Breaking News

Tel Aviv: Dari "Bukit Semi" yang Diimpikan hingga Realitas yang Dihadapi Oleh: Hamid Nabhan

   Saat saya melewati beberapa jalan di Tel Aviv beberapa tahun lalu, suasana yang saya rasakan sangat berbeda dengan apa yang saya lihat dari berita sekarang. Kota yang dulu saya kenal sebagai pusat kehidupan malam yang gemerlap, arsitektur modern, dan semangat pembangunan yang tinggi kini harus menghadapi kenyataan perang. Ceritanya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kota ini muncul dari sebuah visi yang mendalam tentang masa depan.

 

   Nama "Tel Aviv" pertama kali digunakan sebagai judul terjemahan bahasa Ibrani dari buku Theodor Herzl Altneuland (Tanah Lama Yang Baru), yang diterbitkan tahun 1902. Meskipun Herzl bukanlah orang yang secara langsung membangun kota ini, gagasannya tentang sebuah komunitas Yahudi mandiri menjadi inspirasi bagi kaum Zionis yang ingin membuat pemukiman baru di dekat kota tua Yafo. Nama ini sendiri berasal dari Kitab Yehezkiel dalam Alkitab, di mana "Tel" berarti bukit atau gundukan reruntuhan arkeologis, dan "Aviv" berarti musim semi – sehingga secara keseluruhan berarti "Bukit Semi" atau "Gundukan Musim Semi". Pemilihan nama ini tidak sekadar kebetulan, melainkan sebagai simbol harapan akan masa depan yang baru, penuh kesuburan, dan penuh harapan bagi komunitas Yahudi di tanah Palestina. Pada awal abad ke-20, kawasan pantai sebelah utara Yafo mulai dibangun sebagai pemukiman Yahudi modern, jauh dari suasana kota tua yang padat dan diperintah oleh Kekaisaran Ottoman. Pada tahun 1909, pemukiman ini resmi diberi nama Tel Aviv.

 

   Salah satu pameo yang sering saya dengar dari orang Israel adalah: "If you want to play, you go to Tel Aviv. If you want to pray, you go to Jerusalem (Jika Anda ingin bermain (bersenang-senang pergilah ke Tel Aviv. Jika anda ingin berdoa maka pergila ke Jerusalem)." Ini benar sekali menggambarkan perbedaan karakter kedua kota tersebut. Saat saya berada di Tel Aviv, saya merasakan energi yang berbeda, jalan-jalan ramai dengan kafe, galeri seni, pusat perbelanjaan, dan garis pantai yang penuh dengan orang-orang yang bersantai, sebagian bermain musik dan yang lainya bermain di pantai. Kota ini dikenal sebagai jantung budaya, ekonomi, dan kehidupan sosial Israel, dengan gaya hidup yang lebih terbuka dan modern dibandingkan Yerusalem yang lebih religius dan bersejarah.

 

   Tel Aviv dulunya dikenal sebagai kota yang gemerlap karena pembangunannya yang terencana dengan baik, gedung-gedung bertingkat yang mencolok di langit kota, dan sistem listrik yang canggih untuk zamannya. Seiring waktu, kota ini tumbuh menjadi salah satu kota terbesar dan paling penting di Israel, dengan pusat bisnis yang ramai dan komunitas internasional yang hidup di sana. Namun, kondisi kini sangat berbeda – perang yang terjadi telah mengubah suasana kota secara mendalam. Banyak tempat yang dulu ramai dengan pengunjung kini harus beroperasi dengan berbagai pembatasan, warga lokal beradaptasi dengan sirine peringatan yang sering terdengar, dan suasana yang semula penuh kegembiraan kini terkadang penuh dengan kekhawatiran dan kedamaian yang rapuh. Perubahan ini membuat kita melihat betapa kompleksnya realitas yang dihadapi kota ini , dari impian tentang masa depan yang cerah hingga kenyataan berat yang harus dihadapi saat ini.


   Ada pepatah Arab yang mengatakan, "Yaum asal yaum basal" – artinya, ada hari-hari yang penuh dengan manisnya madu, dan juga hari-hari yang penuh dengan kepahitan bawang. Ungkapan ini rupanya sangat pas menggambarkan perjalanan kota Tel Aviv, dari impian tentang masa depan yang cerah hingga realitas berat yang harus dihadapi saat ini.


Surabaya, 5 Maret 2025

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id