Marianne North adalah seorang pelukis, penjelajah, dan pengamat alam asal Inggris yang namanya tercatat istimewa dalam dunia seni dan ilmu pengetahuan, dikenal luas karena dedikasinya yang luar biasa melukis beragam jenis tumbuh-tumbuhan dari berbagai penjuru dunia. Ia lahir pada tanggal 24 Oktober 1830 di Hastings, Inggris, dalam lingkungan keluarga kelas menengah atas yang dekat dengan lingkungan pemerintahan dan kebudayaan. Sebagai anak sulung dari Frederick North, seorang anggota parlemen yang sangat ia kagumi, Marianne sejak kecil sering ikut bepergian bersama ayahnya ke berbagai tempat di pedalaman maupun kota besar, sebuah kebiasaan yang menumbuhkan rasa cinta mendalam akan perjalanan dan ketajaman mata dalam mengamati alam sekitar.
Awalnya, ia menekuni dunia musik dan menyanyi, namun karena sering mengalami rasa gugup dan takut saat tampil di depan umum, ia memutuskan untuk beralih sepenuhnya ke dunia seni rupa. Ia mulai belajar melukis bunga dan tanaman dari seorang pengajar asal Belanda, serta dilatih pula oleh pelukis tanaman yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan keraton Inggris.
Suatu ketika, teman keluarga yang saat itu menjabat direktur Kebun Raya Kew, yaitu Sir William Hooker, memberinya potongan tanaman langka Amherstia nobilis atau yang dijuluki "Raja Pohon Berbunga". Momen menyaksikan tanaman itu berbunga untuk pertama kalinya di benua Eropa sangat berkesan dan mengubah arah hidupnya, karena saat itulah tumbuh keinginan kuat dalam hatinya untuk melihat langsung dan mengabadikan kekayaan alam daerah tropis yang begitu indah dan belum banyak diketahui orang Eropa.
Perubahan besar dan keputusan paling penting dalam hidupnya terjadi setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 1855, dan kemudian disusul kepergian ayahnya pada tahun 1869. Sebagai pewaris tunggal yang menerima warisan cukup besar, dan melihat saudara-saudaranya sudah memiliki kehidupan dan keluarga masing-masing, Marianne menjual rumah keluarga dan menetapkan tekad yang luar biasa besar, mendedikasikan sisa hidupnya untuk berkelana ke seluruh penjuru bumi dengan satu tujuan utama, yaitu melukis keanekaragaman hayati, khususnya tumbuh-tumbuhan dan pemandangan alam sekitarnya, dan semua ini ia lakukan sepenuhnya dengan biaya, perencanaan, dan usaha sendiri.
Berbeda dengan kebanyakan pelukis tanaman pada masanya yang biasanya hanya menggambar spesimen yang sudah dikeringkan, diawetkan, atau dibawa ke ruang kerja yang nyaman, Marianne North memiliki cara pandang dan teknik yang sangat berbeda serta menentang aturan baku zaman itu. Ia memegang prinsip teguh untuk melukis tumbuh-tumbuhan itu langsung di habitat aslinya, saat tumbuh segar, hidup, dan berkembang di tengah hutan, pegunungan, atau tepi sungai tempat mereka berasal. Selain itu, di masa itu para pelukis tanaman umumnya menggunakan cat air yang lembut dan pucat, namun Marianne memilih menggunakan cat minyak yang membuat hasil lukisannya jauh lebih tegas, cerah, hidup, dan warnanya sangat memukau serta tahan lama.
