Breaking News

Menelusuri Jejak The Langlois Bridge at Arles: Karya Ikonik Van Gogh Oleh: Hamid Nabhan

   Pada tahun 1888 saat tinggal di Arles, Prancis, Vincent van Gogh membuat  berbagai karya dengan tema Jembatan Langlois yang menjadi salah satu bukti paling mencolok dari periode produktifnya di Provence. Secara keseluruhan ia menghasilkan empat buah lukisan minyak yang dibuat pada kanvas, satu gambar cat air yang berhasil menangkap detail-detail jembatan seperti bagian besi, engsel, dan katrol dengan presisi, serta empat buah gambar tangan yang dibuat menggunakan pulpen buluh, pena dan tinta, hingga krayon. Gambar tangan tersebut seringkali digunakan sebagai tahap awal atau studi sebelum membuat lukisan; bahkan Van Gogh pernah menyertakan sketsa dan skema warna khusus untuk jembatan ini dalam surat yang dikirimkan kepada teman sekaligus seniman Émile Bernard. Selain karya-karya tersebut, pernah ada karya kelima yang hampir seluruhnya dibuang karena ia tidak puas dengan hasilnya, hanya tersisa fragmen kecil yang menggambarkan pasangan kekasih yang sedang berjalan dengan santai di tepi kanal. Setiap karya memiliki perbedaan tersendiri mulai dari komposisi yang digunakan, palet warna yang dipilih, hingga elemen yang muncul sebagai fokus utama – mulai dari sekelompok perempuan pencuci pakaian yang sibuk bekerja di tepi air, gerobak kuning yang melintas di atas jembatan, wanita dengan payung yang sedang menyebrang, atau hanya fokus murni pada keindahan bentuk jembatan dan lingkungannya saja.

 


   Dua faktor utama menjadi kekuatan pendorong Van Gogh dalam menciptakan seri karya yang mengangkat tema jembatan ini. Pertama adalah rasa nostalgia yang mendalam terhadap tanah air Belanda. Jembatan layar kayu yang memiliki gaya khas Belanda di pinggiran kota Arles secara tak terduga mengingatkannya pada masa muda yang dihabiskan di tanah kelahirannya. Bahkan Van Gogh sempat menyebut jembatan ini dengan nama "Pont de l'Anglais" atau Jembatan Orang Inggris, meskipun nama resmi yang dikenal masyarakat setempat adalah Pont de Langlois – yang ternyata juga dirancang oleh seorang insinyur berkebangsaan Belanda. Pemandangan kanal yang mengalir dengan tenang, rumah-rumah berdasar jerami yang tersebar di sekitarnya, serta hamparan ladang yang luas semakin memperkuat rasa kenangannya terhadap kehidupan di Belanda. Faktor kedua adalah pengaruh seni Jepang atau yang lebih dikenal dengan istilah Japonisme. Van Gogh bersama saudaranya Theo telah mengumpulkan koleksi cetakan kayu Jepang yang cukup banyak, terutama karya-karya dari seniman Hiroshige yang menjadi salah satu sumber inspirasinya. Dari seni Jepang ini ia mengambil ide untuk menggunakan warna yang disederhanakan namun kuat, memanfaatkan kontras warna yang mencolok seperti kombinasi antara biru dan kuning, serta membangun komposisi yang dinamis dengan memanfaatkan garis diagonal yang mengarahkan pandangan mata pembaca. Dalam salah satu suratnya kepada Émile Bernard, Van Gogh bahkan menyatakan bahwa warisan seni Jepang terus berkembang dan hidup kembali di Prancis melalui karya-karya seniman seperti dirinya.

   Seri The Langlois Bridge at Arles menjadi karya ikonik bukan tanpa alasan. Pertama, karya ini menjadi perwujudan sempurna dari gaya khas Van Gogh yang mulai matang pada masa itu. Ia dengan terampil menggabungkan berbagai teknik yang dipelajari dari berbagai sumber dengan gaya yang khas dirinya sendiri, seperti penggunaan teknik impasto atau cat yang dioleskan dengan tebal untuk menggambarkan pantulan cahaya secara lebih hidup, serta memanfaatkan teori warna kontras simultan untuk menciptakan kesan yang energik dan menarik. Kedua, karya ini melambangkan periode paling produktif dalam karir seninya di Arles – dalam waktu kurang dari lima belas bulan ia menghasilkan sekitar seratus gambar, lebih dari dua ratus lukisan, dan lebih dari dua ratus surat. Salah satu versi karya ini yang berjudul The Langlois Bridge at Arles with Women Washing bahkan diakui sebagai mahakarya pertama dari masa tinggalnya di Arles. Ketiga, perjalanan karya ini setelah selesai dibuat juga menjadi bagian dari cerita yang menarik. Salah satu versi lukisan pernah direncanakan sebagai hadiah pribadi untuk Hermanus Tersteeg, kepala galeri Goupil yang telah dikenal Van Gogh sejak ia berusia enam belas tahun sebagai asisten di galeri tersebut. Bahkan Van Gogh menambahkan dedikasi khusus untuk Tersteeg tepat di atas tanda tangannya, namun untuk alasan yang tidak diketahui dengan jelas, lukisan tersebut tidak sampai ke tangan Tersteeg dan dedikasinya kemudian dihapus. Karya ini kemudian berpindah tangan beberapa kali sebelum akhirnya menemukan tempat tinggalnya di museum-museum besar dunia seperti Kröller-Müller Museum di Otterlo Belanda, Van Gogh Museum di Amsterdam, hingga Wallraf-Richartz Museum di Köln Jerman. 

 


   Jembatan Langlois asli yang menjadi inspirasi Van Gogh akhirnya dibongkar pada tahun 1931, dan jembatan penggantinya yang terbuat dari beton bertulang kemudian dihancurkan oleh tentara Jerman pada tahun 1944 saat mereka mundur dari wilayah tersebut. Meskipun demikian, untuk menghormati warisan seni yang ditinggalkan Van Gogh, pada tahun 1962 dibuatkan replika jembatan yang kemudian diberi nama Pont Van-Gogh, meskipun lokasinya berada sekitar tiga kilometer dari lokasi aslinya. Kini karya ini terus mendapatkan perhatian dunia, salah satu versi lukisan dari Kröller-Müller Museum telah melalui pemeriksaan konservasi yang cermat dan akan menjadi pusat pameran besar bertajuk The Grand Van Gogh Exhibition di Jepang pada tahun 2027, yang akan diselenggarakan secara bergantian di Kobe City Museum, Fukushima Prefectural Museum of Art, dan Ueno Royal Museum di Tokyo. Seperti halnya jembatan yang menghubungkan dua tempat yang berbeda, karya The Langlois Bridge at Arles juga berhasil menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan budaya Belanda dengan Prancis dan Jepang, serta menghubungkan hati setiap orang yang melihatnya dengan keindahan seni yang abadi.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id