Breaking News

Di Antara Kanvas dan Cinta, Kisah Abadi Frida Kahlo dan Diego Rivera Oleh: Hamid Nabhan

   Hubungan antara Frida Kahlo dan Diego Rivera merupakan salah satu kisah paling legendaris, paling mendalam, dan penuh kontradiksi dalam sejarah seni rupa dunia. Selama dua puluh lima tahun mereka bersama dalam ikatan pernikahan, keduanya disatukan oleh keyakinan politik yang sama dan semangat revolusioner dari sebuah bangsa yang sedang berusaha membangun kembali jati dirinya. Namun, meski berjalan beriringan dan memiliki tujuan hidup yang senada, dunia seni yang mereka bangun di atas kanvas justru berjalan di jalur yang sangat berbeda, bahkan berlawanan arah. Diego dengan karya-karyanya yang besar, luas, dan menceritakan sejarah rakyat banyak, serta Frida dengan lukisan-lukisan kecilnya yang intim, tajam, dan menceritakan rasa sakit batinnya sendiri. Dua dunia seni yang bertolak belakang, namun lahir dari satu jiwa yang sama-sama mencintai kebenaran, keadilan, dan tanah air mereka, Meksiko. Kisah mereka bukan sekadar cerita asmara biasa, melainkan sejarah tentang bagaimana dua jiwa besar saling mengakui, saling menginspirasi, dan saling melengkapi hingga menjadi satu babak sejarah yang tak terpisahkan.

   Semuanya bermula pada tahun 1922, di Sekolah Persiapan Nasional Kota Meksiko. Saat itu Diego Rivera yang berusia 36 tahun sudah dikenal luas sebagai pelukis mural ulung, baru saja pulang setelah menghabiskan lebih dari satu dekade berkarier di Madrid dan Paris, bereksperimen dengan aliran Kubisme sebelum kembali ke gaya yang lebih realis dan kuat. Ia berdiri di atas bangku kerja yang dibangun tinggi sedang menyelesaikan karya besar berjudul Penciptaan, sebuah lukisan yang sarat rujukan gaya klasik dan simbol piramida jagung, menjadi tanda awal bagaimana Diego akan menggabungkan pengaruh seni Eropa dan budaya asli Amerika Tengah menjadi satu gaya baru yang agung. Ia mendapat kepercayaan penuh dari pemerintah untuk membawa budaya dan pengetahuan sejarah ke ruang-ruang publik, agar seni tidak hanya menjadi milik museum atau koleksi pribadi, tapi bisa dinikmati dan dipahami oleh semua lapisan rakyat. Di bawah sana, di antara kerumunan siswa yang mengamati dengan takjub, ada seorang gadis berusia 15 tahun bernama Frida Kahlo. Saat itu Frida adalah satu dari hanya 35 siswi perempuan di sekolah bergengsi yang berjumlah 2.000 murid itu, dan ia sedang menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter. Di mata Frida muda, melihat Diego bekerja menciptakan lukisan raksasa itu adalah sebuah pencerahan besar.

   Frida lahir pada tahun 1907 di Coyoacán, meski kemudian ia sering mengubah tahun kelahirannya menjadi 1910 agar sejalan dengan dimulainya Revolusi Meksiko, seolah hidupnya menyatu dengan sejarah bangsanya. Sejak kecil pun hidupnya sudah diuji, di usia enam tahun ia terjangkit penyakit polio yang membuat kaki kanannya menjadi lebih kecil dan lemah, perbedaan fisik yang berusaha ia sembunyikan seumur hidup dengan rok panjang dan pakaian adat daerah Tehuantepec yang lebar, indah, dan penuh warna. Di masa sekolahnya, Frida sudah dikenal sebagai sosok pemberani dan berpendirian kuat, bergabung dengan kelompok siswa bernama Los Cachuchas yang kritis terhadap keadaan sosial. Kesadaran politiknya semakin tumbuh, dan pada tahun 1927 ia mulai masuk ke lingkaran seniman dan kaum radikal di Kota Meksiko. Melalui persahabatannya dengan Tina Modotti, seorang fotografer Italia yang rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para seniman dan kaum revolusioner, Frida resmi bergabung dengan Partai Komunis pada tahun 1928. Di sanalah, di salah satu pertemuan lingkaran itu, Frida dan Diego kembali bertemu dan menjalin hubungan lebih dekat.

