Dalam tahun-tahun terakhir ini banyak narasi kebencian yang dibangun untuk kepentingan politik tertentu. Seperti salah satu contoh dikatakan bahwa orang-orang peranakan Arab dibawa ke tanah air oleh penjajah Belanda dari Yaman, padahal fakta dan data menunjukkan bahwa peranakan Arab telah tiba di tanah air jauh sebelum kedatangan penjajah dari Eropa.
Ketika saya menemukan gambar dari sebuah foto makam pejuang revolusi yang kebetulan makam seorang keturunan Arab yang gugur dalam pertempuran di Surabaya.* Dalam nama nisannya tertulis dengan jelas 'Abubakar Alatas-- Angkatan Mudah-- Gugur 16-10-1945'. Dari satu contoh kecil ini, sudah cukup untuk menggugurkan narasi-narasi kebencian yang dibangun untuk menjatuhkan lawan politik, dengan mengatakan bahwa Peranakan Arab sebagai alat kolonial Belanda.
Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa peranakan Arab berseberangan dengan penjajah tentu saja tidak bisa dibaca hanya dari batu nisan saja. Kita bisa melihat dan membuktikan dari buku-buku lama dan catatan yang dibuat sendiri oleh orang-orang Eropa dan juga orang selain Eropa, seperti dari buku lama Hadir-al-Alam al-Islami tahun 1924 yang mengatakan "Masalah Hadramaut ini menyusahkan pemerintah Belanda lebih dari masalah lain di Jawa..." Hal ini bisa terjadi karena orang-orang yang berasal dari Hadramaut (Yaman) dikenal sangat tegas terhadap aqidahnya. Aktif untuk berdakwa, serta sering mengajak rakyat untuk sadar tentang kesamaan dan hal-hal penting lainnya.
Snouck Hurgronje, sebagai penasehat utama pemerintah kolonial tentang Islam, mengakui dan pernah menulis "kami menolak mereka (keturunan Arab) bukan karena tidak adil, tapi karena mereka terlalu sulit dikendalikan." Dari tulisan Snouck Hurgronje, kita bisa menarik kesimpulan yaitu kalau mereka benar-benar didatangkan oleh Belanda tentunya akan mudah untuk dikontrol, bukan malah sebaliknya yang menjadi masalah bagi pihak yang mendatangkan.
Fakta ini diperkuat oleh pendapat Dr. Hazeu penasihat pemerintah urusan Islam, dalam Advis rahasianya pada tahun 1908 halaman 3 antara lain mengatakan bahaya orang-orang peranakan Arab untuk rakyat pribumi pada umumnya tidak bersangkutan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi tapi dengan sikap relijius/politik mereka dan intoleransi mereka terhadap orang-orang (penjajah) yang tidak memeluk agama Islam. Dan pada hal 5 ia menulis ".. Selain daripada itu-- dan ini adalah sangat penting dipandang dari kepentingan politik--adanya kemungkinan agitasi Pan-Islam di bawah pimpinan unsur Arab masih merupakan bahaya bagi perkembangan negeri dan rakyatnya tanpa gangguan." Dan inilah sebabnya maka pada tahun 1908 (Advis 3 Jakarta, Juni 1908, no 82--HA) saya bersama Prof. Snouck Hurgronje mengusulkan adanya peraturan-peraturan, atau kalau perlu larangan imigrasi orang-orang Arab di jajahan kita.
Dalam artikel mengenai orang-orang Arab di Hindia-Belanda, yang berjudul De Arabieren in Onze Oost tahun 1903, hal 954 ditulis "Kalau pada hampir semua pelanggaran terhadap undang-undang dan adat sopan santun adalah orang Cina yang terlibat, maka perlawanan terhadap kekuasaan hampir semuanya dikobarkan oleh komplotan pengacau-pengacau berkebangsaan Arab. Di Aceh orang-orang peranakan Arab memegang peranan penting, di Lombok pada waktu kerusuhan yang membawa bencana besar, diduga orang-orang Arab memegang peranan penting pula."
Dari catatan-catatan tersebut sangatlah jelas bahwa Belanda mempunyai alasan untuk memisahkan keturunan Arab dengan penduduk mayoritas. Dan dari foto yang saya temukan juga catatan-catatan yang dibuat langsung oleh orang-orang Belanda, maka gugurlah narasi-narasi yang diciptakan seakan-akan kedatangan orang-orang Arab di Nusantara adalah dikehendaki oleh Belanda, malah justru sebaliknya para penjajah sangat membencinya.
*Tidak hanya Salim Alatas saja menariknya, banyak pejuang kemerdekaan dari keturunan Arab yang berkontribusi untuk negara dan kebanyakan dari mereka tidak mau jasa-jasa disebut setelah perjuangan selesai, karena bagi mereka berjuang untuk negara adalah sebuah ibadah yang tulus.
**Mr. Hamid Algadri, Mengarungi Indonesia Memoar Perintis Kemerdekaan hal 210-211, penerbit Lentera Jakarta.

Social Header