_"What's in a name? that which we call a rose by any other name would smell as sweet."_
---- William Shakespeare, Romeo and Juliet
Kutipan klasik dari Shakespeare sungguh tepat untuk menggambarkan makna nama yang sering disalahartikan. Beredar sebuah tulisan dan konten di Tik-Tok yang mengatakan:
-Orang Jepang menamai anaknya nama Jepang.
-Orang India menamai anaknya nama India.
-Orang Cina menamai anaknya nama Cina.
-Bahkan orang Amerika menamai anaknya nama Amerika.
-Sementara orang Indonesia menamai anaknya dengan nama-nama Arab.
Negara lain bangga nama lokal, orang Indonesia pilih Arab.
Pernyataan semacam ini terkesan penuh dengan narasi kebencian, tanpa dasar dan menyalahartikan makna nama yang menjadi bagian dari identitas rakyat Indonesia. Pertama-tama, perlu ditegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara nama "Arab" dengan agama Islam, apalagi itu menjadikan tuduhan yang beraroma kebencian yang sama sekali tak berdasar. Nama-nama yang sering dianggap sebagai "nama Arab" pada kenyataannya banyak berasal dari bahasa Arab, tetapi digunakan secara luas oleh umat Islam di seluruh dunia---bahkan banyak nama tersebut juga telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi di berbagai negara, bukan hanya milik satu kelompok saja. Bahkan tahukah Anda bahwa nama yang paling banyak digunakan di dunia ini adalah 'Muhammad' yang merupakan nama dengan akar dalam ajaran Islam--- hal ini menunjukkan betapa luasnya penyebaran dan penerimaan nama tersebut di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Selain itu, bangsa Indonesia memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat luas. Kita bukan hanya mengenal nama-nama yang berasal dari bahasa Arab, melainkan juga memiliki beragam nama dari akar budaya lokal, India, Eropa, dan berbagai belahan dunia lainnya: seperti nama dari budaya India antara lain Laksmi, Saraswati, Krisna, Rama, Sinta, Dewi dan lainnya--- yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia bahkan sebelum masuknya agama Islam dan Kristen. Nama-nama dari budaya lokal: seperti Guntur, Bayu, Kadek, Made--- yang erat kaitannya dengan bahasa daerah dan tradisi lokal di seluruh nusantara. Nama-nama dari budaya Barat: seperti John, Anna, Olivia, yang masuk bersamaan dengan perkembangan zaman, serta menjadi hak setiap individu untuk memilih nama yang mereka inginkan. Bahkan tidak sedikit nama yang dianggap 'Barat' sebenarnya juga berasal dari bahasa Arab, seperti Jasmine, Samantha, Amal, Fatima, dan Safira. Nama-nama ini banyak dipakai di negara-negara Barat khususnya di Spanyol dan negara-negara lain.
Di Indonesia, pemilihan nama bukan hanya tentang asal usul bahasa, tetapi juga terkait dengan harapan orang tua, nilai-nilai yang ingin disampaikan, atau penghormatan terhadap keyakinan dan budaya yang dianut. Tidak ada alasan untuk mempersempit pilihan nama berdasarkan asal-usulnya. Karena itu adalah bagian dari keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa kita.
Identitas sebagai orang Indonesia tidak ditentukan oleh nama yang kita miliki, melainkan oleh sikap dan cinta kita terhadap tanah air, kita sebagai bangsa besar harus bangga dengan keberagaman yang ada--- tidak perlu memaksakan satu jenis nama saja, karena setiap nama yang kita gunakan membawa makna positif dan menjadi bagian dari kekayaan bangsa.
Surabaya, 25 Maret 2026

Social Header