking News

Mengenang Langkah Revolusioner Marta Harnecker Oleh: Hamid Nabhan


   ​Dunia melepas kepergian salah satu intelektual revolusioner terbesar dari Amerika Latin. Marta Harnecker yang wafat pada tanggal 14 Juni 2019 di Vancouver, Kanada, dalam usia 82 tahun. Lebih dari sekadar jurnalis, psikolog, dan sosiolog, ia adalah rahim pemikiran bagi lahirnya kader-kader partai kiri di berbagai belahan dunia. 

   The New York Times bahkan menjulukinya sebagai "salah satu teoritikus Marxis paling berpengaruh dalam gerakan kiri Amerika Latin."  Lahir di Santiago de Chile pada tahun 1937, Harnecker tumbuh dan menempa diri dalam pusaran sejarah yang bergejolak.  Ia bergabung dengan Partai Sosialis Cile pada tahun 1968, menjalani masa pemerintahan sosialis Salvador Allende secara langsung sebagai jurnalis, sekaligus menjadi saksi hidup yang berhasil selamat dari kekejaman kudeta militer Augusto Pinochet pada tahun 1973.

   ​Marta Harnecker lahir dari keluarga berlatar belakang keturunan Austria. Pada tahun 1962, ia menyelesaikan studi psikologi di Universitas Katolik Cile. Langkah akademisnya kemudian membawanya ke Paris, di mana ia mendalami filsafat pascasarjana di bawah bimbingan langsung dua pemikir besar dunia: Paul Ricoeur dan Louis Althusser. Sekembalinya ke Cile pada tahun 1968, ia mendedikasikan ilmunya sebagai profesor Materialisme Historis dan Ekonomi Politik di jurusan Sosiologi Universitas Cile, sembari mengemban tugas sebagai direktur mingguan politik Chile Hoy. 

   Namun, kudeta berdarah tahun 1973 memaksanya mengasingkan diri ke Kuba. Di pulau revolusioner itu, ia menikah dengan "Comandante" Manuel Piñeiro dan dikaruniai seorang putri. Di sana, ia tidak berhenti bergerak, ia mendirikan lembaga riset Memoria Popular Latinoamericana (MEPLA). Harnecker juga ikut merasakan getirnya "periode khusus" saat Kuba menghadapi runtuhnya sosialisme di Eropa Timur dan Uni Soviet, sebuah masa sulit yang ia gambarkan berhasil dihadapi rakyat Kuba dengan cara yang 'mengagumkan'.

   ​Sebagai pemikir, Harnecker teguh menunjukkan bahwa sosialisme bukanlah proyek utopis yang bisa dijatuhkan "dari atas". Sosialisme harus lahir dan mengakar dari perjuangan gerakan rakyat serta kelas-kelas yang tertindas. Mendiang jurnalis dan pemikir Samir Amin, dalam artikelnya di La Haine, pernah memberikan testimoni yang sangat presisi mengenai sosoknya dengan menyatakan bahwa ia adalah seorang Marxis sejati yang melanjutkan karya yang dirintis oleh Marx, tanpa rasa takut untuk memperkembangkannya dengan senantiasa memperhitungkan hal-hal baru dalam realitas dunia, kapitalisme, imperialisme, dan perjuangan. Harnecker turut memberikan dimensi Amerika Latin pada Marxisme yang hidup, sebagaimana tokoh-tokoh lain memberikan dimensi Asia atau Afrika padanya.  Ia membantu membebaskan Marxisme dari kungkungan Eurosentrisme yang mematikan.

   ​Setelah suaminya, Manuel Pineiro, wafat pada tahun 1998, langkah investigasinya tidak berhenti. Pada tahun 2004, ia menikah dengan seorang ekonom asal Kanada, Michael A. Lebowitz, dan terus memperkaya teoretisnya dengan turun ke lapangan, merekam kesaksian serta pengalaman para pemimpin politik praktis.  Salah satu kiprah pentingnya di era ini adalah di Venezuela antara tahun 2004 hingga 2011, di mana ia bertindak sebagai penasihat bagi mendiang Presiden Hugo Chávez dan Kementerian Kekuatan Rakyat, serta menjadi bagian dari tim manajemen Pusat Internasional Miranda (CIM) di Caracas. 

   Dukungannya terhadap Revolusi Bolivarian tercermin kuat dalam buku-bukunya seperti Hugo Chávez Frías, Un hombre, un pueblo dan Venezuela, una revolución sui generis.

   ​Marta Harnecker adalah penulis yang luar biasa produktif dengan warisan lebih dari 80 buku. Salah satu karya monumentalnya yaitu  "Konsep-Konsep Dasar Materialisme Historis" (Elemental Concepts of Historical Materialism) yang ditulis pada tahun 1969, telah dicetak ulang lebih dari 70 edisi dan terjual hampir satu juta eksemplar dalam bahasa Spanyol dan Portugis. Buku teks ringkas ini menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa dan pembentukan politik kader kiri global pada era 1970-an hingga 1980-an.

   Warisan penting lainnya adalah manifesto ringkasnya yang bertajuk "Ideas for the Struggle" (Gagasan untuk Perjuangan). Ditulis pertama kali di Venezuela pada tahun 2004 dan diperbarui pada tahun 2016 untuk para aktivis revolusioner di Amerika Serikat, kumpulan esai ini membedah masalah-masalah krusial gerakan kiri yang belum kunjung selesai, bagaimana membangun aktivisme politik yang efektif, mengorganisasi kekuatan dari bawah, serta merawat visi revolusioner di tengah dunia yang terus berubah. 

   ​Dampak intelektualnya meluas melampaui batas bahasa nasional dan sekat generasi. Karya-karya taktisnya, seperti "Rebuilding the Left", diterbitkan oleh penerbit akademik kelas dunia seperti Bloomsbury, membawa diskursus gerakan akar rumput Amerika Latin ke pusat studi ideologi barat.  Di sisi lain, komitmennya pada keterbukaan ilmu membuat teks-teks klasiknya diarsipkan secara digital di Marxists Internet Archive (MIA) agar tetap bisa diakses gratis oleh para aktivis muda. 

   Hingga hari ini, analisis historisnya mengenai gerakan rakyat, transnasionalisme, dan emansipasi kelas pekerja terus dikaji secara mendalam dan diabadikan dalam database jurnal ilmiah internasional terkemuka seperti JSTOR.

​Beberapa karya penting lainnya yang diakui dunia internasional antara lain Capital: Fundamental Concepts (1971), Cuba: Dictatorship or Democracy? (1975), Peoples in Arms (1983), The Social Revolution (Lenin and Latin America) (1986), What Is Society? (1986), Indigenous People, Christians and Students in the Revolution (1987), Latin America: Left and Current Crisis (1990), Making Way to Walk (1995), The Left after Seattle, Making the Impossible Possible: The Left at the Threshold of the 21st Century (1999), hingga A World to Build (New Roads) (2013/2015), buku yang mengantarkannya meraih Penghargaan Pemikiran Kritis Libertador pada tahun 2014. 

   Setelah perjuangan panjang melawan kanker, Harnecker mengembuskan napas terakhirnya didampingi keluarga tercinta. Tubuhnya mungkin telah tiada, namun baris-baris teks serta gagasan perjuangan yang ia wariskan, baik dalam bentuk cetak, jurnal ilmiah, publikasi global, maupun arsip digital, akan terus membakar semangat perlawanan kaum tertindas dari bawah.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id