Breaking News

Bagaimana Peran Liga Arab Membantu Kemerdekaan Indonesia Oleh: Hamid Nabhan

   Saat kemerdekaan Indonesia dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 kita masih belum mempunyai infrastruktur di luar negeri.  Untuk mempromosikan posisinya ke negara-negara lain, maka Orang-orang Indonesia yang kebetulan saat itu lagi belajar di  Timur Tengah khususnya di Mesir telah mengisi celah tersebut, hal ini memunculkan suatu diplomasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan sarjana muslim.  Diplomasi ini begitu berhasil sehingga melahirkan pengakuan de jure yang pertama bagi Indonesia yang dilakukan oleh negara-negara Arab dalam upayanya mengakui kemerdekaan Indonesia.*1

   Pengakuan dari negara-negara Arab ini sangat penting bagi Indonesia, karena kemungkinan para pemimpin membuat konflik ini menjadi masalah internasional.  Dimana hal ini dapat menghalangi klaim Belanda bahwa perang di Indonesia adalah masalah 'internal' yang kebal dari campur tangan internasional.*2

   Tokoh dari masyarakat Arab yang paling getol melakukan diplomasi dalam usahanya bagi kemerdekaan Indonesia adalah Abdurrahman Hassan Azzam yang lebih dikenal dengan Azzam Pasha.  Ia seorang diplomat Mesir yang menjabat sebagai sekertaris jendral Liga Arab pertama, terhitung sejak 22 Maret 1945 sampai September 1952.

   Ketika orang-orang Indonesia yang berada di Kairo, diantaranya adalah pelajar berupaya untuk memobilisasi suara Arab bagi pendukung kemerdekaan Indonesia, terdapat beberapa nama diantaranya yang tercatat adalah 3 orang saudara yang berasal dari Surabaya yaitu Abu Bakar Ahmad Baktsier, Ali Ahmad Baktsier, dan Ahmad Hasan Baktsier.  Ketiganya giat mempropagandakan kemerdekaan Indonesia.  Ali Ahmad Baktsier sebagai sastrawan terus menulis tentang perlawanan Bangsa Indonesia melawan penjajahan di media-media Mesir, sehingga rakyat Mesir begitu akrab dengan perjuangan rakyat Indonesia. 

   Salah satu karya heroiknya adalah "Audatul Firdaus Au Istiglalu Indonesia" (Kembalinya surga atau kemerdekaan Indonesia).  Tulisan-tulisan Ali Ahmad Baktsier menyebar ke seluruh negeri Arab, Ali Ahmad Baktsier juga mengenalkan lagu Indonesia Raya kepada masyarakat Timur Tengah dan mengubah lagu Indonesia Raya ke dalam bahasa Arab, sehingga lagu Indonesia Raya menjadi populer di negeri-negeri Arab. 

   Pada Oktober 1945 orang-orang yang bergabung dalam Liga Arab membentuk sebuah organisasi yang dinamai Komite Pembela Indonesia (Lajnatud Difa'i 'An Indonesia)*3 anggotanya pun meliputi para tokoh dari masyarakat Arab, seperti Azzam Pasha, sebagai sekertaris jendral Liga Arab dan juga ada Habib Bourguiba yang kelak menjadi Presiden Tunisia,  serta Dr. Hafiz Afifi Pasha mantan duta besar Mesir di London yang membantu Lobi atas nama Indonesia di sidang PBB di Inggris, pada tahun 1946.  Semua ia lakukan karena terinspirasi fakta bahwa orang-orang Arab dan Indonesia "memiliki Agama, tradisi, dan tujuan yang sama.*4

   Ketika delegasi resmi pertama lolos ke Timur Tengah pada bulan April 1946, komite lokal mendorong mereka untuk menggunakan retorika Islam dan menekankan lebih berat pada tema ukhuwah Islamia.  Hal ini dikarenakan orang-orang Indonesia di Kairo percaya bahwa inilah strategi paling efektif untuk menarik dunia Arab.*5  Langkah-langkah ini terbukti efektif, di Mesir masyarakat berpartisipasi dalam memboikot kapal-kapal Belanda yang melewati Terusan Suez, dengan mencegah kapal-kapal mereka yang bertujuan mengangkut muatan-muatan baru. 

   Pada akhir September 1946 surat kabar 'Ichwanul Muslimin' menayangkan editorial mendukung pengakuan Republik Indonesia.  Tak ketinggalan partai-partai politik di Mesir, dari partai Nasionalis sampai partai Sosialis  bersama-sama mendukung kemerdekaan Indonesia.  Inisiatif untuk mendukung kemerdekaan Indonesia ditangani langsung oleh para diplomat Arab, diplomat Arab lah yang menggerakkan isu tersebut, karena pada saat itu Indonesia belum bisa mengirimkan duta besarnya ke luar negeri, maka diplomat Arab lah yang berperan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia terutama para diplomat dari Liga Arab. 

