Waktu boleh terus berjalan, dan selembar foto tua di tangan saya kini perlahan mulai menguning dan buram. Foto hitam-putih itu mengabadikan momen anak-anak kecil yang berpose sedang akan bermain bola di halaman sekolah.
Meski visual di atas kertas itu mulai terkikis oleh zaman, ingatan di dalam pikiran saya justru tetap abadi, dan rasa rindu di dalam hati selalu terasa segar, seolah semua itu baru saja terjadi kemarin pagi. Foto tua itulah yang selalu membawa kenangan saya kembali ke selasar SD Al-Irsyad Surabaya.
Arsitektur sekolah kami dulu begitu khas, ruang-ruang kelas berdiri melingkar, seakan mengepung sebuah lapangan luas yang menjadi pusat dari seluruh dunia kecil kami kala itu. Setiap pagi, saat bel masuk belum berbunyi, kaki-kaki kecil kami melangkah riang memotong lapangan untuk menuju kelas. Di situlah sebuah kenangan yang paling lekat terekam dalam benak saya.
Lapangan yang masih didekap embun pagi itu selalu menyebarkan aroma yang sangat khas, bau rumput segar yang begitu harum, murni, dan menenangkan. Bau rumput yang basah oleh embun di pagi hari yang cerah adalah aroma penyambut langkah kami, mengantarkan jiwa-jiwa polos kami untuk memulai hari dengan penuh sukacita.
Namun, cerita lapangan itu tidak berhenti di pagi hari saja. Ketika siang menjelang dan terik matahari kota Surabaya yang menyengat mulai membakar bumi, lapangan yang sama seolah berubah wujud. Di bawah panas yang kering, kami tetap saja berlari, bermain, dan tertawa tanpa peduli. Rumput-rumput yang tadinya basah kini telah terpanggang oleh matahari. Aromanya pun berubah menjadi lebih berat dan hangat, namun anehnya, tetap terasa sama harumnya di penciuman kami. Dua aroma rumput yang berbeda di satu lapangan yang sama itulah yang merangkum lembar demi lembar hari-hari kami di sekolah tercinta.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Waktu telah menghantar saya memasuki masa-masa senja, melangkah jauh meninggalkan masa kanak-kanak yang jenaka. Kota Surabaya telah banyak bersolek dan berubah. Lapangan penuh cerita itu pun kini telah tiada, digusur dan dibangun ulang mengikuti deru modernisasi zaman. Ruang terbuka tempat kami berlari dulu kini telah berganti rupa menjadi deretan bangunan baru.
Namun, biarlah fisik lapangan itu hilang digilas waktu, dan anak-anak kecil berkaus olahraga di foto itu kini telah menapaki usia tua. Foto fisik itu mungkin akan terus memudar dimakan waktu, tetapi bau rumput segar di pagi hari dan kehangatan aroma lapangan yang terpanggang matahari siang akan selalu tersimpan rapi di dalam ingatan, menjadi saksi bisu bahwa saya pernah memiliki masa kecil yang luar biasa indah.
Surabaya, 16 Juni 2026

Social Header