Banyak orang Indonesia mengira bahwa dukungan kita terhadap Palestina hanya karena ikatan agama atau semata rasa persahabatan belaka. Padahal sejarah mencatat bahwa Palestina memiliki andil nyata dalam perjuangan kemerdekaan tanah air kita, bukan sekadar omongan, melainkan fakta yang tercatat dalam lembaran sejarah Republik Indonesia. Bahkan, Presiden Sukarno pernah menyatakan, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah Bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”
Palestina secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia jauh sebelum kita resmi merdeka, tepatnya pada 6 September 1944, setahun sebelum proklamasi 17 Agustus 1945. Pengakuan itu disampaikan Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (Mufti Palestina) melalui siaran radio dari Berlin Jerman, berdasarkan janji kemerdekaan yang diumumkan Perdana Menteri Jepang Koiso.
Di tengah dukungan tersebut, muncul sosok yang menjadi jembatan perjuangan antara Indonesia dan Palestina: Muhammad Ali Taher (juga dikenal sebagai Mohamed Ali Eltaher). Ia lahir di Nablus, Palestina pada tahun 1896, kemudian hijrah ke Mesir pada tahun 1912. Tidak hanya menjadi saudagar kaya, ia juga dikenal sebagai tokoh utama gerakan nasionalis Arab dan dijuluki “Raja Media Palestina” karena mendirikan serta mengelola sejumlah surat kabar ternama di dunia Arab, seperti Ashoura, Al-Shabab, Al-Alam Al-Masri, dan Al Minhaj. Pada tahun 1921, ia mendirikan Kantor Informasi Palestina Arab dan Komite Palestina di Kairo yang diberi nama Dar Ashoura — sebuah pusat pertemuan bagi aktivis, intelektual, dan tokoh dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tokoh-tokoh Indonesia seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, dan Mohamad Zein Hassan pernah mengunjungi tempat itu untuk membahas perjuangan kemerdekaan. Selain itu, diplomate Indonesia seperti A.R. Baswedan — yang kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan era Orde Lama — juga terlibat dalam upaya lobi di negara-negara Arab untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan. Dalam bukunya “Seratus Tahun Haji Agus Salim”, A.R. Baswedan secara khusus menyebutkan Muhammad Ali Taher dengan penuh penghargaan: “Wartawan itu adalah M. Ali Attahir, seorang Palestina yang terkenal karena surat kabarnya yang bernama Asyyura. Jauh sebelum perjanjian ditandatangani, sampai bertahun-tahun sesudahnya, ia selalu membantu perjuangan kita.”
Melalui media yang ia kelola, Muhammad Ali Taher menyebarkan berita tentang perjuangan Indonesia ke seluruh kawasan Timur Tengah, sehingga banyak negara Arab mulai mengenal dan mendukung perjuangan kita. Bahkan surat kabar ternama Mesir Al-Ahram ikut menyebarkan berita kemerdekaan Indonesia berkat upayanya.
Ketika Indonesia menghadapi kesulitan keuangan untuk menjalankan diplomasi luar negeri pasca-proklamasi, terutama saat Agresi Militer II Belanda pada akhir tahun 1948, Muhammad Ali Taher mengambil seluruh kekayaannya dari Bank Arabia dan menyerahkannya langsung kepada Mohamad Zein Hassan tanpa meminta tanda bukti atau imbalan apapun. Ia berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.”
Berkat dukungan materi dan diplomasi yang dilakukan bersama Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Mesir menjadi negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946. Pengorbanan Muhammad Ali Taher tidak terlupakan oleh pemerintah Indonesia; pada tahun 1973, Presiden Soeharto menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana sebagai bentuk apresiasi atas jasanya yang luar biasa bagi kemerdekaan tanah air kita.
Kisah ini menjadi bukti bahwa kontribusi Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sekadar omongan belaka. Mereka adalah negara yang pertama kali mengakui dan membantu kita meraih kemerdekaan. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang menghargai sejarah, sudah seharusnya kita tetap berdiri bersama Palestina dalam setiap tantangan yang mereka hadapi hingga kini.
Surabaya, 12 Maret 2026

Social Header