NAGEKEO – Puluhan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penjamah Makanan guna meningkatkan kapasitas dan pemahaman dalam pengolahan serta penyajian makanan yang higienis dan aman dikonsumsi.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara dapur SPPG Wolowae dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo yang hadir sebagai pemateri utama dalam pelatihan tersebut.
Kepala SPPG Wolowae, Maria Oktaviana Sena, menjelaskan bahwa Bimtek ini bertujuan membekali para relawan, supplier bahan baku, hingga mitra dapur dengan pengetahuan dasar terkait sanitasi, kebersihan, dan standar penanganan makanan.
“Dalam kegiatan ini para relawan dibekali enam materi dari Dinas Kesehatan, di antaranya kebijakan keamanan pangan siap saji, cemaran pangan dan penyakit bawaan makanan, pemeliharaan lingkungan kerja, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, kebersihan serta sanitasi peralatan, higienitas perorangan, hingga tahapan proses produksi makanan siap saji,” jelas Oktaviana.
Sebanyak 51 relawan dari tujuh divisi kerja mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari divisi persiapan, pengolahan, pemorsian, pencucian, distribusi, keamanan hingga kebersihan. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh 10 supplier bahan baku makanan, satu mitra dapur SPPG, serta empat pengurus Yayasan Alphard Graha Titian Harapan sebagai lembaga yang menaungi SPPG Wolowae.
Menurut Oktaviana, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman mereka sebelum dan setelah pelatihan.
“Metode ini digunakan untuk melihat sejauh mana peningkatan pengetahuan para relawan terkait standar penjamah makanan, mulai dari kebersihan diri, pengolahan bahan makanan hingga penyajian yang higienis dan aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.
SPPG Wolowae sendiri telah beroperasi sejak Agustus 2025 dan saat ini melayani 2.264 penerima manfaat yang tersebar di 23 sekolah dan 15 posyandu.
Penerima manfaat tersebut terdiri dari pelajar mulai tingkat PAUD hingga SMA, serta kelompok rentan seperti 54 ibu hamil, 157 ibu menyusui, dan 353 balita.
Ahli Gizi SPPG Wolowae, Emilia de Vialar Dua Gete, menjelaskan bahwa setiap hari dapur SPPG membutuhkan pasokan bahan makanan dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan penerima manfaat.
“Rata-rata kebutuhan bahan makanan per hari meliputi 198 kilogram beras, 235 kilogram buah, 210 kilogram daging, 221 kilogram sayuran, 192 kilogram telur, serta 128 kilogram tahu,” jelas Emilia.
Ia menambahkan bahwa takaran gizi dalam setiap omprengan disesuaikan dengan kategori usia penerima manfaat yang dibagi menjadi dua kelompok porsi, yakni porsi besar dan porsi kecil.
Porsi besar diperuntukkan bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta siswa kelas IV hingga VI SD, siswa SMP, dan SMA. Sementara porsi kecil diberikan kepada balita, anak PAUD hingga TK, serta siswa kelas I hingga III SD.
Menurut Emilia, pelatihan ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan tugas relawan yang setiap hari bersentuhan dengan proses penanganan makanan.
“Hal-hal kecil seperti penggunaan alat pelindung diri kadang masih terabaikan oleh relawan. Dengan pelatihan ini diharapkan kesalahan-kesalahan kecil seperti itu tidak terjadi lagi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, dr. Emerentiana Wahyuningsih, berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Bimtek ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan dalam setiap kegiatan pelayanan sosial,” ujarnya.
Asisten III Setda Nagekeo, Elias Tae, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada kerja kolektif seluruh pihak, terutama para relawan di lapangan.
“Kalian para relawan memiliki posisi strategis dalam menyiapkan masa depan generasi muda agar mampu bersaing di masa depan,” ungkapnya.
Menurut Elias, keberhasilan program MBG dapat dilihat dari beberapa indikator penting, di antaranya makanan yang disediakan tidak tersisa serta tidak adanya kasus keracunan makanan.
Pantauan MetroGlobalNews, kegiatan Bimtek ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo Imanuel Ndun, Ketua DPRD Nagekeo Safar Laga Rema, Wakil Ketua DPRD Yohanes Siga, Kepala Dinas Kesehatan dr. Emerentiana Wahyuningsih, Camat Wolowae Gerry Koro, serta Kabag Ekonomi Setda Nagekeo Oston Wawo.
(James)


Social Header