   Takdir berkata lain, dunia medis bukanlah jalan yang akan ditempuh Frida sepenuhnya. Sebuah kecelakaan parah terjadi pada tahun 1925, saat ia berusia 18 tahun, saat bus yang ia tumpangi bertabrakan hebat dengan trem. Tulang belakangnya patah di tiga bagian, tulang rusuk, selangka, dan panggulnya hancur berkeping-keping, dan sebuah batang besi menembus hingga ke rahimnya. Ia terbaring lemah selama berbulan-bulan dalam gips tubuh penuh, dan sebuah cermin digantungkan di atas tempat tidurnya agar ia bisa melihat bayangannya sendiri. Di situlah seni lukis ditemukannya sebagai jalan penyelamatan jiwa. Di masa pemulihan itulah ia membuat karya potret diri pertamanya berjudul Potret Diri dengan Gaun Beludru, ditujukan untuk teman lelakinya saat itu, seolah ingin merebut kembali keindahan dan harga diri yang dirasanya hilang bersamaan dengan tubuhnya yang rusak. Selama dua tahun berikutnya ia berjuang keras hingga bisa berjalan kembali, namun rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang, dan ia harus menjalani lebih dari 35 kali operasi sepanjang hidupnya.

   Pada rentang tahun 1923 hingga 1929, kesibukan Diego semakin gencar dan produktif. Ia berhasil menyelesaikan lebih dari 200 panel lukisan dinding besar untuk Kementerian Pendidikan dan Sekolah Pertanian Nasional di Chapingo. Misi hidupnya sangat jelas, seperti yang pernah ia tulis dalam otobiografinya berjudul Seni Saya, Hidup Saya, yaitu untuk mencerminkan kehidupan sosial masyarakat Meksiko sebagaimana ia melihatnya, dan melalui pandangan kebenarannya, ia ingin menunjukkan kepada seluruh rakyat sebuah gambaran masa depan yang cerah. Inilah inti dari gerakan seni mural Meksiko, lahir dari semangat reformasi budaya pasca revolusi. Lukisan-lukisan Diego menggambarkan masyarakat adat Meksiko dengan cara yang indah dan idealis, serta pekerja buruh yang gagah berani, bergaya semangat Soviet. Gambar-gambar itu diciptakan oleh seseorang yang memang menyaksikan perubahan bangsa, namun lebih banyak melalui diskusi di kafe-kafe Paris dibandingkan langsung di medan pertempuran. Diego melukis makna dari revolusi itu sendiri, bukan realita pahit berupa kelaparan atau kekerasan yang sesungguhnya terjadi.

   Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1929, mereka memutuskan untuk menikah. Saat itu Frida berusia 22 tahun dan masih pemula dalam dunia seni, sedangkan Diego sudah berusia 42 tahun, sangat terkenal di kancah internasional, dan sudah memiliki riwayat hubungan asmara yang rumit serta anak-anak dari wanita berbeda. Orang tua Frida dengan cepat menyebut persatuan ini sebagai penyatuan antara gajah dan burung merpati, melihat betapa jauhnya perbedaan fisik dan ketenaran di antara keduanya. Tiga minggu setelah pernikahan, Diego justru dikeluarkan dari Partai Komunis karena dianggap terlalu dekat dengan pemerintah, dan sebagai bentuk protes, Frida pun ikut mengundurkan diri. Peristiwa ini menjadi tanda awal perjalanan politik mereka selama dua puluh tahun ke depan.

