Geliat aliran Romantisisme di Prancis pada paruh awal abad ke-19 tidak sekadar mengubah arah seni rupa Eropa yang kala itu terkunci oleh kekakuan mazhab Neoklasik pimpinan Jean-Auguste-Dominique Ingres. Lebih dari itu, gerakan yang mengagungkan emosi, warna, dan dynamism gerak ini menjelma menjadi sebuah bahasa universal yang kelak menghubungkan imajinasi para seniman lintas benua. Di jantung perubahan ini, Eugene Delacroix tampil sebagai pionir yang mendobrak aturan akademis Paris melalui pengembaraan spiritual dan visualnya ke Afrika Utara pada tahun 1832.
Perjalanan Delacroix ke Maroko dan Aljazair berhasil meruntuhkan stereotipe Orientalisme Barat yang sebelumnya hanya bersandar pada fantasi sekunder atau puisi Lord Byron. Di atas tanah Afrika Utara, ia menemukan apa yang disebutnya sebagai "Antikuitas* yang Hidup", sebuah realitas bersahaja dari suku Arab Badui yang memiliki kemartabatan setara ksatria klasik.
Pengalaman empiris di bawah terik matahari magis Afrika Utara tersebut merombak total palet warnanya. Jurnal perjalanannya mencatat bahwa cahaya yang kuat di sana justru melembutkan gradasi dan membebaskan ekspresi batin. Melalui goresan yang lebih cair dan teatrikal, Delacroix membebaskan seni Barat dari batas studio konvensional.
Daya hidup dari estetika Romantisisme pasca-perjalanan Afrika Utara ini ternyata memancar sangat jauh, melintasi batas samudra hingga menyentuh sanubari seorang pelopor seni rupa modern Indonesia berdarah Arab-Jawa, Raden Saleh Sjarif Boestaman.
Berdasarkan riset mendalam kurator Werner Kraus, Raden Saleh lahir di Terbaya dekat Semarang pada Mei 1811. Bakat alamnya awalnya diasah di Bogor oleh pelukis Belgia, Antoine Payen, sebelum akhirnya ia bertolak ke Eropa pada tahun 1830 atas sokongan Gubernur Jenderal Van der Capellen.
Secara historis, Raden Saleh dan Eugene Delacroix memang tidak pernah terikat dalam hubungan personal langsung atau ikatan guru-murid secara formal. Kendati demikian, sejarawan seni menemukan adanya dialog visual yang intim di antara keduanya melalui sosok perantara bernama Horace Vernet. Pelukis militer terkemuka Prancis yang merupakan sahabat karib Delacroix ini menjadi rekan dekat sekaligus mentor Raden Saleh selama menetap di Paris. Melalui mata rantai Vernet inilah, Raden Saleh menyerap intensitas drama dan teknik atmosferik khas Delacroix.
Hubungan ini bahkan diperkuat ketika Raden Saleh ikut melakukan perjalanan langsung mengunjungi Aljazair bersama Vernet, menapaki tanah Afrika Utara yang sama yang pernah mengubah hidup Delacroix.
Serapan visual dari napas Romantisisme Prancis tersebut memicu lahirnya mahakarya-mahakarya teatrikal Raden Saleh yang legendaris, seperti Perburuan Singa (1840, 1841), Singa Terluka (1838), dan Perburuan Banteng (1855).
Berbeda dengan pelukis lanskap Eropa yang cenderung tenang, Raden Saleh mengadopsi keberanian Romantis dalam menangkap konflik hidup dan mati. Sapuan kuasnya yang dramatis berpadu dengan palet warna gelap yang mencekam, seperti cokelat bumi dan abu-abu untuk memperlihatkan kemartabatan sekaligus kegarangan satwa liar. Di balik keindahan visualnya, lukisan-lukisan perburuan ini kerap dibaca sebagai metafora atau kritik tersembunyi terhadap agresi, kolonialisme, dan keserakahan manusia.
Pencapaian estetika ini membawa Raden Saleh ke puncak pengakuan di Eropa, termasuk dianugerahi Bintang Eikenkroon dari Raja Willem II. Sekembalinya ke Pulau Jawa pada tahun 1851, setelah melewati fase kehidupan domestik yang dinamis, ia melahirkan karya monumental bermuatan politis kuat seperti Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), sebelum akhirnya mendedikasikan sisa hidupnya untuk ilmu pengetahuan dengan menghibahkan lahan rumahnya di Cikini menjadi kebun binatang (kini menjadi Taman Ismail Marzuki), hingga wafat di Bogor pada tahun 1880.
Pada akhirnya, arus Romantisisme yang dipantik oleh penjelajahan Delacroix di dunia Arab Badui pada tahun 1832 tidak hanya meninggalkan jejak pada genetika seni modern Barat melalui generasi Impresionisme hingga Pablo Picasso. Melalui perentangan budaya dan estetik yang dibawa pulang oleh Raden Saleh ke tanah Jawa, romansa visual tersebut sekaligus ikut memantik fajar pertama lahirnya modernitas dalam sejarah seni rupa Indonesia.
* Istilah yang merujuk pada suasana atau nilai-nilai dari zaman kuno (klasik), di mana Delacroix memandang kehidupan bersahaja suku Arab Badui memiliki kemartabatan dan keagungan yang setara dengan para ksatria Yunani atau Romawi kuno.

Social Header