Kehilangan adalah salah satu pengalaman paling mendalam yang bisa dirasakan manusia, terutama ketika datang dalam usia yang masih sangat muda. Bagi seniman Norwegia yang dikenal dunia, Edvard Munch, kehilangan ini bukan hanya menjadi bagian dari hidupnya, melainkan juga menjadi sumber inspirasi utama yang membentuk karya-karya seninya yang paling ikonis. Salah satunya adalah lukisan The Dead Mother—suatu perwujudan yang kuat dari kesedihan dan kenangan pahit yang membayangi masa kecilnya.
Pada tahun 1868, ketika Edvard baru berusia lima tahun, ibunya Laura Catherine Bjolstad meninggal karena penyakit tuberkulosis. Kematian ibu menjadi titik balik dalam hidupnya—dulu rumah yang penuh keceriaan dan kreativitas berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesedihan dan ketakutan. Ayahnya, seorang dokter yang sangat religius, mengatasi duka dengan cara yang ekstrem: ia sering menanamkan rasa takut akan hukuman di Neraka ke dalam hati anak-anaknya, bahkan menyatakan bahwa ibunya yang telah meninggal sedang menangisi kesalahan mereka dari surga. Tragedi tidak berhenti sampai di situ. Ketika Edvard berusia 14 tahun, saudara perempuannya yang paling dicintai, Sophie, juga wafat karena penyakit yang sama—tuberkulosis. Pengalaman melihat kedua wanita tercinta dalam hidupnya menghadapi kematian yang lambat dan menyakitkan menjadi bekas mendalam yang tidak pernah hilang dari ingatannya. Edvard sendiri pernah mengaku, "Penyakit, kegilaan, dan kematian adalah malaikat hitam yang mengawasi buaianku dan telah mengikutiku sepanjang hidup."
The Dead Mother bukan hanya sebuah lukisan tunggal, melainkan sebuah motif yang Edvard eksplorasi berulang kali sepanjang kariernya—dari sketsa awal tahun 1889 hingga versi lengkap yang dibuat antara tahun 1897-1900. Setiap versi merupakan cerminan dari bagaimana kenangan masa kecilnya terus menghantui dan membentuk pandangannya tentang hidup dan kematian. Dalam versi yang dibuat tahun 1897-1899 dan kini berada di Munch Museum Oslo, Edvard menggambarkan seluruh ruangan tempat ibunya wafat. Di latar belakang, anggota keluarga berduka dengan cara masing-masing—wajah mereka tidak jelas terlihat, seolah menunjukkan bahwa rasa sakit masing-masing adalah sesuatu yang pribadi dan sulit dilihat orang lain. Namun fokus utama ada di anak perempuan di bagian depan yang mengenakan gaun merah—warna yang melambangkan rasa sakit, kemarahan, dan emosi yang kuat. Anak tersebut menutup telinga dengan wajah penuh ketakutan dan syok, mulut terbuka seolah sedang menangis atau berteriak. Banyak sejarawan seni percaya bahwa anak dalam lukisan ini adalah perwujudan diri Edvard sendiri, atau mungkin saudara perempuannya Sophie. Kisah keluarga mengatakan bahwa setelah ibunya meninggal, Edvard mencari-cari ibunya sampai ke bawah tempat tidur karena tidak bisa menerima bahwa ibunya sudah tidak ada lagi. Sophie yang baru berusia enam tahun saat itu adalah yang memberitahunya bahwa ibunya sudah pergi ke surga. Lukisan ini menjadi cerminan dari perasaan bingung, tersesat, dan kesendirian yang dirasakan Edvard saat kecil.
Beberapa tahun kemudian, Edvard membuat versi lain yang lebih sederhana namun tidak kalah kuatnya, yang kini berada di Kunsthalle Bremen. Komposisi menjadi lebih dekat, hanya menampilkan anak dan ibu yang telah meninggal. Anak tersebut kini mengenakan gaun warna biru muda—warna yang lebih dingin dan tenang, namun tetap menyampaikan rasa kesedihan yang mendalam. Ekspresinya tidak lagi penuh ketakutan ekstrem, melainkan lebih ke arah penyangkalan dan ketegasan. Perubahan ini mungkin mencerminkan bagaimana Edvard bekerja melalui kenangan traumatisnya dari waktu ke waktu. Meskipun rasa sakit tetap ada, intensitas emosi awal mulai mereda, dan ia mulai melihat pengalaman tersebut dengan perspektif yang lebih dalam. Warna yang digunakan juga menjadi lebih suram—kulit ibu yang pucat hampir menyatu dengan bantal putih, sedangkan warna dinding yang kehijauan memberikan kesan dingin dan sepi.
Edvard tidak pernah ingin menggambarkan kematian secara realistis. Sebagai seorang seniman ekspresionis, ia lebih fokus pada penyampaian emosi daripada detail fisik. Dalam The Dead Mother, ia menggunakan garis yang tidak rata dan warna yang tidak seimbang untuk menciptakan suasana yang tegang dan penuh emosi. Anak yang menatap langsung ke arah penonton membuat kita sebagai pemirsa merasa terlibat secara pribadi—seolah kita sedang menyaksikan momen paling menyakitkan dalam hidup seorang anak. Bayangan yang menghubungkan anak dengan ibu yang telah meninggal menjadi simbol dari hubungan yang tidak pernah terputus antara seorang anak dengan ibunya, bahkan setelah kematian memisahkan mereka.
The Dead Mother bukan hanya sebuah lukisan tentang kematian, melainkan perwujudan yang mendalam dari kesedihan dan kenangan masa kecil Edvard Munch. Setiap goresan kuasnya membawa kita masuk ke dalam dunia pikirannya yang penuh dengan rasa sakit, namun juga dengan keinginan untuk memahami dan mengolah trauma tersebut melalui seni. Melalui karya ini, Edvard menunjukkan bahwa rasa sakit tidak selalu menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Kadang kala, rasa sakit tersebut bisa menjadi sumber kekuatan yang menghasilkan karya-karya seni yang mampu menyentuh hati banyak orang dan menjadi jembatan antara pengalaman pribadi dengan makna universal tentang kehilangan dan cinta.


Social Header