   Kehidupan pernikahan mereka berjalan sangat intens, penuh warna, dan tidak selalu mulus, terutama pada akhir tahun 1930 saat mereka berangkat ke Amerika Serikat dan menetap di sana selama tiga tahun. Diego semakin bersinar, menggelar pameran tunggal di Museum Seni Modern New York, dan mendapat pesanan besar di San Francisco serta Detroit. Namun di tengah gemerlapnya nama suaminya, Frida merasa sangat tersiksa. Ia adalah seorang penganut paham Marxis yang teguh, dan melihat ketimpangan sosial yang sangat mencolok di Amerika membuatnya marah dan muak. Ia melihat antrean rakyat miskin mencari makan di sudut jalan, sementara para pemilik modal kaya raya membayar mahal untuk lukisan suaminya. Perasaannya itu dituangkan dalam karya berjudul Gaunku Tergantung di Sana pada tahun 1933, di mana gaun adat Meksikonya tergantung sepi di tengah kota New York yang berpolusi dan penuh kemewahan berlebih, seolah tubuhnya ada di sana namun jiwanya tetap berada jauh di tanah kelahirannya.

   Ujian terbesar dan duka terdalam datang pada Juli 1932 saat berada di Detroit, Frida mengalami keguguran di usia kandungan empat bulan. Ia sangat hancur, dan peristiwa ini diabadikannya dalam lukisan Rumah Sakit Henry Ford. Menggunakan gaya lukisan doa rakyat kecil di atas pelat timah, ia melukis dirinya terbaring berdarah di tempat tidur, dengan enam benda melayang yang terhubung lewat pita merah, melambangkan kehilangan besar itu. Berbeda dengan Diego yang melukis pabrik dan mesin dengan kekaguman seorang yang belum pernah bekerja di sana, Frida melukis penderitaan yang ia rasakan langsung di tubuhnya sendiri. Di masa sulit ini, ia didampingi oleh seniman muda bernama Lucienne Bloch yang juga menjadi asisten Diego, yang memberikan dukungan emosional saat ibunya meninggal dunia tak lama kemudian.

   Puncak perselisihan terjadi pada tahun 1933, saat Diego ditugaskan oleh Nelson Rockefeller untuk melukis mural berjudul Manusia di Persimpangan Jalan di gedung Radio City. Ketika Diego memasukkan sosok pemimpin Lenin ke dalam lukisan itu, Rockefeller meminta gambar itu dihapus, namun Diego menolak mengubah visi seninya. Akhirnya mural itu dihancurkan seluruhnya pada tahun 1934, dan hanya tersisa rekaman foto diam-diam yang diambil oleh Bloch sebelum kehancuran itu. Diego kemudian membuat ulang karya serupa di Istana Seni Rupa Meksiko, namun kesempurnaan awal itu tidak terulang kembali.

   Sekembalinya ke Meksiko pada akhir 1933, mereka tinggal di rumah kembar modern di San Ángel, dua bangunan terpisah yang dihubungkan jembatan, gambaran nyata kemandirian mereka dalam berumah tangga. Namun dinding bangunan tak mampu menahan pengkhianatan yang datang. Pada tahun 1934, Frida mengetahui bahwa Diego menjalin hubungan asmara dengan Cristina, adik kandung Frida sendiri. Luka batin ini mengubah dirinya drastis, ia memotong rambut pendek-pendek dan sempat pindah rumah. Perasaannya itu dituangkan dalam lukisan Beberapa Tusukan Kecil, terinspirasi berita pembunuhan di koran, namun maknanya sangat pribadi. Darah digambar memercik hingga ke bingkai lukisan, seolah rasa sakitnya tak bisa lagi dibatasi kanvas saja.