Gaya lukisannya sangat khas, digambarkan memiliki nuansa yang fantastis, sangat mendetail hingga ke urat daun, serat kayu, dan tekstur kulit pohon, tampak sangat nyata dan akurat secara ilmiah, namun dengan warna-warna yang ditonjolkan kesan indahnya, sehingga karyanya terlihat luar biasa, mempesona, dan memiliki kekuatan artistik yang tinggi. Ia juga sering kali tidak hanya melukis satu jenis tanaman saja, melainkan memadukannya dengan pemandangan latar belakang, struktur tanah, bebatuan, langit, hingga hewan-hewan kecil dan serangga yang hidup berdekatan, sehingga karyanya menjadi gambaran utuh dari sebuah ekosistem yang hidup. Karya-karyanya juga dipengaruhi oleh berbagai aliran seni masanya, mulai dari teknik pengerjaan yang teliti mirip pelukis Pra-Raphaelit* hingga gaya pemandangan alam yang luas dan megah. Marianne juga berkenalan dengan tokoh-tokoh ilmuwan terkemuka pada zamannya, seperti Charles Darwin dan Louis Agassiz, yang gagasan pemikirannya tentang evolusi dan geografi tumbuhan sangat memengaruhi cara pandang ilmiah yang tercermin dalam setiap goresan kuasnya. Darwin bahkan secara khusus menyarankan ia pergi ke Australia untuk melihat flora unik di sana, dan sebagai tanda terima kasih serta bukti ketelitiannya, Marianne membawakannya contoh dan gambar tanaman langka yang belum pernah dilihatnya.
Ia bahkan tercatat pernah membantu mengidentifikasi jenis tanaman baru bagi dunia ilmu pengetahuan. Di samping itu, Marianne North juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap isu lingkungan hidup jauh sebelum isu itu populer; ia sangat prihatin melihat kerusakan hutan dan penebangan pohon besar akibat dampak industri dan perkebunan, dan berusaha sekuat tenaga merekam keindahan itu sebelum banyak bagian alam tersebut berubah fungsi atau hilang selamanya.
Perjalanan panjangnya selama empat belas tahun membawanya mengunjungi enam benua dan sebanyak tujuh belas negara, mulai dari keliling Eropa, Suriah, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Jamaika, hingga ke Brasil di mana ia tinggal lebih dari satu tahun, mendirikan kemah, dan membuat lebih dari seratus lukisan di tengah hutan belantara Amazon. Ia juga pergi ke Jepang untuk melukis pemandangan sekitar Gunung Fuji, Kalimantan, Jawa, Ceylon atau yang sekarang dikenal sebagai Sri Lanka, hingga ke Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Seychelles, dan Cile. Menelusuri jejak perjalanannya kini menjadi perjalanan sejarah tersendiri, karena tempat-tempat yang ia lukis masih bisa dikenali dan dikunjungi, menjadi saksi bisu betapa jauh dan sulitnya ia menempuh perjalanan di abad ke-19.
Di setiap tempat, ia menghadapi berbagai tantangan mulai dari cuaca panas yang menyengat, hujan lebat, serangga, hingga sulitnya komunikasi dan akses jalan, namun ia tetap duduk berjam-jam di tempat terbuka demi mendapatkan sudut pandang dan cahaya yang tepat. Salah satu perjalanan yang paling lama, berkesan, dan paling banyak menghasilkan karya adalah saat ia mengunjungi India antara tahun 1878 hingga 1879. Di pertengahan abad ke-19, melakukan perjalanan ke tempat sejauh itu bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi seorang wanita yang berkelana sendirian tanpa pendamping resmi, namun hal itu tidak menyurutkan niat dan keberaniannya sedikit pun. Ia tiba di India dan menjelajahi berbagai wilayah luas, mulai dari kawasan pegunungan Himalaya yang sejuk dan berkabut, lembah-lembah yang subur di utara, hingga hutan-hutan tropis yang lebat dan rimbun di bagian selatan, sampai ke kota bersejarah Tanjore. Di sanalah ia berdiri berjam-jam di bawah terik matahari atau berteduh di bawah rimbunan pepohonan besar, membawa kotak cat dan kanvasnya, dan langsung mengabadikan berbagai jenis flora yang belum banyak diketahui atau didokumentasikan orang Eropa saat itu. Beberapa karya terkenalnya dari India antara lain lukisan berjudul Pohon Hutan yang Sangat Indah, pemandangan pohon kelapa, tanaman obat, bunga-bunga eksotis, hingga tumbuhan langka yang hanya bisa ditemukan di tanah tersebut.
