Breaking News

Komisi III DPRD Nagekeo Soroti Lambannya Respons BPBD, Jalan Kotakeo–Pusu Ua Dibiarkan Pasca Longsor


Nagekeo - mgn.id. Sorotan tajam datang dari Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Nagekeo, Yosua Aurelius Mona. Politisi dari PAN itu secara terbuka meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nagekeo agar tidak lagi bersikap lamban dalam merespons kondisi jalan segmen Kotakeo–Pusu Ua yang hingga kini masih menyisakan material longsor dan kerusakan serius pasca bencana.

Menurutnya, situasi ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan warga. Jalan tersebut merupakan nadi penghubung aktivitas masyarakat mulai dari distribusi hasil pertanian, akses pelajar menuju sekolah, hingga mobilitas pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Ketika negara lambat hadir, yang dipertaruhkan adalah nyawa dan ekonomi rakyat kecil.

“Ini bukan jalan alternatif yang bisa ditunda-tunda. Ini akses utama. Kalau dibiarkan, risikonya bukan hanya kerusakan bertambah, tapi potensi korban,” tegasnya.

Ia menilai respons yang terkesan menunggu dan minim langkah konkret justru memperlihatkan lemahnya manajemen tanggap darurat. Dalam kondisi pasca bencana, setidaknya ada tindakan awal yang harus segera dilakukan: pembersihan material longsor, normalisasi drainase, pemasangan rambu peringatan, hingga kajian cepat terhadap titik rawan susulan.

Yosua juga mempertanyakan standar operasional prosedur (SOP) tanggap darurat yang semestinya dijalankan. Jika status darurat sudah diketahui, mengapa langkah cepat belum terlihat signifikan di lapangan? Apakah kendala anggaran, koordinasi, atau justru kelalaian administratif?

Komisi III, lanjutnya, tidak akan tinggal diam. Fungsi pengawasan DPRD akan dimaksimalkan agar tidak ada pembiaran yang berlarut-larut. Ia bahkan membuka opsi pemanggilan resmi terhadap instansi terkait untuk meminta penjelasan terbuka mengenai progres penanganan.

“Bencana memang tidak bisa diprediksi, tetapi respons pemerintah seharusnya bisa dipastikan. Jangan sampai masyarakat merasa sendirian menghadapi dampaknya,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah daerah bahwa publik tengah menunggu bukti kerja nyata, bukan sekadar pernyataan normatif. Jalan Kotakeo–Pusu Ua bukan hanya soal aspal yang tergerus, tetapi cerminan seberapa cepat negara bergerak ketika rakyat membutuhkan.

(James Bisara)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id