   Namun di balik segala kerumitan itu, kehidupan mereka sesungguhnya dibentuk oleh kebersamaan yang hangat, persahabatan yang mendalam, serta momen-momen berharga yang selalu mereka lalui bersama. Pertemuan, percakapan panjang, dan diskusi tak berkesudahan adalah bagian tak terpisahkan dari dunia pribadi maupun dunia penciptaan karya seni mereka. Pada tahun 1936, mereka kembali bersatu demi tujuan politik, memberikan perlindungan dan tempat tinggal di Rumah Biru bagi tokoh revolusi Leon Trotsky yang mencari keselamatan. Rumah mereka menjadi pusat pertemuan kaum intelektual kiri internasional. Ketika pelukis surealis André Breton berkunjung pada tahun 1938, ia sangat kagum pada karya Frida dan menganggapnya bagian dari gerakan surealisme, namun Frida menolak cap itu dengan tegas. Baginya ia hanya melukis kenyataan hidupnya sendiri, bukan mimpi-mimpi. Saat berkunjung ke Paris tahun 1939, ia menganggap para seniman di sana sok tahu dan aneh, meski di saat itu museum Louvre membeli karyanya berjudul Potret Diri, menjadi karya pertama seniman Meksiko abad ke-20 yang masuk koleksi museum besar itu.

   Di tahun yang sama, di tengah perselisihan politik antara Diego dan Trotsky serta isu perselingkuhan yang kembali mewarnai, mereka resmi bercerai. Di masa perpisahan ini Frida membuat karya agungnya Dua Frida, dua sosok dirinya berpegangan tangan. Satu mengenakan gaun putih, jantungnya terbuka dan berdarah-darah, satu lagi mengenakan baju adat, jantungnya utuh namun terhubung pembuluh darah ke lukisan kecil Diego saat kanak-kanak. Lukisan ini adalah peta perasaannya yang terbelah, terluka, namun tak terputus ikatannya dari Rivera. Kehidupan semakin kacau saat Trotsky dibunuh tahun 1940, dan Frida sempat ditahan polisi selama dua hari karena dianggap mengenal pelakunya. Namun takdir berkata lain, pada 8 Desember 1940, mereka menikah kembali di San Francisco, kali ini dengan syarat ketat dari Frida yaitu kemandirian finansial dan hubungan tanpa ikatan fisik. Diego kemudian menulis bahwa pernikahan ulang itu adalah hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya.

   Memasuki tahun 1940-an, keduanya semakin mematangkan gaya seni masing-masing. Diego semakin banyak melukis bunga dan tanaman, seperti Penjual Bunga Seruni atau Bunga Matahari, menggabungkan simbol kuno dengan visi pembaruannya. Sementara Frida semakin fokus pada potret diri, gaya yang kelak menjadi identitas utamanya. Dalam karya Potret Diri sebagai Wanita Tehuana ia mengenakan hiasan kepala rumit, namun gambar kecil wajah Diego diletakkan tepat di keningnya, seolah pria itu selalu hidup di dalam pikirannya, mau atau tidak. Di lukisan-lukisan akhir hidupnya, banyak muncul hewan peliharaan kesayangannya seperti monyet, burung, dan anjing khas Meksiko yang tak berambut, yang menurut kepercayaan suku Aztec bertugas menuntun jiwa orang mati ke alam bawah tanah, simbol yang sangat dipahami Frida seiring kesehatannya terus menurun.

   Kondisi tubuh Frida makin hari makin lemah. Pada tahun 1948 ia kembali bergabung ke Partai Komunis atas ajakan Diego, meski Diego sendiri baru diterima kembali menjadi anggota pada 1954. Puncak penderitaan fisik terjadi pada tahun 1953, di mana kaki bagian bawahnya harus diamputasi akibat infeksi diabetes kering, membuatnya sempat putus asa dan berpikir mengakhiri hidup. Namun semangatnya tak padam, di bulan April tahun yang sama pameran tunggal pertamanya di Meksiko dibuka. Meski dokter melarangnya keluar, ia datang dengan ambulans, duduk di atas tempat tidur besar yang dipasang di galeri, minum minuman keras dan bernyanyi dengan tamu. Saat ditanya majalah Time tentang karya seninya, ia menjawab singkat dan tegas: “Aku melukis kenyataanku sendiri.”

