Di tengah dunia modern yang semakin sesak oleh sekat-sekat kehidupan, di mana ruang-ruang kota terasa menyempit dan serba tergesa-gesa, menatap selembar foto lama dari era 1920-an selalu memberikan ruang bagi jiwa untuk kembali relaks dan bernapas lepas.
Foto lanskap dari koleksi pribadi ini menampilkan sebuah bangunan berarsitektur anggun dengan halaman rumput yang begitu luas di depannya.
Bagi orang lain, gambar ini mungkin hanyalah sebuah dokumen usang peninggalan masa lalu. Namun bagi saya, bangunan ini memiliki nyawa dan cerita yang mendalam.
Ini adalah sekolah saya, dimana saya tumbuh menghabiskan masa kanak-kanak, di Perguruan Al-Irsyad Surabaya. Setiap kali memandangi detail tiang bendera dan atapnya yang megah, ingatan saya langsung melayang ke masa lalu.
Bangunan fisik yang kini telah tiada tersebut sebenarnya menyimpan narasi sejarah yang luar biasa besar bagi kota Surabaya. Di sinilah, pada 15 Januari 1924, sebuah pilar pendidikan modern berbasis Al-Qur'an, Al-Hadits, ilmu pengetahuan umum, dan bahasa Arab resmi ditegakkan. Di tempat ini pula, semangat pembaruan Islam diembuskan, mengakar kuat melalui kegigihan para tokoh ulama dan saudagar setempat termasuk kakek Syech Salim bin Saad bin Nabhan, yang merupakan salah satu diantara Pendiri Al-Irsyad surabaya, yang telah mewariskan kenangan melalui foto yang dimilikinya tersebut.
Keberadaan foto ini sekaligus menjadi sebuah ruang refleksi yang berharga. Di zaman sekarang, ketika dinamika modernisasi bergerak begitu cepat, kita terkadang menjadi kurang peduli pada keberadaan bangunan-bangunan peninggalan era kolonial. Kita cenderung melupakan arti penting dari sebuah warisan arsitektur kuno. Padahal, ketika satu bangunan bersejarah diruntuhkan, kita tidak hanya kehilangan tumpukan semen dan kayu. Kita sebenarnya sedang menghapus satu halaman dari buku sejarah kota kita, dan seluruh kenangan indah yang pernah tercipta di dalamnya pun ikut hilang dari pandangan.
Secara fisik, bangunan anggun Al-Irsyad Surabaya tahun 1924 yang terekam di foto ini memang telah hilang dari tempatnya berdiri. Langkah kaki para murid di koridornya dan tawa di halaman luasnya kini tak lagi bisa dijumpai secara nyata. Namun, melalui tulisan ini dan selembar foto yang saya rawat di dalam album koleksi, saya memilih untuk merawat ingatan tersebut.
Biarlah bentuk fisiknya berganti, tetapi memori, keindahan, dan nilai-nilai luhur dari sekolah saya ini akan tetap hidup serta abadi melalui untaian cerita yang kita wariskan.

Social Header