Breaking News

Hasan Aidid: Tokoh Islam dengan Gelar Singa Podium Oleh Hamid Nabhan

   Hasan Aidid adalah salah satu sosok tokoh yang berjasa dalam dunia politik dan dakwah Islam di Indonesia pada abad ke-20. Keberadaannya tidak hanya dikenal melalui peran organisasinya, tetapi juga karena kemampuan berpidato yang luar biasa hingga mendapatkan gelar Singa Podium. Hasan Aidid lahir di pulau Bonerate, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, pada awal dekade 1910-an. Darahnya mencerminkan perpaduan budaya Nusantara dan Arab – dari pihak ayahnya berasal garis keturunan Arab, sementara ibunya merupakan orang asli Sulawesi Selatan. Dalam kehidupan rumah tangganya, ia menikahi Hj. Zubaidah Daeng Sikati yang berasal dari kalangan keluarga kerajaan Bugis, menjadikan latar belakang keluarganya semakin terkait dengan berbagai lapisan masyarakat. Sebelum terjun ke ranah politik dan dakwah, Hasan Aidid pernah menjadi seorang pelaut dan bahkan terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia pada akhir tahun 1940-an. Pengalaman tersebut membentuk karakternya yang tegas dan memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam.

   Dalam karirnya, Hasan Aidid menjabat sebagai Ketua Cabang Partai Masyumi di Surabaya dan juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Front Anti-Komunis (FAK) untuk wilayah Jawa Timur, dengan Ketua Utamanya KH Isa Anshari. Kontribusinya juga tercatat ketika ia terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) setelah Pemilihan Umum tahun 1955. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses dan dai yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satu peristiwa yang membuat namanya terdengar luas adalah peristiwa di Alun-Alun Kota Malang pada tanggal 28 Maret 1954. Pada saat itu, ia menghadiri rapat akbar yang digelar Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dihadiri oleh ratusan ribu orang, termasuk juga perwakilan dari Partai Komunis Australia. Kejadian panas terjadi ketika ada perbedaan pandangan yang mendalam terkait ucapan dalam pidato acara tersebut. Berbagai sumber memberikan versi berbeda mengenai awal mula kekisruhan, namun akhirnya situasi mereda setelah pihak terkait memberikan klarifikasi dan permohonan maaf. Cerita tentang keberaniannya dalam menghadapi kondisi tersebut bahkan pernah diceritakan oleh Sobron Aidit, adik dari tokoh PKI DN Aidit, yang menyebutkan bahwa Hasan Aidid menuntut maaf karena merasa pidato tersebut menghina Islam.

   Sebelum akhir hayatnya, Hasan Aidid tetap aktif dalam dunia dakwah dengan bergabung di Dewan Da’wah Islamiah Indonesia (DDII) yang dipimpin oleh M. Natsir di Jakarta. Selama hidupnya, ia pernah menetap di beberapa kota, antara lain Tegal di Jawa Tengah, kawasan  Ampel di Surabaya, dan terakhir di Gresik. Ia meninggal dunia di Mekkah, Arab Saudi, pada bulan Oktober 1979 ketika sedang melaksanakan ibadah haji. Hasan Aidid meninggalkan empat anak – satu putri dan tiga putra – yang sebagian besar tinggal di Gresik dan sebagian lagi kembali ke tanah kelahirannya di Bonerate.

Catatan Kaki

¹ Informasi mengenai latar belakang keluarga, aktivitas akhir hidup, cerita peristiwa dengan DN Aidit, serta jabatan sebagai Wakil Ketua FAK bersumber dari narasi keluarga Hasan Aidid yang diterbitkan pada https://islaminindonesia.wordpress.com/2014/04/10/hasan-aidid-the-lion-of-podium/ dan komentar Muhammad Aidid di https://softoh-jamaah.blogspot.com/2007/10/senja-di-pelabuhan-kecil.html

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id