   Tahun terakhir hidupnya diisi dengan karya yang bernada politik kuat, seperti Marxisme Akan Memberi Kesehatan bagi Orang Sakit, yang belum selesai. Di situ ia digendong oleh tangan raksasa, sementara Karl Marx menginjak penindas, dan buku ajaran komunisme menggantikan tongkat penyangganya. Pada Juni 1954, meski harus duduk di kursi roda, ia tetap ikut berbaris demonstrasi menentang kudeta militer di Guatemala yang direkayasa asing. Tulisan terakhir dalam buku hariannya tertanggal 2 Juli 1954 berbunyi: “Kuharap kepergianku menyenangkan dan kuharap aku takkan pernah kembali.” Sebelas hari kemudian, tepatnya tanggal 13 Juli 1954, Frida Kahlo menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Biru, usianya baru 47 tahun.

   Kepergian Frida membuat Diego sangat hancur. Dalam otobiografinya ia menuliskan bahwa hari kematian Frida adalah “hari paling tragis dalam hidupku”. Ia kemudian mewariskan Rumah Biru itu kepada rakyat Meksiko sebagai sebuah museum yang hingga kini masih dikunjungi banyak orang. Kesehatan Diego pun mulai menurun, terdiagnosis kanker pada Juni 1955, sempat berobat ke Moskwa, namun akhirnya ia menyusul kekasihnya pada 24 November 1957 karena gagal jantung, di usia 70 tahun.

 

   Apa yang membuat kisah ini luar biasa adalah bagaimana mereka mampu menjaga kemandirian seni dalam hubungan yang timpang. Visi kreatif mereka memang berbeda jauh  Diego mempunyai wawasan yang luas tentang sejarah, dan kehidupan rakyat, sedangkan Frida memiliki kedalaman pribadi yang tercermin dalam setiap karyanya. Pandangan politiklah yang menyatukan mereka lebih kuat daripada estetika atau cara mereka memperlakukan satu sama lain. Misi Diego adalah menunjukkan gambaran masa depan rakyat lewat narasi sejarah besar, dari posisi orang yang kaya dan terkenal. Sedangkan ambisi Frida sederhana namun tajam: melukis kenyataannya sendiri, membuat terlihat segala kerumitan jenis kelamin, ras, penderitaan fisik, dan ketabahan hati. Seni yang lahir dari pinggiran, bukan dari mitologi revolusi.

   Dan kini, sejarah membalikkan kenyataan. Bayangan idealis revolusi buatan Diego perlahan memudar seiring masanya, sementara Frida yang dulu berjuang keras di dunia seni yang memandang rendah wanita, yang banyak menderita dan terluka dalam diam, kini justru menjadi seniman yang lebih dirayakan dunia. Karyanya terus bergema karena ia tidak membuat mitos, melainkan memberikan kesaksian nyata. Ia melukis apa artinya bertahan hidup dalam tubuh yang terus gagal berfungsi dan dalam pernikahan yang sering melukai. Kisah mereka bukanlah kisah tentang bagaimana kekasih bisa hidup bahagia selamanya, melainkan kisah tentang bagaimana seniman bisa bertahan hidup. Kemandirian dalam berkarya tidak selalu berarti kesetaraan dalam kehidupan nyata. Frida kini bukan lagi sekadar istri Diego, dan Diego kini lebih banyak dikenal sebagai suami Frida. Pembalikan nama itu adalah bentuk keadilan sejarah tersendiri.

   Di antara kanvas dan cinta, di tengah segala perbedaan, pertengkaran, dan rasa sakit, Frida Kahlo dan Diego Rivera telah menciptakan kisah abadi yang membuktikan bahwa cinta yang sejati dan rasa kagum yang tulus mampu mengubah penderitaan menjadi keindahan. Warisan mereka bukan hanya berupa lukisan-lukisan agung yang menghiasi museum dunia, tetapi juga sebuah kisah nyata tentang dua jiwa besar yang menyatu, bertolak belakang, namun tak terpisahkan, selamanya terukir dalam sejarah seni dunia.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id