Dalam setiap lukisannya, ia sering kali tidak hanya menggambar satu jenis tanaman saja, melainkan menampilkannya dalam pemandangan alam yang luas, sehingga kita bisa merasakan betapa subur, megah, dan kaya warnanya alam India di masa itu. Catatan lengkap perjalanannya ditulis rapi dan mendetail dalam buku harian yang kemudian diterbitkan dalam dua jilid berjudul Recollections of a Happy Life dan Some Further Recollections, yang disunting dan diterbitkan oleh saudara perempuannya setelah ia meninggal dunia.
Hasil dari seluruh pengembaraannya sungguh luar biasa dan menjadi harta tak ternilai harganya bagi dunia. Marianne North berhasil mengabadikan hampir seribu jenis tumbuhan berbeda dalam delapan ratus tiga puluh dua lukisan minyak yang tersimpan utuh hingga kini. Jasanya bagi dunia botani sangat besar dan diakui secara ilmiah; ada satu marga dan lima jenis tumbuhan yang dinamai menggunakan namanya sebagai bentuk penghormatan abadi, antara lain Areca northiana, Chassalia northiana, Crinum northianum, Kniphofia northiae, dan Nepenthes northiana atau kantong semar raksasa yang ia temukan di pegunungan kapur Sarawak, Kalimantan. Karena jumlah dan nilainya yang sangat besar, serta keinginannya agar karyanya bisa dinikmati semua orang selamanya, ia merencanakan, mendanai sepenuhnya, dan membangun sebuah bangunan galeri khusus untuk menyimpan dan memamerkan seluruh karyanya. Hal yang paling istimewa dan sangat jarang terjadi pada masa itu adalah bahwa Marianne sendiri yang menyusun konsep, merancang tata letak, dan mengatur pameran di galeri tersebut, layaknya seorang kurator profesional masa kini. Galeri Marianne North ini dibangun di lingkungan Kebun Raya Kerajaan Kew di Inggris, dibantu oleh arsitek James Fergusson, dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 1881, kemudian diperluas lagi beberapa tahun berikutnya.
Penataan lukisan di dalam galeri ini diatur langsung oleh Marianne sendiri berdasarkan urutan wilayah geografis tempat lukisan itu dibuat, disusun rapat memenuhi seluruh permukaan dinding dari lantai hingga ke langit-langit, memberikan kesan luar biasa, berdenyut warna, dan seolah-olah pengunjung masuk ke dalam satu karya seni besar yang utuh dan melintasi dunia. Galeri ini masih berdiri kokoh hingga sekarang, pernah dipugar dan dikembalikan ke keindahan aslinya pada tahun 2008, dan hingga kini tetap menjadi satu-satunya tempat pameran tunggal permanen milik seorang seniman wanita di seluruh Inggris Raya.
Yang membuat sosok Marianne North semakin mengagumkan adalah keberanian, kemandirian, dan kekuatan jiwanya. Di zamannya, perempuan jarang sekali diberikan kebebasan untuk bepergian jauh sendirian, apalagi dengan tujuan bekerja dan berkarya di tengah alam liar. Namun ia melakukannya dengan tekad yang kuat, mengubah rasa kehilangan orang tua dan kesendiriannya menjadi kekuatan untuk mengagumi dan mendokumentasikan keindahan dunia, didorong oleh rasa ingin tahu yang besar dan keinginan mendalam untuk mengabadikan alam sebelum berubah.
Ia membuktikan bahwa karya seninya melampaui zamannya, sangat relevan hingga abad ke-21 ini karena menyentuh isu keanekaragaman hayati, perubahan lingkungan, dan pelestarian alam yang semakin penting bagi kita semua. Marianne North meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1890 di usia 59 tahun, namun ia meninggalkan warisan yang sangat besar: sebuah jembatan indah yang menyatukan seni dan sains, rekaman sejarah alam yang tak tergantikan, serta kenangan abadi tentang kekayaan tumbuh-tumbuhan dunia, termasuk keindahan luar biasa yang pernah ia temukan dan lukis saat berkelana di tanah India.
*Pra-Raphaelit: Anggota dari kelompok seniman Inggris abad ke-19 yang menekankan lukisan yang sangat mendetail, warna-warna cerah, dan ketelitian alamiah, menolak gaya akademis yang kaku pada masa itu.



Social Header