   Pada tanggal 31 April 1946 Liga Arab mengeluarkan resolusi pertamanya mengenai perjuangan Indonesia yang berbunyi "Dewan mengambil kesempatan selama perjalanan delegasi Indonesia menuju Belanda melalui Kairo, untuk menyatakan simpatinya kepada Indonesia dan keinginannya agar Indonesia memperoleh kemerdekaan penuh.*6  pada bulan November 1946 Liga Arab menyetujui dengan suara bulat resolusi tujuh negara: "Dewan merekomendasikan kepada anggota Liga Arab agar mereka mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat", ini menjadikan Liga Arab sebagai organisasi internasional pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. 

   Pada tahun 1947 menjadi titik balik krusial bagi diplomasi Indonesia yaitu pertama ketika delegasi diplomatik asing pertama yang mengunjungi Jogja sebagai ibu kota revolusi Indonesia.  

Yang kedua: Partisipasi satu delegasi Indonesia di sebuah konfrensi diplomatik internasional.  Dan yang ke tiga: perjanjian-perjanjian asing pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, semua ini tak luput dari hasil dukungan Liga Arab bagi kemerdekaan Indonesia.

   Mesir sebagai negara anggota Liga Arab terdepan menjadi yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 22 Maret 1946, bahkan meskipun mengetahui bahwa Perjanjian Linggarjati hanya mengakui kedaulatan RI di Jawa dan Sumatra saja. Dukungan ini kemudian diperkuat dengan hasil resolusi Liga Arab November 1946 yang menyatakan dukungan penuh bagi perjuangan kita, dan segera diikuti oleh negara anggota Liga Arab lainnya seperti Arab Saudi, Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Bahkan negara-negara di luar Liga Arab seperti Afghanistan juga turut mengakui kemerdekaan kita, mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Mesir dan negara-negara Arab.

   Menanggapi dukungan tersebut, pemerintah RI mengirim delegasi yang dipimpin Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri) beserta AR Baswedan (Menteri Muda Penerangan), H.M. Rasjidi, dan Nazir Sutan Pamuncak. Setelah menunggu sekitar tiga bulan di Kairo, mereka akhirnya diterima oleh Raja Mesir Farouk dan menandatangani Perjanjian Persahabatan pada 10 Juni 1947 – menjadi pengakuan de jure pertama yang diperoleh Indonesia. Saat akan pulang, AR Baswedan ditugaskan untuk membawa dokumen penting tersebut ke tanah air dengan menghadapi berbagai rintangan. Dalam perjalanan yang penuh tantangan, dokumen pengakuan itu disembunyikan di dalam sepatunya agar tidak terdeteksi oleh penjagaan militer Belanda yang sangat ketat.

 

   Setelah berhasil melewati pemeriksaan di Bandara Kemayoran dan menghindari berbagai kesulitan, AR Baswedan akhirnya menyerahkan dokumen tersebut kepada Presiden Sukarno di Yogyakarta pada 19 Juli 1947. Pengakuan ini bukan hanya menjadi bukti legitimasi internasional bagi RI, melainkan juga membantahkan klaim Belanda yang selama ini menyatakan masalah Indonesia sebagai urusan dalam negeri. Seiring dengan itu, rakyat dan pemerintah negara-negara Arab juga menunjukkan dukungan nyata melalui pemboikotan barang Belanda, penutupan pelabuhan serta bandara, hingga mengirim misi kesehatan untuk membantu korban agresi Belanda.


Daftar Pustaka:

*1.  Michael Leifer, "The Islamic Factor in Indonesia's Foreign Policy. a case of functional ambiguity " (Cambridge University press, 1983) hal 144-145

*2.  Kevin W. Fogg "Spirit Islam Pada Masa Revolusi Indonesia" Noura Books PT Mizan Publika hal 349

*3.  Mona Agama, Islamic Education: Perception And Exchanges: Indonesia Student in Cairo, Cahierd' Archipel no: 23 1994 hal 82.

*4.  Hasan, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri hal 62.

*5.  Hasan, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri hal 137.

*6.  Resolusi 45, sesi 3, 8 April 1946. Egyptian Society of Internasional Law, Egypt and the United Nations ( New York: Manhattan Publishing Company for the Carnegie Endowment for Internasional Peace, 1957) 138.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id