Breaking News

Dari Lembaran Menguning Menepis Suara Sumbang Orang Kemarin Sore Oleh: Hamid Nabhan

   ​Ada keasyikan tersendiri ketika kita membuka-buka tumpukan kertas tua. Aroma khas kertas yang menua dan tinta cetak masa lalu seolah membawa kita melintasi lorong waktu. Namun, terkadang di antara debu arsip lama itu, kita justru menemukan sepotong kebenaran yang sangat tajam, sebuah temuan yang sanggup membungkam berbagai prasangka buruk yang belakangan ini kerap ditiupkan oleh orang-orang "kemarin sore" yang buta sejarah.

   ​Sebuah kliping surat kabar lawas, bertajuk "Pemoeda Arab siap berdjoang" menjadi bukti otentik yang saya maksud. Di tengah munculnya suara-suara sumbang dari sebagian kecil kelompok penuh kebencian yang menuduh bahwa peranakan Arab di masa lalu berpihak pada Belanda, potongan sejarah dari koran Oktober 1945, yang saya temukan ini hadir bagai sebuah tamparan keras yang meluruskan fakta.

   ​Surat kabar tersebut merekam sebuah peristiwa penting di kawasan Tanah Abang, Jakarta, tepat di masa-masa krusial setelah Proklamasi Kemerdekaan. Di sana tertulis dengan sangat jelas:

​"Sikap dan pendirian pemoeda Arab Djakarta kini mendjadi lebih njata oentoek menegakkan Negara Repoeblik Indonesia."

   ​Dokumen ini mengisahkan bagaimana sebuah rapat yang dipimpin oleh Toean Abdoellah Salim melahirkan Barisan Pemoeda keturunan Arab. Mereka tidak sedang berdiskusi untuk mencari aman atau bersekutu dengan penjajah. Sebaliknya, dengan tegas koran tersebut mencatat bahwa mereka "dengan djiwa raga siap sedia berdjoang bersama-sama pemoeda Indonesia oentoek menghandjoermoesnakan tiap-tiap rintangan jang menghalangi tegaknja Negara Repoeblik Indonesia."

   ​Kata "menghancurlumatkan" bukanlah pilihan kata yang main-main. Itu adalah komitmen darah dan nyawa dari para pemuda peranakan yang menolak tunduk pada kembalinya kolonialisme.

​Melalui lembaran usang inilah, sejarah berbicara sendiri tanpa perlu direkayasa.

  Ketika Republik ini baru saja berdiri dan fondasinya masih digoyang dari berbagai penjuru, komunitas peranakan Arab tidak memilih menjadi penonton, apalagi menjadi kaki tangan musuh. Mereka melebur, mengangkat senjata, dan bertaruh nyawa di barisan yang sama dengan pemuda Indonesia lainnya.

​Maka, sangatlah menggelikan jika hari ini ada kelompok yang mencoba menggugat kesetiaan tersebut dengan narasi-narasi kebencian yang dangkal. Kliping dari koran yang saya temukan ini adalah bukti nyata bahwa nasionalisme tidak diukur dari keturunan semata, melainkan dari jiwa raga yang dipertaruhkan demi tegaknya sang saka merah putih.

   Sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas, dan lembaran kertas yang menguning ini menolak untuk membiarkan fakta itu dilupakan.


Surabaya, 17 Juni 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id