Bagi generasi yang tumbuh di era 1970-an hingga 1990-an, mari kita mengingat kembali bunyi tune pembuka siaran radio BBC London dan sapaan hangat, "Halo dan apa kabar, di sini London..." yang dulu menjadi jendela utama kita terhadap informasi dunia. Di masa lalu, mendengarkan berita internasional memang butuh perjuangan tersendiri karena kita harus memutar tombol analog radio perlahan-lahan untuk mencari sinyal di gelombang pendek (Shortwave) yang sering kali penuh dengan suara kresek-kresek gelombang udara. Di balik suara-suara jernih yang menembus batas udara nusantara itu, ada satu sosok jurnalis legendaris yang sangat dihormati dan patut kita kulik kisahnya bersama, yaitu Abdullah Alamudi.
Sebuah foto grup klasik dari tim BBC Seksi Indonesia, lengkap dengan kartu panduan jadwal siarannya, membuka kembali kotak kenangan dan mempertemukan kita dengan sosoknya. Jika kita memperhatikan foto grup tersebut, di barisan paling belakang, berdiri tegak seorang pria berwibawa yang merupakan Abdullah Alamudi muda saat bertugas di Bush House, London. Bagi jurnalis senior di Indonesia, namanya bukanlah nama sembarangan, melainkan sosok mentor, pakar etika pers, dan jurnalis berintegritas tinggi yang kelak di kemudian hari dipercaya menjadi anggota Dewan Pers Indonesia.
Melalui foto ini, mari kita bayangkan bagaimana dedikasinya setiap hari mengolah berita internasional, menjaga akurasi, dan menyampaikannya dengan bahasa Indonesia yang apik kepada jutaan pendengar di tanah air.
Kehadiran sosok Abdullah Alamudi di London kala itu merupakan bagian dari kolaborasi multikultural yang luar biasa, di mana ia bekerja bahu-membahu dengan jurnalis lokal seperti Inke Maris, Hasan Asjari Oramahi, Irna Sinulingga, serta para jurnalis Inggris yang fasih berbahasa Indonesia seperti Nick Nugent dan Colin Wild. Mari kita bayangkan betapa sibuknya suasana studio di London saat itu, terutama ketika mencocokkan waktu siaran yang tertera pada kartu panduan jadwalnya.
Siaran dilakukan tiga kali sehari, mulai dari siaran Pagi pukul 06.15 WIB, Petang pukul 17.30 WIB, hingga siaran Malam pukul 20.00 WIB, yang semuanya dipancarkan melalui meteran gelombang pendek seperti gelombang 16, 25, 49, dan 75 meter.
Menelusuri jejak Abdullah Alamudi melalui lembaran foto lawas ini menyadarkan kita bahwa ia bukan sekadar penyiar berita biasa yang membaca teks di depan mikrofon. Ia adalah salah satu perintis jalan yang menjembatani Indonesia dengan informasi global yang objektif di masa ketika berita tepercaya masih menjadi barang mewah. Melalui dokumentasi yang sangat berharga ini, mari kita kembali menghargai dedikasi dan warisan jurnalistik dari seorang Abdullah Alamudi, sosok yang suaranya pernah menemani hari-hari kita langsung dari jantung kota London.


Social Header